Ali Shodiqin: Menyulam Cerita dari Kediri Melalui Kanvas di Surabaya
Melalui tinta cina dan kisah Totok Kerot, Ali Shodiqin menyulam legenda Kediri ke kanvas, memperkenalkannya diam-diam namun dalam, di jantung seni Surabaya.
SURABAYA, SJP - Kediri, kota yang terletak di jantung Jawa Timur, memiliki banyak cerita yang mengalir melalui lorong-lorong sejarah dan budaya.
Sebagai salah satu kota terbesar di provinsi ini, Kediri menyimpan kekayaan yang tidak hanya terpancar dalam bentuk situs-situs bersejarah, tetapi diam-diam juga menumbuhkan benih-benih seni rupa.
Salah satu peristiwa yang menjadi titik temu ekspresi para seniman dari Kediri adalah pameran “Nyambung Roso”, yang baru saja digelar di Galeri Prabangkara, Surabaya, dalam rangka Pekan Seni Lukis 2025.
Pameran tersebut diikuti oleh 15 perupa dengan media dan gaya beragam, mulai dari cat minyak, akrilik, tinta cina, hingga teknik campuran, dengan ukuran karya dari yang mungil hingga monumental.
Di antara para perupa itu, ada satu nama yang menampilkan karya-karya dengan kesan yang tenang namun mengendap dalam, ia adalah Ali Shodiqin.
Ali dan Kecintaannya untuk Melukis
Sebagai koordinator dari pameran tersebut, Ali mungkin tidak datang ke Kota Pahlawan dengan nama yang besar, namun ia datang sebagai pelukis tekun yang berbicara lewat karyanya.
Lahir di Kediri pada 24 September 1971, Ali mengaku telah tertarik melukis sejak kecil. Kecintaannya itu ia bawa ke bangku kuliah, menempuh pendidikan di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang (kini Universitas Negeri Malang), jurusan Seni Rupa dan Kerajinan, hingga akhirnya lulus pada tahun 1995.
Dulunya, Ali menggambar layaknya perupa pada umumnya, yakni dengan dengan media cat minyak, namun, dalam pameran ”Nyambung Roso” ia hadir dengan gaya yang bisa dibilang unik, ia hadir dengan membawa karya hitam putih dengan media tinta cina.
"Saya mulai mencoba menggunakan tinta cina ini baru lima tahun terakhir, saya juga mencoba media lain seperti charcoal. Meski lebih sulit, namun saya ingin membuktikan bahwa seni rupa gudak selalu hanya bisa dihasilkan dari bahan yang mahal," ujar Ali saat dikonfirmasi pada Jumat (25/4/2025).
Tantangan dan Keindahan Tinta Cina
Ali mengaku bahwa melukis dengan tinta cina justru jauh lebih sulit. Hal tersebut ditambah dengan pewarnaan hitam-putih yang ia pillih, membuatnya harus benar-benar peka terhadap pencahayaan, komposisi, dan kedalaman.
"Hitam putih itu lebih sulit dari warna. Dari segi dimensi dan pewarnaan, kita harus benar-benar teliti. Tapi justru di situ tantangannya," katanya.
Ali menyebut aliran karyanya sebagai realisme yang terbuka pada inovasi. Meski fondasinya tetap realis, ia kerap menambahkan elemen-elemen intuitif yang muncul secara spontan saat menggambar seperti siluet samar, bentuk kabur, atau detail simbolik yang memperkaya narasi visual.
"Totok Kerot": Mitos yang Menjadi Imaji
Membawa empat lukisan dengan tajuk ”Jejak-jejak tersisa dari kotaku”, salah satu karya Ali yang paling menarik perhatian dalam pameran ”Nyambung Roso” adalah lukisan bertema Patung Totok Kerot, sebuah arca ikonik yang terletak di utara desa tempat tinggalnya di Kediri.
Lukisan itu tak hanya menampilkan bentuk fisik patung, tapi juga menyisipkan cerita rakyat tentang seorang putri dari Blitar yang ingin menikahi Raja Joyoboyo. Namun, karena sifat tamaknya, sang putri ditolak dan akhirnya dikutuk menjadi arca raksasa yang menyeramkan.
"Lewat karya ini, saya ingin menyampaikan bahwa setiap tempat punya mitos, dan setiap mitos punya pesan. Saya tuliskan kisah Totok Kerot di bagian bawah lukisannya, supaya orang bisa ikut membaca, bukan hanya melihat," jelas Ali.
Perjalanan yang Belum Usai
Ali mengaku bahwa meskipun pameran ”Nyambung Roso” bukan pameran tunggalnya, namun kesempatan itu sangatlah berarti. Ali yang sudah dua kali menggelar pameran tunggal di Kediri, namun tampil di Surabaya membuka ruang baru, baik untuk bertemu kolega maupun memperluas dialog seni.
"Kediri itu kota kecil, tapi penuh cerita besar. Banyak potensi seni di sana yang belum terlihat. Saya hanya ingin memperkenalkan bahwa kami juga ada," ucapnya.
Sebagai informasi, pada bulan Juni 2025 nanti, Ali juga akan kembali ke Kota Pahlawan, tepatnya di Galeri Merah Putih di kompleks Alun-alun Kota Surabaya untuk menggelar pameran tunggalnya yang pertama kali di luar kampung halamannya.
Menjalani dengan Syukur, Menyambung Lewat Karya
Di balik semua itu, Ali tidak memasang ambisi yang muluk. Ia menyebut bahwa melukis adalah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas apa yang telah ia terima.
"Saya tidak tahu karya ini akan membawa saya ke mana. Tapi saya jalani semuanya dengan sepenuh hati. Melukis adalah cara saya untuk bersyukur," tutupnya.
Lewat karya-karyanya dalam “Nyambung Roso”, Ali Shodiqin tak sekadar membawa jejak Kediri ke Kota Surabaya, ia juga membawa kisah, legenda, dan semangat perupa-perupa lain dari Kota Kediri untuk dinikmati lebih luas. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

