Bahaya Mengonsumsi Beras Oplosan dalam Jangka Panjang

Beras oplosan berbahaya jika dikonsumsi dalam jangka panjang karena bisa merusak hati, ginjal, dan metabolisme. Dalam jangka pendek bisa sebabkan mual, diare, hingga keracunan. Pada anak, dapat mengganggu pertumbuhan dan menyebabkan anemia.

20 Jul 2025 - 13:24
Bahaya Mengonsumsi Beras Oplosan dalam Jangka Panjang
Ilustrasi beras (@pinterest)

SUARAJATIMPOST.COM-Peredaran beras premium yang dicampur dengan beras berkualitas rendah, atau dikenal sebagai beras oplosan, kini menjadi perhatian masyarakat. Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr. Ngabila Salama, menyampaikan bahwa konsumsi beras semacam ini dalam waktu lama dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan tubuh.

Menurut dr. Ngabila, istilah "beras oplosan" bisa merujuk pada berbagai jenis campuran. Misalnya, mencampurkan beras impor dengan beras lokal, beras yang hampir rusak dengan yang masih baru, bahkan beras asli dengan beras sintetis.

"Efek jangka panjang atau kronisnya dalam hitungan bulan sampai dengan tahun, bisa kerusakan organ hati dan ginjal sebagai detoksifikasi racun atau zat berbahaya, juga gangguan metabolisme," ujar Ngabila.

Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dalam waktu singkat, beras oplosan dapat menimbulkan gejala mirip keracunan makanan. Beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain mual, muntah, diare, sakit kepala, reaksi alergi, dan nyeri perut.

"Itu adalah reaksi-reaksi alergi yang mungkin muncul, dan juga reaksi keracunan makanan, seperti kita terinfeksi mikroorganisme. Misalnya kita mencret, terus juga misalnya satu rumah kita, ataupun orang sekitar juga mengalami keluhan yang sama," jelasnya.

Dr. Ngabila juga mengingatkan bahwa jika dalam beras terdapat campuran bahan kimia atau zat pewarna tekstil, maka kandungan karsinogeniknya bisa meningkatkan risiko kanker.

Khusus pada anak-anak, konsumsi beras oplosan bisa menyebabkan terganggunya proses pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini disebabkan karena tubuh anak tidak mendapatkan asupan gizi penting dari beras alami, seperti zat besi dan vitamin B.

"Jadi, bisa ada gangguan pertumbuhan-perkembangan, anemia, anak menjadi lemah, lebih lesu, letoi, lemot, loyo," terang Ngabila.(**)

Editor : Danu S

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow