300 Ton Sampah per Hari Menggunung di TPA Siliwung, DLH Situbondo Akui Minim Fasilitas Pengelolaan

Produksi sampah di Situbondo mencapai 300 ton per hari dan masih ditimbun di TPA Siliwung akibat keterbatasan alat pengelolaan. DLH mengakui minimnya sarana dan armada, sementara pemerhati lingkungan mendesak peningkatan operasional serta edukasi pemilahan dan daur ulang sampah.

03 Mar 2026 - 20:39
300 Ton Sampah per Hari Menggunung di TPA Siliwung, DLH Situbondo Akui Minim Fasilitas Pengelolaan
Tempat pembuangan sampah di jalan raya Panji sering dikeluhkan pengendara selain sampah memakan jalan saat hujan baunya sangat mengganggu, pentingnya kesadaran masyarakat saat membuang sampah (Foto : Sugeng/SJP)

SITUBONDO, SJP – Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah serius di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten Situbondo. Hingga kini, pengelolaan sampah dinilai belum optimal akibat keterbatasan sarana dan prasarana pendukung.

Kondisi memprihatinkan tampak di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Siliwung, Kecamatan Panji.

Setiap hari, ratusan ton sampah terus berdatangan dan hanya ditimbun, sehingga volumenya kian menggunung. Hal ini terjadi karena belum tersedianya alat pengelolaan sampah yang memadai.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Situbondo, dr. Sandi Hendrayono, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut produksi sampah di Situbondo mencapai sekitar 300 ton per hari, mayoritas berasal dari kawasan perkotaan dan sekitarnya.

“Produksi sampah di Situbondo cukup besar, yakni sekitar 300 ton setiap hari. Sampai saat ini, sampah masih ditimbun di TPA karena kami memang belum memiliki alat pengelolaan sampah,” ujar dr. Sandi, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, tingginya produksi sampah juga tidak sebanding dengan jumlah armada pengangkut dan tenaga kebersihan yang tersedia. Akibatnya, petugas harus bekerja ekstra untuk memastikan sampah di masyarakat dapat terangkut hingga ke TPA.

Ia menegaskan, persoalan sampah di Situbondo perlu ditangani secara serius dan terintegrasi. Selain peningkatan fasilitas, peran aktif masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk mengurangi volume sampah harian.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemilahan dan pemanfaatan kembali sampah. Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi pupuk kompos.

Sementara sampah anorganik seperti plastik dan kertas dapat didaur ulang menjadi berbagai produk kerajinan bernilai ekonomis, seperti tas maupun hiasan rumah.

Pemerhati lingkungan Situbondo, Muhammad Sadik, menilai pemerintah daerah harus segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah.

“Peningkatan kinerja operasional TPA sangat penting agar pengelolaan sampah lebih efisien, termasuk dalam hal daur ulang dan pengurangan sampah. Yang tak kalah penting adalah memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pemilahan dan daur ulang sampah, sehingga bisa dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.(*)

Editor: Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow