Cuaca Ekstrem di Surabaya Kembali Makan Korban, Emak-emak Tewas Tertimpa Tembok Bangunan Kosong

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, mengatakan kecepatan angin di Surabaya bahkan tercatat mencapai 52 kilometer per jam atau sekitar 20 knot.

06 Mar 2026 - 17:31
Cuaca Ekstrem di Surabaya Kembali Makan Korban, Emak-emak Tewas Tertimpa Tembok Bangunan Kosong
Sebuah bangunan bekas toko di Kebraon Surabaya roboh dan menimpa seorang nenek (Istimewa)

SURABAYA, SJP - Cuaca ekstrem yang melanda Kota Surabaya kembali menelan korban jiwa. Hujan deras disertai angin kencang pada Jumat (6/3/2026) siang menyebabkan sebuah tembok bangunan kosong di kawasan Kebraon Indah Permai, Karang Pilang, ambruk dan menimpa seorang pengendara motor perempuan hingga akhirnya meninggal dunia.

Korban diketahui berinisial LW (47), warga Balas Klumprik, Wiyung, Surabaya. Saat kejadian, ia tengah mengendarai sepeda motor Honda Beat berwarna hijau muda untuk menjemput anaknya yang sedang mengikuti les privat bahasa Inggris di sekitar lokasi.

Insiden tersebut terjadi ketika hujan deras disertai angin kencang melanda kawasan Surabaya bagian barat. Tembok bangunan kosong yang sebelumnya diduga merupakan sebuah toko yang sudah lama terbengkalai tiba-tiba roboh dan menimpa korban yang melintas di jalan tersebut.

Ketua RW 13 Kebraon, Setiagil (57), menjelaskan bahwa korban tertimpa dinding bangunan yang cukup besar. Bangunan tersebut merupakan bekas bangunan kosong yang telah lama tidak terpakai.

“Iya, korban tertimpa dinding bekas bangunan kosong. Kalau bangunannya sendiri lumayan besar, sekitar 15 meter dan panjang sekitar 30 meter, itu udah lama terbengkalai,” ujar Setiagil, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, dinding yang tersusun dari batu bata merah itu roboh secara tiba-tiba ketika cuaca buruk melanda kawasan tersebut. Tubuh korban yang berada tepat di sisi jalan langsung tertimpa reruntuhan hingga terjerembab dalam posisi tertelungkup.

Saat ditemukan warga, korban diketahui masih bernapas meski dalam kondisi tidak sadarkan diri. Ia juga diduga mengalami luka serius akibat tertimpa reruntuhan tembok.

“Dia pakai helm, tangannya patah kayaknya, lehernya juga kena ambrukan, lalu langsung dibawa ke rumah sakit,” kata Setiagil.

Warga yang berada di sekitar lokasi kemudian segera mengevakuasi korban dan membawanya ke RSU Siti Khadijah Sidoarjo untuk mendapatkan penanganan medis. Namun nahas, nyawa korban tidak berhasil diselamatkan.

Kanit Reskrim Polsek Karang Pilang Polrestabes Surabaya, AKP Kusmianto, membenarkan bahwa korban akhirnya meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke rumah sakit.

“Iya, satu orang pengendara motor dibawa ke rumah sakit dan dikabarkan sudah meninggal dunia,” ujarnya.

Saat ini pihak kepolisian masih melakukan proses visum terhadap korban dengan bantuan Tim Inafis Polrestabes Surabaya di kamar jenazah RSU Siti Khadijah Sidoarjo.

“Kami masih proses visum bersama anggota Tim Inafis Polrestabes Surabaya,” katanya.

Kondisi dinding yang roboh hancur berkeping-keping. Di antara reruntuhan tersebut terlihat serpihan badan sepeda motor milik korban yang remuk akibat tertimpa material bangunan.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut cuaca ekstrem yang melanda Surabaya dan sejumlah wilayah di Jawa Timur pada hari yang sama dipicu oleh peningkatan kecepatan angin yang berada di atas rata-rata.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, mengatakan kecepatan angin di Surabaya bahkan tercatat mencapai 52 kilometer per jam atau sekitar 20 knot.

“Hampir sebagian besar wilayah Jawa Timur terjadi peningkatan kecepatan angin. Tertinggi saat ini dari pantauan kami di Surabaya tercatat 52 kilometer per jam atau 20 knot,” jelasnya.

Menurutnya, kecepatan angin tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang umumnya berada di kisaran 10 hingga 15 knot.

“Kecepatan angin umumnya 10 sampai 15 knot,” ujarnya.

Taufiq menjelaskan fenomena cuaca tidak biasa ini dipicu oleh keberadaan tiga bibit siklon tropis di wilayah selatan Pulau Jawa yang memicu peningkatan kecepatan angin di berbagai wilayah, termasuk Jawa Timur.

“Penyebabnya ada tiga bibit siklon tropis di wilayah selatan 90S, 93S, dan 92P. Tiga bibit siklon ini berkolaborasi sehingga Jawa Timur mengalami dampak tidak langsung,” ungkapnya.

Fenomena peningkatan kecepatan angin ini disebut telah terjadi selama sekitar lima hari terakhir dan diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

“Fenomena ini diperkirakan berlangsung sampai 10 Maret 2026,” kata Taufiq.

Meski demikian, ia menjelaskan bahwa setelah periode tersebut, kondisi cuaca di Jawa Timur secara umum masih berada dalam musim hujan, meskipun sudah melewati fase puncaknya.

“Setelah tanggal 10 kondisinya secara umum masih musim penghujan, tapi sudah tidak berada di puncak musim hujan. Artinya curah hujan masih terjadi hingga akhir Maret di Jawa Timur,” jelasnya.

Cuaca ekstrem yang melanda Surabaya pada hari itu juga memicu sejumlah insiden lain seperti pohon tumbang di Jalan Ahmad Yani arah Sidoarjo, papan reklame roboh di Jalan Frontage Ahmad Yani, serta tiang listrik roboh di Jalan Raya Taman, Sidoarjo. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow