Art Shop Prabangkara: Napas Baru Seni Lukis di Tengah Bayang-Bayang Kecerdasan Buatan
Di tengah gempuran AI, Art Shop Prabangkara hadir sebagai oase bagi seniman Jawa Timur—tempat di mana sapuan kuas manusia tetap bernilai, dan seni menemukan rumahnya.
SURABAYA, SJP - Di era ketika kecerdasan buatan (AI) mampu menciptakan gambar hanya dalam hitungan detik, banyak seniman tradisional menghadapi pertanyaan besar: masihkah goresan tangan manusia punya tempat di dunia yang semakin digital ini?
Di tengah gempuran teknologi yang berkembang pesat, sebagian orang mulai meragukan masa depan seni lukis konvensional. Namun, di jantung Kota Surabaya, sebuah ruang kecil mencoba menjawab kegelisahan itu, yakni Art Shop Prabangkara di Komplek Taman Budaya Jawa Timur.
Lukisan yang Terjangkau, Jiwa yang Tak Tergantikan
Begitu memasuki Art Shop Prabangkara, aroma cat minyak yang khas segera menyambut, bercampur dengan kelembutan cahaya sore yang jatuh di kanvas-kanvas yang terpajang rapi. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan dalam berbagai gaya, dari realisme yang detail hingga ekspresi abstrak yang membiarkan imajinasi bermain.
Tak ada kesan eksklusif atau intimidatif seperti di galeri seni mahal. Justru, tempat ini terasa hangat, penuh semangat para pelukis yang ingin berbagi kisah lewat sapuan kuas mereka.
Di sudut ruangan, beberapa seniman tampak asyik mengobrol, sementara yang lain tengah sibuk menambahkan sentuhan terakhir pada lukisan mereka. Seorang pria dengan kemeja yang sedikit berlumuran cat tersenyum sambil menunjuk salah satu lukisan yang terpajang.
"Art Shop Prabangkara kalau dilihat dari namanya ya sebenarnya sebuah toko seni, namun sebenarnya lebih dari itu. Disini kita ingin membuktikan bahwa seni itu bukan hanya untuk kalangan tertentu, entah dalam hal kepemilikan maupun keterbukaan komunitasnya," ujar Mu'it Arsa, pelukis sekaligus Koordinator Perupa Jawa Timur, Jumat (7/2/2025).
"Untuk masalah kepemilikan, biasanya selama ini banyak yang ragu untuk membeli lukisan karena harganya mahal kan, nah di Art Shop Prabangkara, siapa saja bisa membawa pulang karya seni dengan harga maksimal Rp500 ribu," imbuhnya sembari menunjuk beragam lukisan yang ada.
Bagi para pelukis, menjual karya bukanlah perkara mudah. Galeri-galeri besar sering kali mematok harga tinggi, membuat orang awam berpikir dua kali sebelum membeli. Di sinilah Art Shop Prabangkara hadir sebagai jembatan, menghadirkan seni yang lebih membumi, lebih dekat dengan masyarakat.
Seni yang Hidup, Ruang yang Menghidupkan
Tak sekadar tempat jual beli, Prabangkara juga menjadi ruang berkumpul bagi para seniman. Setiap pekan, mereka mengadakan berbagai kegiatan seperti melukis bersama, diskusi seni, hingga lomba dan workshop.
“Di sini, kita bukan sekadar menjual karya. Kita berkumpul, berbagi ide, saling menginspirasi. Ada tempat buat kita menumpahkan kegelisahan, menghidupkan kembali semangat berkarya,” lanjut Mu'it.
Prabangkara mulai menarik perhatian, bukan hanya dari warga Surabaya, tetapi juga dari wisatawan dan bahkan pejabat. Pada suatu kesempatan, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, mengunjungi tempat ini dan membeli beberapa lukisan.
“Alhamdulillah, semakin banyak yang datang, dari anak sekolah sampai mahasiswa. Mas Giring juga sempat mampir dan membeli lukisan saya serta karya teman-teman lain. Rasanya seperti mendapat angin segar di tengah tantangan yang ada,” kata Mu'it, matanya berbinar penuh harapan.
Masa Depan yang Tak Boleh Pudar
Meski mendapatkan dukungan, para seniman di Prabangkara sadar bahwa tantangan masih membayangi. Persaingan dengan teknologi AI menjadi momok yang tak bisa dihindari. Namun, mereka percaya bahwa seni yang diciptakan tangan manusia punya nilai yang tak bisa tergantikan.
“Seni bukan sekadar gambar di kanvas, tapi ada emosi, ada cerita di setiap goresannya. Itu yang tidak bisa dibuat oleh mesin,” tutur Mu’it.
Harapan lain yang mereka gantungkan adalah perhatian lebih dari pemerintah. Fasilitas seperti WiFi, misalnya, bisa membantu mereka menjangkau pasar yang lebih luas melalui media sosial.
“Kita mau jemput bola juga, jualan lewat IG, live TikTok. Tapi kalau internetnya tidak ada, ya susah. Semoga ke depan, ada tambahan fasilitas agar kita bisa terus bertahan,” harapnya.
Prabangkara bukan sekadar ruang jual beli lukisan. Ia adalah simbol perlawanan terhadap zaman yang terus berubah, tempat para seniman tetap berjuang agar seni lukis tetap hidup, tetap bernapas, dan tetap memiliki tempat di hati masyarakat.
Di tengah derasnya arus digital, di antara ribuan gambar yang diciptakan algoritma, ada satu tempat di Surabaya yang membuktikan bahwa seni buatan tangan manusia masih memiliki jiwa, dan jiwa itu tak akan pernah tergantikan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

