'Wedhangan' Fine Dining Ala Tempo Doeloe Hasil Kreativitas Inovatif Mahasiswa UMM

Untuk kaum Gen Z, acara ini secara tidak langsung memperkenalkan dan memberi gambaran tentang malang tempo dulu pada mereka.

22 Jun 2025 - 21:03
'Wedhangan' Fine Dining Ala Tempo Doeloe Hasil Kreativitas Inovatif Mahasiswa UMM
Sajian makanan tempo dulu yang tersedia di Cafe Sawah (Foto : Marcom/SJP)

MALANG, SJP - Sabtu sore (21/6/2025) suasana Cafe Sawah terasa berbeda. Bukan hanya karena udaranya yang sejuk atau hamparan sawah dan gunung yang mengelilingi, tapi karena suasana hangat yang perlahan-lahan tumbuh di antara tawa pengunjung.

Denting gamelan, dan aroma rempah dari acara wedhangan yang sedang digelar. Wedhangan merupakan event fine dining yang mengangkat tema Malang Tempo Doeloe. 

Acara ini adalah hasil karya kolaborasi antara Cafe Sawah dan kelompok ORION, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. 

Melalui makanan, suasana, dan nuansa yang dibangun, Wedhangan mengajak pengunjung untuk bernostalgia dengan masa lalu.

Sejak pertama kali datang, pengunjung langsung diajak masuk ke dalam cerita. Mereka dipakaikan selendang dan udeng, dan disambut dengan segelas asam jawa dingin. 

Tidak ada musik modern atau dekorasi glamor, hanya hamparan sawah yang luas, meja dan kursi kayu yang dihias dengan sederhana, serta senyuman ramah dari panitia.

Acara ini menarik berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga kalangan muda.

“Acara ini unik, aku belum pernah menemui atau datang langsung ke acara makan malam dengan konsep seperti ini,” ujar Soraya, salah seorang undangan konten kreator.

Untuk kaum Gen Z, acara ini secara tidak langsung memperkenalkan dan memberi gambaran tentang malang tempo dulu pada mereka.

Sebelum makan malam dimulai, pengunjung diajak berkeliling sawah naik caddy car, menyaksikan pertunjukan tari bapang dan pencak silat, dan setelahnya meracik wedang sendiri. 

Tersedia pula tenant jajanan tradisional seperti cenil, kentang urap, srawut, hingga dawet yang semuanya dibungkus dalam nuansa pasar rakyat zaman dulu.

Ketika matahari mulai terbenam, lampu-lampu redup dan lilin-lilin dinyalakan satu per satu. Diiringi alunan musik karawitan dan cahaya temaram, meja makan pengunjung mulai dipenuhi dengan berbagai macam makanan. 

Dimulai dari appetizer berupa tahu petis, menjes, dan lumpia. Main course berupa nasi jagung, ayam bakar, tempe, sayur bobor, dadar jagung, dan urap-urap. Hingga dessert berupa angsle, buah-buahan, dan pudding. 

Minumannya? Tentu saja susu jahe dan teh manis yang sangat menggambarkan kesederhanaan tempo dulu.
 
Setelah runtutan kehangatan itu, acara ini ditutup dengan letupan kembang api yang menambah gebyar senyum para panitianya setelah berbulan-bulan persiapan matang mereka.

Souvenir juga disiapkan bertema tempo dulu. Sederhana. Namun seolah diusahakan meninggalkan kesan yang mendalam.

Meskipun inti kehangatan bukan terletak pada pernak-pernik yang dibawa pulang, melainkan suasana yang tercipta malam itu. Akrab, nyaman, dan penuh rasa.
 
Bagi ORION, Wedhangan bukan hanya hasil akhir dari Praktikum Public Relations, melainkan bentuk kecil dari upaya mengenalkan kembali kearifan lokal melalui cara yang menyenangkan. 

Dan bagi siapapun yang datang, ini bukan hanya sekedar makan malam, tapi perjalanan singkat menilik masa lalu. (0)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow