Arek Suroboyo Paling Aktif Bepergian di Tengah Melambatnya Mobilitas Wisnus di Jawa Timur

Di tengah melambatnya mobilitas wisatawan nusantara di Jawa Timur, Arek Suroboyo tetap menjadi yang paling sering bepergian, menjadikan Surabaya motor utama pergerakan wisnus provinsi ini.

11 Jan 2026 - 17:21
Arek Suroboyo Paling Aktif Bepergian di Tengah Melambatnya Mobilitas Wisnus di Jawa Timur
Pantai Pasir Putih, Trenggalek sebagai salah satu lokasi wisata di Jawa Timur (foto: Beny/SJP)

SURABAYA, SJP – Laju perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) di Jawa Timur tercatat melambat pada November 2025. Namun di tengah tren penurunan mobilitas tersebut, Arek Suroboyo justru tetap menjadi kelompok yang paling aktif melakukan perjalanan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur menunjukkan, kontribusi warga Surabaya terhadap pergerakan wisata domestik masih mendominasi. Padahal, total perjalanan wisnus mengalami koreksi bulanan

Sebagai informasi, wisnus sendiri adalah penduduk Indonesia yang melakukan perjalanan wisata di dalam wilayah Indonesia, baik lintas kabupaten/kota maupun antarprovinsi, di luar lingkungan tempat tinggalnya, dengan tujuan berlibur, berkunjung, atau keperluan lain selain bekerja tetap dan sekolah. 

Dalam statistik BPS, perjalanan wisnus dihitung berdasarkan frekuensi perjalanan, sehingga satu orang dapat tercatat lebih dari sekali apabila melakukan beberapa perjalanan dalam periode tertentu.

BPS Jawa Timur mencatat, jumlah perjalanan wisnus tujuan Jawa Timur pada November 2025 mencapai 16,46 juta perjalanan. Angka ini turun 2,60 persen dibandingkan Oktober 2025, menandai perlambatan mobilitas wisata domestik secara jangka pendek.

Kepala BPS Jawa Timur, Zulkipli, mengatakan penurunan tersebut merupakan pola yang kerap terjadi menjelang akhir tahun, ditambah November 2025 yang tidak memiliki tanggal merah nasional maupun cuti bersama yang membuat berkurangnya intensitas perjalanan masyarakat.

"Penurunan secara bulanan ini lebih dipengaruhi oleh faktor musiman, termasuk berakhirnya masa liburan dan kondisi cuaca, sehingga tidak serta-merta mencerminkan pelemahan sektor pariwisata," ujar Zulkipli saat dikonfirmasi, Minggu (11/1/2026).

Tak hanya kunjungan masuk, mobilitas wisnus asal Jawa Timur juga menunjukkan tren penurunan. Pada November 2025, jumlah perjalanan wisnus asal Jawa Timur tercatat 15,72 juta perjalanan, atau turun 2,20 persen dibandingkan Oktober 2025.

Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga November 2025, perjalanan wisnus asal Jawa Timur mencapai 185,25 juta perjalanan, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi itu mengindikasikan adanya penyesuaian pola perjalanan masyarakat, baik dari sisi frekuensi maupun tujuan.

Di tengah melambatnya mobilitas tersebut, Kota Surabaya tetap menjadi daerah asal perjalanan wisnus terbesar di Jawa Timur. BPS mencatat, pada November 2025, perjalanan wisnus yang berasal dari Surabaya mencapai 2,55 juta perjalanan, atau sekitar 16,20 persen dari total perjalanan wisnus asal Jawa Timur.

Posisi Surabaya kemudian diikuti oleh Kabupaten Sidoarjo dengan jumlah perjalanan wisnus mencapai 1,59 juta perjalanan.

Zulkipli menjelaskan, dominasi Surabaya mencerminkan peran kawasan metropolitan sebagai penggerak utama mobilitas wisata domestik, dengan jumlah penduduk yang tinggi dan penuh dengan aktivitas ekonomi.

"Wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi dan jumlah penduduk besar cenderung menjadi kontributor utama pergerakan wisatawan, baik untuk perjalanan liburan maupun non-liburan," katanya.

Tren Tahunan Wisnus Masih Relatif Terjaga

Meski mengalami penurunan secara bulanan, kinerja wisnus ke Jawa Timur secara tahunan masih menunjukkan ketahanan. BPS mencatat, jumlah perjalanan wisnus tujuan Jawa Timur pada November 2025 masih tumbuh 0,75 persen dibandingkan November 2024.

Sementara itu, secara kumulatif Januari–November 2025, perjalanan wisnus tujuan Jawa Timur tercatat 197,48 juta perjalanan, meskipun sedikit menurun 0,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Secara tahunan, pergerakan wisnus masih relatif stabil. Fluktuasi yang terjadi lebih bersifat jangka pendek dan dipengaruhi faktor musiman," ujar Zulkipli.

BPS menilai perlambatan mobilitas wisnus juga dapat mencerminkan perubahan pola wisata masyarakat. Wisatawan domestik cenderung melakukan perjalanan yang lebih singkat, bahkan tanpa menginap, serta lebih selektif dalam menentukan waktu dan tujuan wisata.

Kondisi itu membuat penurunan jumlah perjalanan tidak selalu berdampak langsung pada seluruh subsektor pariwisata.

Hunian Hotel Masih Bertahan

Di tengah melambatnya perjalanan wisnus, sektor akomodasi di Jawa Timur masih menunjukkan ketahanan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada November 2025 tercatat sebesar 52,82 persen, atau naik 0,19 poin dibandingkan Oktober 2025.

Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh hotel bintang empat dan lima, yang mengindikasikan bahwa aktivitas perjalanan berbasis bisnis, rapat, dan agenda tertentu masih mampu menopang kinerja perhotelan.

"Meskipun perjalanan wisata mengalami koreksi, aktivitas non-liburan masih berperan dalam menjaga tingkat hunian hotel," kata Zulkipli.

Data BPS Jawa Timur menunjukkan bahwa mobilitas wisnus memang melambat secara bulanan pada November 2025, namun Surabaya tetap menjadi tulang punggung pergerakan wisata domestik di provinsi ini. 

Dengan tren tahunan yang masih relatif stabil, dinamika wisnus di Jawa Timur lebih mencerminkan fluktuasi musiman dibandingkan pelemahan struktural sektor pariwisata. (*)

Editor : Danu 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow