Yamci: Nugget Ayam Berbahan Ubi Cilembu, Inovasi Kuliner Sehat
Tak ada yang menyangka nugget ayam ini mengandung ubi cilembu. Dengan tekstur khas dan kaya betakaroten, Yamci hadir sebagai inovasi kuliner sehat yang menggugah selera.
SURABAYA, SJP - Jennifer Elizabeth duduk di depan meja laboratorium, menimbang adonan nugget buatannya dengan cermat. Tangannya sigap mencampurkan dada ayam giling dengan ubi cilembu yang telah dikukus, memastikan teksturnya tetap seimbang.
Bagi banyak orang, ubi mungkin hanya sebatas bahan pangan tradisional yang biasa diolah menjadi kudapan manis. Namun, bagi Jennifer, ubi cilembu justru menjadi kunci inovasi kulinernya: nugget ayam berbahan ubi cilembu yang ia beri nama "Yamci".
Dari Dapur Laboratorium ke Meja Makan
Mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) ini terinspirasi untuk menciptakan makanan olahan praktis yang tetap bernilai gizi tinggi.
"Nugget itu makanan yang simpel dan digemari banyak orang. Tapi bagaimana kalau kita bisa menambahkan sesuatu yang lebih sehat ke dalamnya?” ungkap Jennifer.
Pilihan jatuh pada ubi cilembu, jenis umbi yang dikenal dengan warna kuning-oranye khasnya. Bukan hanya untuk warna, tetapi juga karena kandungan betakaroten yang tinggi, berfungsi sebagai antioksidan dan provitamin A yang baik untuk tubuh.
Jennifer memadukan ubi dengan dada ayam, tepung terigu, isolat protein kedelai, dan berbagai bumbu sederhana seperti garam, merica, serta bawang putih. Namun, ada tantangan yang harus ia hadapi: tekstur nugget yang cenderung lebih lembek dibandingkan nugget ayam pada umumnya.
"Kalau terlalu banyak ubi, nuggetnya jadi kurang padat. Karena itu saya harus menyesuaikan jumlah tepung dan isolat protein kedelai agar teksturnya tetap terasa seperti nugget ayam biasa," jelasnya.
Tantangan di Balik Dapur Inovasi
Proses pembuatan Yamci memakan waktu hingga setengah hari. Setelah ubi dikukus, dicampur dengan bahan lainnya, dan dibentuk, nugget masih harus melalui proses pemanggangan dan pendinginan sebelum siap dikonsumsi.
"Setiap harinya saya bisa membuat enam loyang nugget untuk uji coba skripsi saya," kata Jennifer.
Ia juga telah menguji daya tahan produknya secara sederhana dengan menyimpannya dalam keadaan beku hingga tiga bulan, meskipun uji daya tahan resminya masih dalam proses. Salah satu kejutan terbesar datang saat Jennifer menguji rasa Yamci ke teman-temannya.
"Banyak yang tidak menyangka ada ubi cilembu di dalamnya. Mereka pikir ini nugget ayam biasa!" katanya sambil tersenyum.
Hal ini semakin menguatkan keyakinannya bahwa inovasi ini bisa diterima oleh pasar yang lebih luas.
Dari Skripsi hingga Penghargaan
Yamci bukan sekadar eksperimen kuliner bagi Jennifer. Hasil inovasi ini membawanya meraih nilai A dan predikat mahasiswa berprestasi dalam wisuda UKWMS tahun 2025.
"Saya berharap masyarakat bisa lebih terbuka terhadap makanan berbahan lokal. Kadang orang ragu mencoba sesuatu yang baru karena mengira rasanya aneh, padahal sebenarnya tidak jauh berbeda dari yang biasa mereka konsumsi," katanya.
Dengan Yamci, Jennifer membuktikan bahwa inovasi kuliner bisa lahir dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita. Tidak menutup kemungkinan, suatu hari nanti nugget berbahan ubi cilembu ini akan menghiasi rak-rak supermarket sebagai alternatif makanan sehat bagi keluarga Indonesia. (*)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

