Makam Panjang Gresik: Jejak Islam Tertua di Asia Tenggara yang Kini Jadi Cagar Budaya Nasional
Situs makam panjang tersebut dikenal dengan Makam Siti Fatimah binti Maimun yang terletak di dalam sebuah cungkup. Cungkup tersebut berbahan batu kapur yang diyakini diambil dari gunung Suci, sebuah perbukitan yang tidak jauh dari lokasi makam yakni di Desa Suci Kecamatan Manyar.
GRESIK, SJP - Kabupaten Gresik, Jawa Timur, menyimpan berbagai bukti jejak sejarah penyebaran Islam tertua di Pulau Jawa, salah satunya situs makam panjang yang berada di Desa Leran, Kecamatan Manyar.
Situs makam panjang tersebut dikenal dengan Makam Siti Fatimah binti Maimun yang terletak di dalam sebuah cungkup.
Cungkup tersebut berbahan batu kapur yang diyakini diambil dari gunung Suci, sebuah perbukitan yang tidak jauh dari lokasi makam yakni di Desa Suci Kecamatan Manyar.
Berbeda dengan bangunan makam aulia pada umumnya, cungkup tersebut dibangun menyerupai sebuah candi pada masa Hindu-Budha.
Siti Fatimah binti Maimun disebut-sebut sebagai salah satu penyebar Islam pertama di tanah Jawa.
Dari catatan yang oleh Kemdikbud, berdasarkan prasasti batu yang ditemukan di makamnya, ia wafat pada tahun 1082 M, lebih dari tiga abad sebelum Wali Songo mulai berdakwah.
Perempuan bangsawan ini diperkirakan datang bersama rombongan dari wilayah Malaka yang berlabuh di pesisir Gresik.
Membawa keyakinan baru ke tanah yang masih memegang erat ajaran Hindu-Buddha.
Namun, perjalanan dakwahnya tak berlangsung lama. Sebuah wabah pagebluk menyerang wilayah Leran, merenggut nyawa Fatimah dan empat dayangnya.
Di usianya yang baru menginjak 18 tahun, ia berpulang, jauh dari tanah kelahirannya.
Juru kunci Makam Panjang, Ainur Rofi’ah, menceritakan bahwa makam Siti Fatimah binti Maimun ini sebelumnya sangat memprihatinkan.
Makamnya sempat tertutup tanah sebelum akhirnya dipugar dan ditetapkan sebagai salah satu kawasan cagar budaya peringkat nasional.
Atas keputusan cagar budaya tersebut, bahkan makam Siti Fatimah binti Maimun ditetapkan sebagai makam islam tertua di Asia Tenggara.
"Sekarang cungkupnya terlihat lebih rapi, tapi bentuk aslinya tetap dipertahankan. Di sini juga banyak makam-makam tua lainnya,” kata Ainur, Senin (9/3/2026).
Ainur menjelaskan perawatan sudah dilakukan beberapa kali agar situs bersejarah ini tetap terjaga.
Pengelolaan kawasan makam panjang ini dilakukan secara langsung oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan yang sekarang berubah nama menjadi Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XI Jawa Timur sejak tahun 1973.
Setiap tahun, di pertengahan Syawal, masyarakat sekitar menggelar haul untuk mengenang Siti Fatimah binti Maimun.
"Orang-orang percaya beliau membawa berkah bagi tempat ini,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

