Aksi ‘Indonesia Gelap’ Kembali Menggema di Surabaya, Massa Tampilkan Teatrikal hingga Siram Anggota DPRD Jatim
Massa aksi Indonesia Gelap kembali memadati Gedung DPRD Jatim, berpakaian hitam, membawa poster sindiran, sembari menampilkan teatrikal pedas yang menggambarkan perbedaan hidup rakyat dan penguasa.
SURABAYA, SJP - Setelah menggelar aksi pada 17 Februari lalu, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat sipil Kota Surabaya kembali turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk Indonesia Gelap jilid 2 di depan Gedung DPRD Jawa Timur.
Sama seperti aksi sebelumnya, aksi tersebut digelar untuk menyuarakan penolakan terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai merugikan rakyat, serta menuntut pemerintah segera mengesahkan undang-undang yang lebih berpihak pada kepentingan masyarakat.
Massa Kompak Berpakaian Hitam dan Membawa Poster Sindiran
Sejak pukul 09.00 WIB, puluhan demonstran telah berkumpul di titik aksi. Mereka terlihat mengenakan pakaian serba hitam serta membawa payung dan poster bernada sindiran. Beberapa tulisan yang terpampang di poster di antaranya berbunyi
- "Dulu Sok Cinta Rakyat, Sekarang Cinta Duit Rakyat”
- “Rakyat Diperas, Anggaran Pendidikan Dipangkas, Indonesia Cemas”
- "Di Negara Ini yang Waras Cuma Rakyat”.
Thanthowy Syamsuddin, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya sekaligus koordinator aksi, menyatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk perlawanan masyarakat terhadap kebijakan yang tidak pro rakyat.
“Tuntutan kami tetap sama seperti sebelumnya. Kami menolak undang-undang yang mengancam kesejahteraan rakyat seperti UU Minerba dan UU Multifungsi TNI-Polri," ungkapnya.
"Selain itu, kami mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, UU Masyarakat Adat, dan UU Perampasan Aset,” tegas Thanthowy di sela-sela aksi.
Aksi Teatrikal Mewarnai Jalannya Demonstrasi
Sedikit berbeda dengan aksi sebelumnya, aksi kali ini menghadirkan kritik dalam bentuk sebuah pertunjukan seni. Mahasiswa dari Teater Institut Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menampilkan pertunjukan yang menggambarkan penderitaan rakyat di bawah kebijakan pemerintah.
Salah satu adegan menampilkan sosok pejabat bersongkok dengan setelan jas yang duduk menikmati makanan mewah, simbol dari kabinet Merah Putih Prabowo yang sedang membagi-bagikan kekuasaan atas dasar politik balas budi.
Sementara itu, seorang pemeran rakyat jelata terlihat menjerit dengan mulut tertutup lakban hitam, mencerminkan pembungkaman terhadap kritik. Mengingat beberapa waktu terakhir, banyak upaya pembungkaman terhadap kritik, seperti kasus pameran lukisan dan lagu bayar oleh band Sukatani.
“Rakyat di sini kelaparan, sementara para penguasa justru berpesta. Adegan berguling-guling yang tadi kami tampilkan melambangkan kemiskinan yang terus berulang, tidak pernah ada perubahan meskipun pemerintahan berganti,” ujar Muhammad Abdul Ghani Bima, salah seorang pemeran teatrikal.
Tak hanya itu, aksi teatrikal juga menampilkan sosok Ibu Pertiwi yang ditutup matanya, menari-nari di tengah demonstran. Adegan ini melambangkan kekayaan alam Indonesia yang terus dieksploitasi oleh segelintir pihak demi kepentingan golongan tertentu.
Dua Anggota DPRD Jatim Temui Massa, Disoraki Demonstran
Sekira pukul 14.30 WIB, dua anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Yordan M Batara-Goa dan Fuad Bernadi, menemui massa aksi.
Yordan sempat berorasi di hadapan demonstran, menyatakan bahwa pihaknya memahami keresahan masyarakat dan akan memperjuangkan aspirasi mereka. Namun, massa justru menyoraki pernyataan tersebut dan meneriakkan kata-kata seperti “bohong” dan “omong kosong.”
“Kami di sini berasal dari masyarakat, dipilih oleh rakyat, dan kami akan memperjuangkan kesejahteraan warga Jawa Timur,” ucap Yordan dalam orasinya.
Namun, demonstran menuntut kehadiran Ketua DPRD Jatim atau pimpinan fraksi lainnya, yang ternyata tidak berada di tempat. Kekecewaan massa pun memuncak. Seorang peserta aksi melontarkan kritik tajam dan menyatakan bahwa mereka tidak akan menerima sekadar janji kosong.
“Dari tadi kita hanya mendengar kata-kata manis. Jika mereka memang berjanji, maka kita akan memastikan janji-janji itu ditepati,” seru salah seorang demonstran.
Sebagai bentuk protes simbolik, massa kemudian menyiramkan air doa ke anggota DPRD tersebut. Situasi semakin memanas hingga akhirnya Yordan dan Fuad meninggalkan lokasi aksi sekira pukul 14.40 WIB di tengah sorakan dan lemparan dari massa.
Evaluasi Kebijakan dan Tuntutan Demonstran
Thanthowy Syamsuddin kembali menegaskan bahwa aksi ini tidak hanya sekadar demonstrasi, tetapi juga bentuk evaluasi besar terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai memperburuk kondisi rakyat.
Salah satu kebijakan yang disoroti adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menurutnya justru berpotensi menyedot anggaran pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur vital lainnya.
“Kita tidak bisa membiarkan kebijakan yang tampak populis tetapi sebenarnya mengorbankan sektor penting seperti pendidikan dan kesehatan. Pemerintah harus mendengarkan suara rakyat dan segera melakukan perubahan kebijakan,” tegasnya.
Bak mengulang bagian akhir dari demonstrasi sebelumnya, para demonstran kembali melontarkan janji bahwa akan terus turun ke jalan jika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi oleh pemerintah dan DPRD Jawa Timur. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

