Ketika Kenangan Tertuang dalam Kanvas: Kisah Seniman Velita AT yang Hidupkan Kembali Aliran Abstrak Dekoratif
Velita AT merawat kenangan dalam sapuan warna dan garis berani. Baginya, abstrak bukan kekosongan, melainkan kebebasan, dan dalam kebebasan itulah ia terus bercerita melalui kanvas.
SURABAYA, SJP - Pameran Do’a Kasih Rupa di Galeri Seni Prabangkara telah berakhir, namun seperti jejak kuas yang tertinggal di kanvas, kisah yang tersisa tetap meninggalkan sebuah cerita.
Di antara puluhan karya yang terpajang, ada satu karya bertajuk "Doa dan Harapan" yang mencuri perhatian, lukisan tersebut merupakan karya dari perupa muda bernama Velita Ayu Ningtyas, atau yang dikenal dengan nama panggung Velita AT.
Pelukis asal Malang yang kini menetap di Karawang ini membawa warna baru dengan karya beraliran abstrak dekoratif, gaya yang kian jarang ditemui sejak kepergian maestro asal Surabaya, Makhfoed.
Namun, melalui garis-garis berani dan komposisi yang penuh kebebasan, Velita membuktikan bahwa aliran ini masih hidup, bukan sekadar sebagai nostalgia, tetapi juga sebagai ekspresi yang terus berevolusi.
Melukis Masa Kecil, Merawat Ingatan
Bagi Velita, aliran abstrak dekoratif yang ia pilih untuk membuat karyanya kali ini, bukan hanya dipertimbangkan atas dasar estetika saja, melainkan sebagai jendela untuk kembali ke masa kecilnya.
"Ada ingatan-ingatan yang tidak bisa saya ceritakan lewat kata-kata, tapi bisa saya ungkapkan dalam warna dan bentuk," ujar Velita, Minggu (9/2/2025).
"Melukis adalah cara saya merawat kenangan, bukan untuk kembali, tapi untuk memberi makna baru," sambungnya.
Dalam pameran Do'a Kasih Rupa, Velita menampilkan karya yang memadukan kompleksitas detail dengan kebebasan ekspresi. Tak heran, banyak seniman senior yang dibuat kagum dengan caranya mengolah elemen visual.
Diterima dengan Hangat
Kehadiran Velita dalam pameran Do'a Kasih Rupa bukan hanya sekadar menambah daftar nama peserta, tetapi juga menandakan bahwa aliran abstrak dekoratif dan semangat generasi muda dalam dunia seni masih memiliki ruang untuk tumbuh.
Ridwan SS., Ketua Penyelenggara pameran sekaligus perupa senior, melihat bakat Velita sebagai sesuatu yang langka. Menurutnya, hanya satu dari seratus seniman muda yang bisa benar-benar diterima dalam aliran ini, dan Velita termasuk di antaranya.
"Abstrak itu bukan sekadar coretan bebas. Itu intisari dari lukisan. Kalau tidak hati-hati, bisa seperti memasak tanpa resep: kelihatan rumit, tapi rasanya bisa hambar," ujar Ridwan.
Meski menunjukkan kesan yang positif, Ridwan berpesan agar Velita tetap konsisten dalam berkarya, dan tidak terburu-buru mencari pengakuan pasar.
"Tantangan dari seorang kreator adalah menciptakan pasar, bukan mengikuti pasar. Dengan style unik ini sudah menjadi poin plus bagi Velita untuk terjun di dunia seni," pesan Ridwan.
"Karena butuh konsisten untuk bisa dilirik para kolektor. Pameran dari waktu ke waktu dan karya yang cukup banyak adalah jawaban nya. Jadi, jangan sampai nanti baru pameran sekali, malah sibuk jadi influencer sampai lupa berkarya," candanya.
Velita tersenyum mendengar pesan itu, ia tahu, perjalanan seni tidak diukur dari seberapa cepat terkenal, melainkan seberapa lama bertahan. Dan selama masih ada kanvas yang menunggu untuk disentuh, ia akan terus melukis, bukan demi pasar, tetapi demi dirinya sendiri. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

