Warna-warni Perayaan Hari Anak Nasional 2025 di Eks Lokalisasi Surabaya
Anak-anak eks lokalisasi Bangunrejo merayakan Hari Anak Nasional dengan mewarnai budaya, menjadikan krayon sebagai bahasa hak, dan panggung seni sebagai ruang tumbuh yang layak mereka miliki.
SURABAYA, SJP — Setiap anak di Indonesia berhak hidup, tumbuh, berkembang, dan dilindungi dari kekerasan maupun diskriminasi. Itu bukan sekadar wacana, tapi komitmen yang diperkuat lewat peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025.
Tahun ini, perayaan HAN kembali menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak anak bukan hanya urusan negara atau keluarga, tapi juga soal membuka ruang-ruang aman, kreatif, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang mereka.
Hak itu tak mengenal batas sosial, ekonomi, atau geografis. Hak itu milik semua anak, termasuk mereka yang tumbuh di kampung-kampung kota, di sudut-sudut yang dulu mungkin dilabeli negatif. Seperti anak-anak di kawasan eks lokalisasi Dupak Bangunrejo, Surabaya, yang kini tak hanya hidup dalam suasana baru, tapi juga punya panggung seni mereka sendiri.
Seni, Anak, dan Cara Mereka Merayakan HAN 2025
Dalam rangka HAN 2025, Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya dan Komunitas Hore menggelar kegiatan bertajuk “Saat Budaya Hidup di Jemari Anak-Anak Dupak Bangunrejo” yang bertempat di Sanggar Seni Omah Ndhuwur.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Mbangunredjo Art Festival, sebuah festival seni tahunan yang lahir dari semangat warga pasca penutupan lokalisasi.
Ratusan anak dari usia TK hingga SD memenuhi halaman sanggar. Di tangan mereka, gambar-gambar bertema budaya seperti tari tradisional, jaranan, wayang, dan cerita rakyat diwarnai dengan bebas. Setiap warna adalah ekspresi, setiap goresan adalah bentuk komunikasi mereka.
"Seni adalah cara anak-anak berbicara. Mewarnai adalah salah satu bahasa ekspresi yang bisa menjadi sarana untuk mereka menyampaikan isi hati," ujar Syaiful Bachri, Ketua Komnas PA Kota Surabaya, Minggu (27/7/2025).
"Kami ingin anak-anak punya ruang aman untuk berekspresi. Ini bagian dari perlindungan psikologis dan sosial yang sering kali luput dari perhatian publik," imbuh Syaiful yang akrab disapa Kak Ipul itu.
Lomba Kecil dengan Dampak Besar
Acara utama berupa lomba mewarnai Piala Komnas PA Kota Surabaya, namun tanpa tekanan kompetisi. Semua peserta, sekitar 100 anak mendapat piala dan dianggap sebagai juara.
"Hebatnya, semua anak adalah juara harapan bagi orangtua. Acara hebat, murah, dan berguna bagi kami," ungkap Ayah Azi, salah satu orangtua peserta.
Di sela lomba, para orangtua mengikuti sesi parenting dan konsultasi bersama Kak Ipul. Sementara itu, anak-anak binaan sanggar Seni Omah Ndhuwur juga menampilkan pertunjukan tari di panggung sederhana untuk mengiringi jalannya perlombaan.
Momen itu membuktikan bahwa pendidikan dan perlindungan anak bisa dirayakan bersama, dengan cara yang hangat dan inklusif.
Revitalisasi lewat Imajinasi
Dupak Bangunrejo bukan hanya lokasi, tapi juga simbol transformasi sosial. Dulu dikenal sebagai bagian dari wilayah lokalisasi terbesar di Surabaya, kini kawasan ini bergerak dengan semangat baru, terutama lewat seni dan kegiatan komunitas.
Sanggar Seni Omah Ndhuwur hadir sebagai pusat kegiatan anak dan warga, menawarkan ruang belajar, berlatih, dan berekspresi. Festival seni seperti Mbangunredjo Art Festival menjadi agenda rutin tahunan yang mempertemukan budaya dengan imajinasi anak-anak.
Dari tangan mungil mereka, tokoh wayang digambar dengan gaya kartun, motif batik dihiasi warna neon, dan cerita rakyat divisualkan dengan latar yang melompat dari konvensi. Semua ini membuktikan bahwa budaya bukan warisan yang beku, tapi sesuatu yang bisa terus dihidupkan, bahkan lewat krayon anak-anak.
Perayaan HAN di kawasan Bangunrejo menjadi bentuk nyata dari kepedulian bersama bahwa setiap anak berhak merasa dilindungi, merasa dihargai, dan merasa memiliki dunia ini. Dan di kampung yang dulu dianggap gelap, kini tumbuh cahaya dari dalam anak-anak yang berkarya, bercerita, dan menghidupkan budaya dengan caranya sendiri. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

