Cotton Bud Bukan Solusi, Dokter Spesialis THT RSUD Haji Ungkap Satu-satunya Cara Aman Bersihkan Telinga

Membersihkan telinga dengan cotton bud justru bisa mendorong kotoran makin dalam dan merusak gendang telinga, kebiasaan sepele yang bisa berujung pada gangguan pendengaran permanen.

20 Oct 2025 - 22:07
Cotton Bud Bukan Solusi, Dokter Spesialis THT RSUD Haji Ungkap Satu-satunya Cara Aman Bersihkan Telinga
Dr. Heru Agus Santoso (kiri), saat melakukan skrining kesehatan telinga pada siswa SDN Kedondong 2, Tulangan, Sidoarjo (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton bud masih dianggap sepele oleh banyak orang. Padahal, cara itu justru bisa mendorong kotoran masuk lebih dalam dan menimbulkan risiko luka bahkan gangguan pendengaran. Apalagi pada anak-anak, struktur telinganya yang masih sensitif membuat tindakan semacam itu bisa berbahaya.

Hal itu dijelaskan oleh Dr. Heru Agus Santoso, Dokter Spesialis THT Bedah Kepala dan Leher RSUD Haji Surabaya, saat kegiatan Skrining Kesehatan Gigi dan Mulut serta THT dalam rangka Bakti Sosial Peringatan HUT ke-80 Provinsi Jawa Timur.

Acara yang digelar di SDN Kedondong 2, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, Senin (20/10/2025) itu merupakan kolaborasi antara RSUD Haji, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dan bersinergi dengan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Dalam skrining kesehatan THT yang dilakukan terhadap siswa sekolah dasar, ditemukan dua masalah yang paling sering muncul, yakni penumpukan kotoran telinga (serumen) dan pembesaran amandel (tonsil).

Kotoran Telinga Justru Melindungi

Menurut dr. Heru, banyak orang keliru dalam memahami fungsi kotoran telinga. Serumen yang tampak seperti lilin itu sebenarnya bermanfaat untuk melindungi liang telinga dari debu dan serangga kecil.

"Serumen itu normal, justru berfungsi menangkap debu dan hewan kecil. Nanti akan keluar sendiri karena posisi telinga memang miring," jelas dr. Heru, Senin (20/10/2025).

Masalah muncul ketika serumen malah didorong masuk ke dalam saat dibersihkan secara mandiri.

Akibatnya, kotoran menumpuk di bagian dalam dan menurunkan kemampuan pendengaran. Bahkan, bila dilakukan dengan cara yang salah, bisa menimbulkan luka hingga robek pada gendang telinga.

"Membersihkan telinga sendiri itu salah. Kalau dipaksakan, bisa lecet, bahkan robek gendangnya. Organ manusia itu kan nggak ada tokonya,” ujarnya.

Teknik Aman Bersihkan Telinga

Dalam kegiatan itu, dr. Heru menemukan sebagian besar anak mengalami serumen lunak, sementara beberapa lainnya memiliki serumen keras yang perlu penanganan lanjutan di puskesmas.

Untuk mengeluarkan kotoran telinga, dokter menggunakan teknik irigasi telinga atau ekstraksi serumen, metode medis yang aman jika dilakukan oleh tenaga kesehatan.

"Kalau serumennya lunak, bisa langsung kita cuci. Tapi kalau keras, jangan dipaksakan, nanti lecet. Kita rujuk ke puskesmas untuk dilunakkan, agar nanti bisa dibersihkan," jelasnya.

Saat ditanya metode aman untuk membersihkan telinga secara mandiri, dr. Heru dengan tegas menjawab tidak ada. Menurutnya, metode yang benar hanyalah dengan rutin memeriksakan kesehatan telinga setiap enam bulan sampai satu tahun sekali ke fasilitas kesehatan.

"Membersihkan mandiri itu hanya menggunakan perasaan saja, tudak tahu apakah telinga bersih atau tidak. Kalau salah, malah bisa menyebabkan luka," katanya menegaskan.

Selain itu, pemakaian headset terlalu sering juga disarankan untuk dibatasi. Meski tidak menyebabkan infeksi, paparan suara keras dalam jangka panjang bisa merusak saraf pendengaran dan mendorong kotoran masuk lebih dalam.

Amandel yang Membesar dan Perlu Diwaspadai

Selain serumen, hasil skrining juga menunjukkan sejumlah siswa mengalami pembesaran amandel. Menurut dr. Heru, amandel sebenarnya merupakan bagian dari cincin Waldeyer, kumpulan jaringan limfoid yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh terhadap kuman.

"Amandel itu termasuk kelenjar limfoid, bagian dari sistem pertahanan tubuh kita," ujarnya.

Namun, amandel bisa menjadi masalah bila ukurannya terlalu besar atau sering mengalami infeksi.

Dalam pemeriksaan, ditemukan beberapa anak dengan ukuran amandel tingkat T3 hingga T4, yang menandakan pembesaran cukup berat dan kemungkinan perlu tindakan operasi bila mengganggu pernapasan atau menyebabkan infeksi berulang.

"Kalau sudah besar sekali dan tidak mengecil lagi, berarti jaringan itu sudah seperti keloid. Sudah tidak berfungsi, malah bisa jadi sumber infeksi," jelasnya.

Dokter Heru juga memberi edukasi kepada anak-anak tentang cara menjaga kesehatan tenggorokan dan amandel. Kuncinya ada pada pola makan dan gaya hidup yang seimbang.

Makanan pemicu infeksi seperti gorengan, makanan instan, atau minuman dingin sebaiknya dibatasi, bukan dihindari total.

"Boleh makan gorengan atau mi instan, tapi jangan berlebihan. Semua yang berlebihan itu tidak baik, sama seperti orang diabetes," pesannya.

Telinga, Pintu Dunia Anak

Lebih jauh, dr. Heru menekankan pentingnya menjaga kesehatan telinga sejak dini. Gangguan pendengaran pada anak kecil bisa berdampak pada kemampuan bicara dan perkembangan sosial mereka.

"Telinga itu salah satu pintu dunia selain mata. Kalau pendengarannya terganggu sejak bayi, anak bisa jadi bisu karena tidak mendapat masukan suara," ujarnya.

Ia pun mengingatkan bahwa pemeriksaan telinga rutin kini bisa dilakukan gratis dengan BPJS, sehingga tidak ada alasan untuk menunda pemeriksaan berkala.

Kegiatan skrining kesehatan di SDN Kedondong 2 itu menjadi contoh bagaimana edukasi medis sederhana bisa berdampak besar bagi masyarakat.

Melalui pemeriksaan langsung dan penjelasan dari dokter spesialis, anak-anak diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan telinga, hidung, dan tenggorokan bukan sekadar dibersihkan, tapi dirawat dengan cara yang benar.

"Kontrol rutin ke fasilitas kesehatan. Jangan dibersihkan sendiri. Karena organ manusia tidak ada gantinya," pungkas dr. Heru. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow