Angin Puting Beliung Berputar di Langit Ngunut Tulungagung, Tak Timbulkan Kerusakan

Fenomena angin puting beliung berwarna putih keabuan berputar di langit Kecamatan Ngunut Tulungagung. BPBD pastikan tak mendarat, BMKG jelaskan penyebabnya.

09 Jan 2026 - 18:58
Angin Puting Beliung Berputar di Langit Ngunut Tulungagung, Tak Timbulkan Kerusakan
Tangkapan layar video angin puting beliung yang terlihat dari wilayah Kecamatan Ngunut, Tulungagung. (Istimewa)

TULUNGAGUNG, SJP - Fenomena angin puting beliung berwarna putih keabu-abuan tampak berputar di langit Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jumat (9/1/2026) siang. Kejadian yang berlangsung sekira pukul 12.30 WIB itu terjadi saat cuaca mendung gelap disertai hujan deras dan angin kencang, serta sempat viral di media sosial.

Pusaran angin berwarna putih keabu-abuan tersebut terlihat jelas dari sejumlah titik di wilayah Ngunut dan sekitarnya. Peristiwa itu terjadi saat kondisi cuaca tengah diliputi awan gelap pekat.

Tak lama berselang, hujan deras pun mengguyur kawasan tersebut disertai hembusan angin kencang. Kejadian ini sontak menarik perhatian warga, bahkan banyak warganet mengunggah foto dan video momen pusaran angin tersebut ke berbagai platform media sosial.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung, Sudarmaji, membenarkan adanya laporan terkait fenomena tersebut. Namun, ia memastikan bahwa pusaran angin tidak sampai menyentuh permukaan tanah.

“Info dari posko sampai hari ini tidak ada puting beliung yang mendarat. Infonya hanya berputar-putar di atas,” ujar Sudarmaji.

Ia menambahkan, karena pusaran angin tidak mendarat, peristiwa tersebut tidak menimbulkan kerusakan pada rumah-rumah penduduk. Hingga Jumat sore, BPBD hanya menerima laporan adanya dampak ringan akibat cuaca ekstrem.

“Hujan deras disertai angin kencang hanya menyebabkan satu pohon tumbang yang menutup jalan di selatan SPBU Kalangan, Desa Kalangan, Kecamatan Ngunut. Itu pun sudah langsung ditangani bersama warga sekitar,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III BMKG Dhoho Kediri, Lukman Soleh, menjelaskan bahwa fenomena yang terlihat tersebut secara meteorologis merupakan angin puting beliung yang terbentuk di lapisan atmosfer.

“Fenomena tersebut adalah angin puting beliung. Ini merupakan dampak dari pembentukan awan Cumulonimbus yang sangat masif akibat pemanasan suhu permukaan yang ekstrem di siang hari,” terang Lukman, melalui pesan Whatsapp.

Menurutnya, massa udara panas yang naik dengan cepat akibat tingginya penguapan di puncak musim hujan bertemu dengan udara dingin di lapisan atas atmosfer. Kondisi ini memicu ketidakstabilan udara yang kemudian membentuk pusaran angin berkecepatan tinggi dalam durasi singkat.

“Kejadian seperti ini bersifat sangat lokal namun bisa destruktif. Karena itu masyarakat kami imbau segera mencari bangunan yang kokoh apabila melihat awan gelap pekat menjulang seperti kembang kol, untuk menghindari risiko tertimpa material bangunan atau pohon tumbang,” imbuhnya.

Lukman juga mengungkapkan bahwa pemantauan fenomena tersebut cukup terkendala secara teknis. Saat ini, radar cuaca Juanda tidak dapat diakses, sementara radar Ngawi tidak mencakup wilayah Kecamatan Ngunut.

“Dengan keterbatasan tersebut memang sangat sulit untuk memonitor secara detail. Namun melihat dinamika atmosfer beberapa hari terakhir, kondisi ini memang sangat memungkinkan terjadinya angin puting beliung,” pungkasnya.

BMKG dan BPBD mengimbau masyarakat Tulungagung untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi, terutama pada siang hingga sore hari selama musim hujan berlangsung. (*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow