Bianglala Alun-alun Kota Batu Dipastikan Tak Beroperasi di Malam Nataru
Dengan kondisi saat ini, Pemkot memastikan bianglala tidak akan beroperasi dalam waktu dekat. Warga maupun wisatawan harus bersabar hingga proses penggantian wahana benar-benar siap dilaksanakan pada tahun anggaran berikutnya.
KOTA BATU, SJP - Bianglala Alun-alun Kota Batu dipastikan tidak akan beroperasi di akhir malam Natal dan Tahun Baru (Nataru). Penundaan penggantian wahana yang sudah berhenti berputar sejak 2022 itu membuat wisatawan dipastikan tidak bisa menikmati ikon Alun-alun Batu saat liburan nanti
Wali Kota Batu, Nurochman pada Senin (17/11/2025) menegaskan, penghentian operasional bianglala tahun ini bukan tanpa alasan. Pemkot Batu harus melakukan penyesuaian anggaran menyusul kebijakan pemangkasan dana transfer daerah pada 2025 yang mencapai Rp168,8 miliar.
“Kondisi anggaran tahun ini sangat berat. Kami harus memastikan prioritas tetap pada sektor yang lebih mendesak. Karena itu, bianglala belum bisa beroperasi dan penggantiannya ditunda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meski tertunda, proses pembaruan wahana tetap berjalan di balik layar. Saat ini pemerintah tengah menuntaskan detail engineering design (DED) untuk bianglala baru, yang ditargetkan rampung akhir tahun. Selain itu, Pemkot juga menyiapkan proses lelang fisik wahana lama sebagai syarat sebelum pengadaan unit baru.
Sebelumnya, Pemkot Batu berencana mengganti bianglala pada 2025 dengan anggaran Rp7 miliar menggunakan APBD. Namun karena kondisi fiskal berubah, anggaran tersebut dialihkan ke sektor yang dianggap lebih strategis.
“DED sedang diselesaikan dan FS akan rampung awal Desember. Kami pastikan tidak ada pembatalan, hanya penjadwalan ulang. Semua harus tertib administrasi, termasuk lelang aset bianglala lama,” imbuhnya.
Menurut pria yang akrab disapa Cak Nur ini, Pemkot Batu tahun ini memusatkan belanja pada penanganan sampah dan berbagai program lingkungan. Beberapa proyek prioritas meliputi pembangunan Big Composter di TPA Tlekung, pembangunan 24 rumah kompos untuk melayani hingga seribu kepala keluarga, serta penguatan edukasi gerakan pilah-olah sampah.
“Infrastruktur yang sifatnya wisata terpaksa kami tunda dulu. Fokus kami adalah kebutuhan lingkungan dan pelayanan dasar. Dari sisi teknis maupun waktu, penggantian bianglala tidak memungkinkan dilakukan tahun ini,” tandasnya. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

