Bukan Pemerintah, Cerita Lirih Sopir Angkot Usai Penutupan Jembatan Sentong Bondowoso Jadi Perhatian Wartawan dan Polisi
Penutupan Jembatan Sentong di Bondowoso berdampak besar pada penghasilan para sopir angkot yang harus memutar lebih jauh dengan biaya bahan bakar yang meningkat. Melihat kondisi tersebut, PWI Bondowoso bersama Polres Bondowoso menggelar Safari Sedekah Ramadan dengan memberikan santunan kepada puluhan sopir angkot yang terdampak secara ekonomi.
BONDOWOSO, SJP – Cerita lirih para sopir angkutan kota (angkot) yang terdampak penutupan Jembatan Sentong akhirnya mendapat perhatian. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bondowoso berkolaborasi dengan Polres Bondowoso menggelar kegiatan Safari Sedekah Ramadan dengan memberikan santunan kepada puluhan sopir angkot di Mapolsek Kota Bondowoso, Senin (9/3/2026).
Kegiatan sosial ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap para sopir yang penghasilannya merosot sejak Jembatan Sentong di Kelurahan Nangkaan ditutup karena kerusakan.
Sejak penutupan jembatan tersebut, seluruh kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, harus dialihkan melalui jalur alternatif yang melewati Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Curahdami, hingga tembus di Desa Kembang.
Jalur memutar itu membuat waktu tempuh menjadi lebih lama dan kebutuhan bahan bakar meningkat. Pengendara mobil bahkan harus melalui Desa Pakuwesi dengan waktu perjalanan sekitar 30 menit.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan para sopir angkot, khususnya jurusan Bondowoso–Arjasa. Selain penumpang yang semakin sepi, mereka juga harus memutar lebih jauh sehingga biaya operasional membengkak.
“Sejak penutupan Jembatan Sentong, dampaknya sangat terasa bagi kami para sopir angkot. Pendapatan menurun drastis, sementara kebutuhan bahan bakar justru meningkat,” kata Rahmat, salah seorang sopir angkot.
Rahmat mengenang masa ketika angkot masih menjadi moda transportasi utama masyarakat. Saat itu, jumlah penumpang cukup ramai sehingga biaya operasional masih bisa tertutupi dari ongkos yang diterima.
“Kalau dulu kenaikan harga BBM masih bisa tertutup dari penumpang. Sekarang sudah sangat berat. Bahkan kebutuhan BBM bisa meningkat sampai empat atau lima kali lipat karena harus memutar jalur lebih jauh,” imbuhnya.
Cerita lirih sopir angkot di tengah himpitan ekonomi menjelang Lebaran tahun ini, ternyata masih belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Oleh sebab itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bondowoso bersama Polres, tergerak untuk memberikan santunan uang dan sembako kepada puluhan sopir angkot.
Ketua PWI Bondowoso, Sinca Ari Pangestu, mengatakan kerusakan jembatan membuat para sopir angkutan dan pelaku usaha harus memutar lebih jauh sehingga biaya operasional, terutama bahan bakar, menjadi semakin tinggi.
“Sejak jembatan ambles, para sopir harus memutar lebih jauh. Otomatis biaya BBM makin mahal. Karena itu kami bersama Polres Bondowoso dan rekan-rekan jurnalis ingin sedikit berbagi rezeki. Mudah-mudahan apa yang kami berikan bisa bermanfaat dan sedikit meringankan beban bapak ibu semua,” ujar Sinca.
Ia menjelaskan, kegiatan sosial tersebut juga berawal dari hasil liputan para jurnalis di lapangan yang kemudian disampaikan kepada pihak kepolisian hingga akhirnya terwujud kegiatan santunan bagi masyarakat terdampak.
“Ini berawal dari liputan teman-teman jurnalis di lapangan. Kami sampaikan kepada pemangku kebijakan, dalam hal ini Kapolres. Alhamdulillah ditanggapi dengan baik hingga akhirnya lahirlah kegiatan berbagi pada sore hari ini,” jelasnya.
Menurutnya, lokasi pangkalan para sopir angkot juga telah dipindahkan sementara agar jarak tempuh tidak semakin jauh.
“Biasanya pangkalan sopir berada di sisi selatan jembatan. Sekarang dipindah ke Nangkaan agar tidak terlalu memutar dan biaya BBM bisa sedikit berkurang,” tambahnya.
Sementara itu, Wakapolres Bondowoso, Kompol I Gede Suartika, berharap masyarakat tetap bersabar sambil menunggu proses penanganan dari pemerintah.
“Memang ini kejadian yang tidak kita harapkan. Namun kita berharap penanganannya bisa segera dilakukan. Bahkan, kami sudah bersurat ke PU Provinsi agar ada pembangunan jembatan darurat, khususnya untuk sepeda motor dan pejalan kaki, bisa segera dilaksanakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, nantinya akan dibuat jalur alternatif agar arus lalu lintas tidak terlalu padat akibat pengalihan kendaraan.
“Rencananya sepeda motor akan dibuatkan jalur alternatif melalui jembatan kecil di sekitar lokasi, sehingga kendaraan roda empat bisa tetap melalui jalur utama jalan alternatif dan tidak terjadi penumpukan,” katanya.
Selain itu, Kompol Gede juga menegaskan bahwa kepolisian selalu terbuka bagi masyarakat yang ingin menyampaikan keluhan atau aspirasi.
“Polisi ini milik masyarakat. Jika ada keluhan atau persoalan, silakan datang. Rumah dinas saya terbuka 24 jam untuk masyarakat. Mari kita jaga kebersamaan ini, karena polisi, media, dan masyarakat adalah satu kesatuan,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

