Bondowoso Perkuat Ketahanan Keluarga Lewat Jaringan Puspaga Berbasis Pesantren
Program Capacity Building Puspaga Bersama Pemkab Bondowoso bertujuan memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kemampuan pengelola layanan perlindungan anak dan perempuan, serta melibatkan pesantren dan masyarakat untuk memperluas akses konseling, edukasi pengasuhan, dan pencegahan kekerasan hingga tingkat desa.
BONDOWOSO, SJP – Pemerintah Kabupaten Bondowoso terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan ketahanan keluarga melalui program unggulan Bupati Abdul Hamid Wahid, Kasih Bunda (Kawal Anak Sehat Bahagia untuk Bondowoso Berdaya).
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Capacity Building dan Fasilitasi Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Berbasis Pesantren dan Masyarakat (Bersama) yang digelar selama tiga hari, 25–27 November 2025.
Kegiatan ini menyasar pengurus dan anggota Puspaga Bersama di Kecamatan Bondowoso, Pakem, Tamanan, Prajekan dan Pujer, dengan tujuan memperkuat kapasitas pendamping keluarga sekaligus memperluas layanan konseling dan perlindungan perempuan serta anak hingga ke tingkat desa.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Bondowoso, Muhammad Imron, menegaskan bahwa pelatihan tersebut bukan sekadar rutinitas, tetapi langkah strategis menuju terwujudnya visi besar ‘Kasih Bunda’.
“Capacity Building ini adalah investasi penting untuk memastikan setiap anak di Bondowoso tumbuh sehat, bahagia, dan terlindungi. Dengan melibatkan pesantren dan tokoh masyarakat, kita membangun jejaring kuat agar masalah keluarga dapat diselesaikan sejak dini,” ujarnya saat membuka kegiatan di Balai Desa Pancoran, Rabu (26/11/2025).
Pria yang pernah menjabat Kepala Dinas Kesehatan ini juga menjelaskan, kegiatan tersebut menghadirkan pengurus pesantren, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan relawan yang nantinya menjadi perpanjangan tangan Puspaga di wilayah masing-masing.
“Mereka dibekali kemampuan memberikan layanan konseling sebaya, edukasi pengasuhan positif, dan rujukan awal bagi keluarga yang membutuhkan, terutama terkait isu sensitif perempuan dan anak,” imbuhnya.
Sebagai narasumber, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Hafidhatullaily, menjelaskan, pendekatan berbasis komunitas dipilih karena dinilai lebih efektif dan dekat dengan masyarakat.
“Model Puspaga berbasis pesantren dan masyarakat ini sangat strategis. Pesantren punya pengaruh moral dan sosial yang kuat, sementara basis masyarakat memastikan layanan mudah dijangkau,” jelasnya.
Ia berharap setiap Puspaga yang telah difasilitasi dapat menjadi pusat rujukan keluarga, mulai dari konseling keluarga, pendidikan pengasuhan, hingga layanan perlindungan.
“Ini bukti nyata komitmen pemerintah daerah menjadikan ketahanan keluarga sebagai pilar pembangunan sumber daya manusia dan mewujudkan Bondowoso Berdaya,” tandasnya.
“Kami optimistis layanan Puspaga akan semakin maksimal dan mampu menjadi garda terdepan dalam menciptakan keluarga yang lebih kuat, harmonis, dan terlindungi,” pungkasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

