Konsep YONO: Mengubah Kebiasaan Belanja Fesyen menjadi Lebih Bijak dan Bertanggung Jawab
Tren pakaian Lebaran sering memicu belanja impulsif dan limbah fesyen. Dengan konsep YONO (You Only Need One), tampil stylish tetap bisa tanpa boros atau merusak lingkungan.
SURABAYA, SJP - Lebaran sering kali identik dengan pakaian baru. Toko-toko fesyen ramai, pusat perbelanjaan penuh sesak, dan banyak orang berlomba-lomba membeli baju terbaik untuk menyambut Hari Raya. Tapi, apakah benar baju baru selalu diperlukan?
Menurut Maria Nala Damayanti, seorang pakar fesyen dan budaya visual, kebiasaan ini bukan hanya menguras kantong tetapi juga memperparah limbah tekstil.
Industri fesyen sendiri merupakan penyumbang sampah terbesar kedua setelah plastik. Banyak pakaian murah dibuat dari bahan sintetis yang sulit terurai, sehingga memperburuk masalah lingkungan.
"Kita tidak hanya bicara soal pengeluaran yang boros, tetapi juga dampak besar yang ditimbulkan bagi lingkungan," ujar Maria.
YONO: Satu Pakaian, Banyak Gaya
Sebagai solusi, Maria memperkenalkan konsep YONO (You Only Need One), yaitu pendekatan yang lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Dari pada membeli baju baru setiap tahun, seseorang bisa memanfaatkan pakaian lama dengan cara yang kreatif.
"Mix and match itu tidak sulit. Cukup dengan mengombinasikan item lama yang masih bagus, kita bisa menciptakan tampilan baru tanpa harus membeli apa pun," kata Maria.
Ia mencontohkan, paduan crop blazer dengan kain berwarna-warni bisa memberikan kesan segar. Ditambah bawahan kain ruffle putih yang dibentuk menjadi rok, tampilan tetap stylish tanpa perlu belanja pakaian baru.
Konsep ini juga menekankan pentingnya memilih pakaian multifungsi. Jika suatu pakaian bisa digunakan dalam berbagai kesempatan, maka kebiasaan membeli pakaian hanya untuk satu momen, seperti Lebaran, bisa dikurangi.
Belanja Fesyen: Gaya atau Sekadar Tren?
Tren fesyen sering kali memicu perilaku konsumtif. Banyak orang membeli pakaian bukan karena butuh, melainkan hanya karena ingin mengikuti tren atau tampil menarik di media sosial.
"Padahal, tren selalu berubah. Kalau membeli hanya untuk mengikuti tren, pakaian itu bisa jadi tidak akan dipakai lagi dalam waktu dekat," jelas Maria.
Sebelum membeli pakaian baru, ia menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah benar-benar dibutuhkan? Apakah bisa dipadukan dengan pakaian lain yang sudah ada? Jika jawabannya tidak, lebih baik mencari alternatif lain.
Selain mix and match, pilihan lain yang lebih hemat adalah meminjam atau menyewa pakaian. Menurut Maria, di banyak kota besar sudah ada layanan penyewaan pakaian yang memungkinkan seseorang tetap tampil beda tanpa harus membeli.
Lebih Hemat, Lebih Ramah Lingkungan
Mengurangi kebiasaan membeli pakaian baru tidak hanya menghemat uang tetapi juga membantu mengurangi dampak lingkungan. Dengan menerapkan konsep YONO, siapa pun bisa tetap tampil modis saat Lebaran tanpa perlu menguras kantong atau menambah tumpukan sampah fesyen.
"Fesyen bukan sekadar soal mengikuti tren, tetapi bagaimana kita bisa menggunakannya dengan lebih bijak dan bertanggung jawab," pungkas Maria. (*)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

