Banjir Awal November Jadi Alarm untuk Surabaya, Dosen Unair Ingatkan Segera Lakukan Mitigasi
Genangan yang terus muncul sejak awal November menjadi alarm bahwa Surabaya belum siap menghadapi puncak hujan 2026 di tengah drainase yang kewalahan hingga kebiasaan masyarakat yang masih kerap membuang sampah sembarangan.
SURABAYA, SJP - Sejak memasuki awal November, kota Surabaya yang kerap dilanda hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi kerap menyisakan titik-titik genangan.
Beberapa lokasi terendam cukup parah, sementara sebagian lainnya cepat surut namun tetap mengganggu aktivitas warga. Kondisi tersebut menandakan kerentanan kota metropolitan tersebut saat curah hujan tinggi.
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, Dio Alif Hutama, menilai bahwa banjir yang mulai muncul sejak awal musim hujan merupakan sinyal penting yang harus diantisipasi. Ia mengingatkan bahwa puncak musim hujan menurut BMKG Maritim Tanjung Perak diprediksi akan terjadi pada Januari–Februari 2026.
"Fenomena banjir di beberapa wilayah menunjukkan kapasitas drainase Surabaya masih belum memadai menghadapi cuaca ekstrem," ujar Dio, Senin (17/11/2025).
Dio menjelaskan bahwa semakin banyak wilayah kota yang tertutup beton membuat air tidak bisa meresap secara alami. Di sisi lain, sejumlah saluran juga mengalami sedimentasi sehingga mengurangi kapasitas tampungnya.
Penyebab Banjir: Kombinasi Alam dan Ulah Manusia
Menurut Dio, faktor alam seperti curah hujan tinggi sering kali melebihi kemampuan drainase untuk menampung air dalam waktu singkat. Namun masalah paling besar justru datang dari aktivitas manusia, terutama perilaku membuang sampah ke sungai atau saluran.
"Penyumbatan oleh sampah memperparah kondisi karena aliran air jadi terhambat," katanya.
Diketahui sebelumnya, beberapa saluran air di wilayah Surabaya memang mengalami sumbatan karena penumpukan sampah, bahkan saat pengecekan oleh pihak PDAM Surabaya dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, ditemukan sampah balok kayu hingga sampah kasur di dalam saluran drainase.
Selain itu, wilayah pesisir seperti Surabaya juga memiliki ancaman tambahan berupa banjir rob dari gelombang pasang Selat Madura yang dapat memperbesar risiko genangan di musim hujan.
Solusi dan Langkah yang Perlu Dipercepat
Dio menyebut bahwa pemerintah Kota Surabaya harus memastikan seluruh fasilitas pengendali banjir bekerja optimal sebelum masuk puncak musim hujan. Langkah itu mencakup normalisasi saluran, pengecekan pompa, perbaikan pintu air dan pintu laut, serta percepatan proyek drainase yang masih berjalan.
"Semua infrastruktur pengendali banjir harus dipastikan berfungsi optimal," tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya tata kelola ruang kota yang berkelanjutan, termasuk menjaga ruang terbuka hijau dan lahan basah agar tidak beralih fungsi menjadi kawasan terbangun.
Sebagai upaya tambahan, Dio menyoroti pentingnya pengoptimalan bozem atau kolam retensi di titik rawan genangan. Kolam ini bisa menampung air untuk sementara sebelum dialirkan ke sungai atau laut sehingga mengurangi tekanan pada sistem drainase kota.
"Bozem harus dioptimalkan untuk menahan limpasan air di titik rawan," jelas Dio.
Ia menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan pemerintah saja. Masyarakat perlu terlibat aktif, terutama dengan menjaga saluran drainase tetap bersih.
"Penanganan banjir harus dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat," pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

