Tiga Pasar Hewan di Nganjuk Tetap Buka Seiring Kasus PMK

Ada tiga pasar hewan di Nganjuk tetap dibuka. Pemerintah akan melakukan evaluasi berkala guna melihat perkembangan kasus yang terjadi di lapangan.

14 Jan 2025 - 20:29
Tiga Pasar Hewan di Nganjuk Tetap Buka Seiring Kasus PMK
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Itsna Shofiani (kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP - Temuan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Nganjuk, mengalami penurunan selama beberapa hari terakhir. Untuk meminimalisasi potensi penyebarannya, pemerintah setempat masih membuka operasional pasar hewan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Itsna Shofiani menyebut, dari kasus PMK ada penurunan di angka 67 kasus. Pihaknya mengatakan, apakah ditutup atau tidak, pasar hewan itu menjadi pantauan, disamping itu pihaknya juga ada peningkatan pengawasan.

"Kami melihat perkembangan PMK dalam beberapa pekan terakhir memang mulai menurun. Kami sejak tanggal 10 Januari kemarin turun ke Pasar Hewan Warujayeng dan Kedondong yang menjadi prioritas, sehingga menginisiasi ini," kata Itsna, Selasa (14/1/2025).

Upaya membuka sementara perdagangan sapi di Pasar Warujayeng sudah kondusif, walaupun tidak ditutup, Itsna menyatakan, memang mudah untuk mengucapkan tapi sulit untuk dilakukan. Karena masih ada pro dan kontra dengan masyarakat, jadi pihaknya melakukan pengawasan.

"Kami tidak bisa menutup meskipun ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya PMK. Maka dengan pengawasan dan peningkatan kami sambut baik," ujarnya saat ditemui suarajatimpost di ruang kerjanya.

Dijelaskan, ada tiga pasar hewan di Nganjuk tetap dibuka. Pemerintah akan melakukan evaluasi berkala guna melihat perkembangan kasus yang terjadi di lapangan.

"Ini tetap dibuka, kami selalu ada peningkatan dan pengawasan," jelasnya.

Sementara itu Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Siti Farida mengatakan kasus PMK menyebar di sejumlah 20 Kecamatan di Kabupaten Nganjuk.

Pihaknya berharap peningkatan dan pengawasan perdagangan hewan ini berdampak banyak terhadap penanganan kasus PMK.

"Sebagai upaya penanggulangan, kami juga melakukan surveilans dan KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) terhadap para peternak," kata Farida.

Disinggung sapi yang ditemukan terinfeksi PMK, Ia menjelaskan, akan langsung dilakukan penanganan dengan pemberian obat-obatan. Upaya terapi obat juga dilakukan secara kontinu sehingga kondisi sapi kembali pulih.

"Kadang ada peternak yang tidak mau divaksin, dan kebanyakan sapi yang mati tersebut banyak yang tidak mau dilakukan secara berkala," jelasnya. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow