ECOTON Ungkap Bahaya Mikroplastik dalam Teh Celup, Produsen Diminta Ganti Kemasan
Teh celup yang Anda seruput tiap hari bisa mengandung mikroplastik berbahaya. Partikel tak kasat mata ini mampu merusak organ tubuh dan memicu penyakit autoimun.
SURABAYA, SJP - Teh celup telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya minum masyarakat Indonesia. Praktis, murah, dan aromanya menenangkan. Teh celup kerap hadir di meja makan rumah, rapat kantor, hingga jamuan penting.
Namun siapa sangka, di balik kehangatan yang ditawarkan secangkir teh celup, tersembunyi ancaman mengerikan, yakni mikroplastik.
Temuan ECOTON
Sebuah penelitian yang dilakukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON), organisasi konservasi lingkungan yang berbasis di Jawa Timur, membongkar kenyataan mengejutkan.
Mereka menemukan partikel plastik mikro dalam lima merek teh celup terkenal yang beredar di pasar Indonesia. Temuan ini sontak mengguncang dunia maya dan menimbulkan kekhawatiran luas di kalangan konsumen.
"Mikroplastik ini berasal dari bahan kantong teh yang terbuat dari polimer sintetis seperti polietilen (PE) dan nylon," jelas Pihak ECOTON dalam rilis terbarunya.
Masalahnya bukan hanya pada bahan pembungkus teh, melainkan pada bagaimana plastik ini berinteraksi dengan air panas saat proses penyeduhan.
Menanggapi temuan ECOTON, ahli rekayasa proses pangan dari Universitas Kristen Petra (PCU), Ong Lu Ki menjelaskan kantong teh berbahan plastik dapat langsung melepas partikel berbahaya ke dalam seduhan teh.
"Mikroplastik ini seperti ancaman laten saat kita menyeduh teh dengan air panas. Begitu lapisan plastik pada kantong teh terkena air panas, maka langsung melepaskan partikel berbahaya yang kemudian bercampur dengan cairan yang akan kita minum," jelas Ong, Senin (21/4/2025).
Bahaya Mikroplastik
Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Mikroplastik bukan sekadar ‘kotoran’ biasa, melainkan partikel yang sangat kecil dan mampu menembus pembuluh darah manusia.
Jika terus terakumulasi dalam tubuh, mikroplastik dapat mengganggu fungsi organ-organ vital dan memicu efek kesehatan yang serius.
"Bisa mengacaukan fungsi organ vital. Bahkan memicu keracunan. Ancaman paling mengerikan adalah jika ini berlangsung dalam jangka panjang, maka ada potensi untuk memicu penyakit autoimun," tegas Ong dengan nada serius.
Isu ini menjadi semakin krusial karena teh celup dikonsumsi secara luas oleh masyarakat dari berbagai kalangan usia. Ironisnya, banyak konsumen tidak menyadari bahwa kantong teh mereka terbuat dari plastik. Beberapa kantong teh terlihat seperti kertas. Padahal sebenarnya mengandung lapisan plastik sebagai penguat struktur.
"Jika kantong teh terbuat dari plastik atau dilapisi plastik, hampir bisa dipastikan di dalam teh celup tersebut mengandung ancaman mikroplastik," terang Ong.
Pemanfaatan Bahan Alternatif sebagai Solusi
Tantangan selanjutnya adalah bagaimana mendorong produsen untuk segera beralih ke bahan kemasan yang lebih aman. Menurut Ong Lu Ki, solusi teknologis untuk masalah ini sebenarnya sudah tersedia, hanya perlu komitmen dan keseriusan dari industri.
"Produsen bisa menggunakan bahan alami. Seperti serat panjang yang tidak mudah pecah atau berinovasi dengan pelapis yang bisa dicerna tubuh. Seperti pati termodifikasi atau gelatin," sarannya.
Meski demikian, langkah pencegahan juga bisa diambil oleh konsumen sambil menunggu inovasi dari industri. Mengganti kebiasaan menyeduh teh celup dengan metode yang lebih tradisional dan aman bisa menjadi pilihan bijak.
"Penyeduhan daun teh asli dalam teko menggunakan saringan stainless steel atau french press bisa menjadi solusi terbaik," kata Ong.
"Kalau ingin lebih praktis, bubuk ekstrak teh tanpa ampas yang diproses dengan spray drying atau fresh drying juga bisa menjadi alternatif," tambahnya.
Masalah mikroplastik bukan hanya isu kebersihan, tapi juga menyangkut kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Dengan terungkapnya fakta ini, konsumen diharapkan menjadi lebih sadar dan produsen mau mengambil langkah nyata.
Karena barangkali, secangkir teh bukan lagi sekadar soal rasa dan aroma, tetapi juga soal apa yang sebenarnya kita telan bersama hangatnya. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

