Cerita Lansia di Mojokerto, Jahit Pesanan 2 Ribu Bendera Merah Putih
Musim panen berada di bulan Juli, bahkan omzetnya pun tercatat mencapai Rp30 juta pada momentum kemerdekaan tahun ini.
KOTA MOJOKERTO, SJP - Di sebuah rumah sederhana milik Suboko Yuwono (68) yang berlokasi di Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokrerto, suara gemericik mesin jahit terus berbunyi nyaring.
Disusul suara gunting potong dan mesin obras turut menjadi saksi, berkah kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di kota kecil itu benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha rumahan.
Sembari memotong kain bendera, pahlawan pejuang nafkah keluarga ini bercerita, di usia senjanya ia masih bisa memproduksi lebih dari 2.000 bendera dalam kurun waktu 3 bulan terakhir.
Suboko dibantu delapan anggota keluarganya untuk memproduksi bendera dan umbul-umbul, ia bilang bahwa musim panennya berada di bulan Juli hingga awal Agustus.
Suboko telah menekuni usaha rumahannya ini sudah lebih dari 22 tahun. Ia konsisten menekuni pembuatan bendera dan umbul-umbul sekitar tahun 2000 an.
Ia bersama keluarga besarnya berbagi peran, ada yang memotong, menjahit hingga mengobras bendera Merah Putih berbagai ukuran.
"Awalnya iseng-iseng. Alhamdulillah, jalan sampai sekarang," kata Suboko, Rabu (6/8/2025) saat ditemui di rumah sederhana yang sekaligus dibuatnya untuk produksi.
Ia melanjutkan ceritanya, bendera dan umbul-umbul yang ia buat ternyata banyak pesanan dari luar daerah.
Karyanya itu tak hanya laris manis dipesan oleh masyarakat Mojokerto, namun juga diminta oleh pasar Jombang, Kediri, Malang hingga Blitar.
Harga bendera yang ia produksi bervariasi, mulai dari Rp2.500 untuk ukuran kecil, hingga Rp275 ribu untuk ukuran besar.
Ia menyebut, ada enam motif bendera dan delapan motif umbul-umbul yang ia tawarkan dipasaran, meskipun ia bisa saja memproduksi model sesuai pesanan.
Musim panen berada di bulan Juli, bahkan omzetnya pun tercatat mencapai Rp30 juta pada momentum kemerdekaan tahun ini. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

