Begini Cara Duda Renta Sebatang Kara di Nganjuk Jalani Lebaran 2025

Sejak ditinggal oleh istri tercintanya, pandangan hidup Mbah Paeran terbentur kabut tebal berisi bayangan sang belahan jiwa

04 Apr 2025 - 17:06
Begini Cara Duda Renta Sebatang Kara di Nganjuk Jalani Lebaran 2025
Mbah Paeran (70), warga Desa Banggle, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk saat ditemui di kediamannya pada Jumat, 4 April 2025. (Kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJPSuasana lebaran seharusnya menjadi momentum riang gembira bersama keluarga dan sanak famili. Namun tidak bagi Paeran (70). Duda renta asal Desa Banggle , Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk itu sendirian merenungi Lebaran 2025.

Jangankan untuk membeli baju baru, rumahnya yang berdinding papan saja bolong tidak mampu dia benahi. Bahkan saat hujan, gubuk itu tak ubahnya kardus terciprat air. Tahun ini, dia kembali merayakan Hari Raya Idulfitri tanpa kehadiran orang terkasih.

Mbah Paeran telah menduda selama 4 tahun. Selama 4 tahun terakhir, dia hidup sebatang kara. Sejak saat itu, dia kehilangan arah. Dia makan seadanya. Istri tercintanya terpaksa harus lebih dulu menghadap ilahi setelah puluhan tahun membersamainya.

Begitulah laki-laki ketika ditinggal belahan jiwanya. Bahkan untuk melanjutkan hidup saja dia tidak tahu bagaimana caranya. Di kanan dan kirinya tidak ada yang bisa dijual. Kini Mbah Paeran hanya bisa hidup dari uluran tangan pemerintah dan tetangga desanya.

Sejak kehilangan istri tercintanya, Mbah Paeran memutuskan untuk tinggal sendiri di gubuk tua itu. Meski terdengar menyakitkan, namun dia masih tampak tegar selayaknya seorang lelaki yang memiliki ego dan otot lengan yang sudah tak tampak terselip tulang.

Tapi matanya tidak bisa berbohong. Dia kesepian. Mbah Paeran harus mengakui, bahwa separuh jiwanya telah hilang. Di benaknya pasti terbayang bagaimana indahnya suasana lebaran 4 tahun lalu. Namun kini, dia hanya bisa berkunjung ke makam istrinya.

"Lebaran tahun ini berbeda. Sepi tanpa istri. Namun saya harus tetap tegar untuk menjalani hidup. Anak-anak saya sudah dewasa dan tinggal di kota," ungkapnya kepada Suara Jatim Post di rumahnya dengan mata berkaca-kaca, Jumat (4/4/2025).

Di lain pihak, Ketua RW setempat, Samaji mengungkapkan, meskipun Mbah Paeran hidup sebatang kara, namun dia tidak pernah mengeluh. Bahkan sebenarnya, dia tidak pernah mau merepotkan siapa pun. Namun beruntung, tetangga sekitarnya selalu peduli.

"Kita semua sangat peduli. Dia adalah bagian dari keluarga besar kami di desa," ucap Samaji, Jumat (4/4/2025).

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Banggle, Tarminto mengungkapkan, di desanya ada dua warga kurang mampu. Bahkan dari 2.150 penduduk Desa Banggle, hanya ada dua keluarga yang tergolong miskin ekstrem. Mereka bapak dan anak yang sama-sama duda.

"Ada dua orang yang tergolong ekstrem. Keduanya duda yang sama-sama tidak mampu," ungkapnya, Jumat (4/4/2025).

Kades yang sudah tiga kali menjabat itu menjelaskan, Mbah Paeran telah mendapat bantuan sosial (bansos) dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Nganjuk. Namun bantuan itu hanya berupa makan tiga kali sehari. Selebihnya dibantu oleh tetangga kanan kirinya.

"Kalau masalah bantuan sudah. Ya memang kondisinya Mbah Paeran hidup sendirian," ujar Tarminto.

Tarminto menyebut, dulu Mbah Paeran pernah mendapat bantuan program bedah rumah. Namun sayangnya, dia hanya punya rumah. Dia tetap tidak punya penghasilan. Dia tidak memiliki pekerjaan. Dengan terpaksa, rumahnya pun dijual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

"Kondisi sudah tidak kerja. Tapi kami sebagai pemerintah desa tetap memperhatikan," tuturnya. (*)

Editor: Ali Wafa

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow