“Techno of Spiritualism”: Tafsir Pelukis Surabaya atas Spiritualitas di Era Serba Digital
Webeech tidak memosisikan teknologi sebagai musuh spiritualitas. Kesunyian digital, entah dalam bentuk waktu hening ketika membuka aplikasi saat akan terlelap atau saat mengetik pesan ke orang terkasih, adalah bentuk-bentuk spiritualitas baru.
SURABAYA, SJP - "Jadi inti yang saya ambil, serap, dan amati di era sekarang adalah, jangan-jangan teknologi itu dijadikan kepercayaan baru," ucap Webeech, Kamis (17/7/2025).
Kalimat yang terlontar dari pelukis asal Surabaya itu mungkin terdengar asing, aneh, bahkan bisa jadi kontroversial. Kendati demikian, sadarkah kita bahwa kini lonceng notifikasi bak sebuah panggilan yang tak terelakkan, dan scroll di sosial media sudah seperti meditasi yang bikin lupa sekitar.
Hal itulah yang ingin dituangkan oleh Webeech dalam lukisannya yang berjudul "Techno of Spiritualism", sebuah lukisan hitam putih berukuran 150x120 cm yang memiliki makna tersirat tentang bagaimana jika kita menikahkan ide tentang spiritualitas dan teknologi.
Spiritualitas Baru dari Layar Digital
Dalam lukisannya yang sempat dipamerkan dalam pameran hitam putih “Black & White Season 2” di Galeri Raos, Batu, Webeech menghadirkan simbol-simbol spiritual dan figur bersila yang terinspirasi dari keheningan ala kepercayaan Hindu-Buddha yang dicampur dengan sentuhan barang-barang futuristik.
"Kita lihat saja zaman sekarang, seorang Pastur, Kiai, Biksu, atau apapun kepercayaannya, saya yakin mereka sekarang juga pasti pegang gadget dengan alasan komunikasi, tak jarang dari mereka juga menyiarkan ajaran agama lewat gadget juga," jelas Webeech.
Menariknya, Webeech tidak memosisikan teknologi sebagai musuh spiritualitas. Ia justru mengusulkan pendekatan yang lebih radikal bahwa kesunyian digital, entah dalam bentuk waktu hening ketika membuka aplikasi saat akan terlelap atau saat mengetik pesan ke orang terkasih, adalah bentuk-bentuk spiritualitas baru.
"Spiritual itu tak pernah hilang, hanya berganti format," katanya.
Proses Singkat dari Perjalanan Panjang
Lukisan tersebut dibuat dengan akrilik di atas kanvas dalam waktu pengerjaan hanya satu minggu, menjelang pembukaan pameran di Raos pada bulan Juni lalu. Webeech sendiri mengaku tertantang oleh tenggat yang mepet dan keterbatasan material.
"Zona nyaman itu bikin leha-leha. Saya jujur tertantang untuk buat ini di injury time, padahal waktu itu peralatan dan bahan untuk melukis hitam putih juga belum beli," ucapnya dengan tawa.
Dalam proses pengerjaannya, Webeech bahkan merasakan bahwa teknologi juga mengubah cara dirinya dalam melukis. Dia tidak malu mengaku bahwa dirinya kerapkali terdistraksi oleh notifikasi di gadgetnya saat mengerjakan lukisan tersebut.
"Kalau sudah ada suara notifikasi, saya pasti langsung cek hp. Nah tapi kalau sudah pegang hp pasti yang dilihat bukan cuma satu aplikasi, pasti juga buka yang lainnya juga," katanya.
Meski begitu, Webeech tetap berhasil menyelesaikan lukisan tersebut sebelum tenggat waktu untuk mengikuti pameran di Galeri Raos. Proses yang terasa cepat, namun cepatnya proses tersebut adalah buah dari ide yang terkumpul dalam perjalanan yang panjang.
Sempat Vakum selama 20 Tahun
Webeech bukan nama baru di dunia perupa Surabaya. Ia sudah aktif melukis sejak 1990-an, namun memilih vakum selama hampir 20 tahun karena tuntutan ekonomi dan keluarga.
Webeech sempat memilih merantau dan bekerja di Jakarta, hingga akhirnya kembali ke seni lukis setelah pandemi COVID-19, ketika waktu luang dan gejolak batin memaksanya kembali menggenggam kuas yang sempat ia tinggalkan.
"Semua perubahan itu memang berawal dari Corona. Karena punya waktu luang banyak dan tidak bisa kemana-mana membuat imajinasinya yang dulu sempat tidak bisa dituangkan itu muncul kembali. Terlepas dari rasa frustasi saya terhadap kebijakan-kebijakan kala itu," terang Webeech.
"Dan dari pengamatan saya sejak zaman Corona hingga pasca pandemi, disitulah menurut saya muncul pintu pertama keasyikan orang pada teknologi, termasuk saya sendiri," imbuhnya.
Menyampaikan Pesan Lewat Dialog
Keputusan Webeech kembali ke dunia seni bukan sekadar untuk kesenangan semata. Layaknya seniman lain, ia juga ingin menyampaikan pesan kepada khalayak umum khususnya generasi muda.
Karena itu, dalam pameran Webeech tak hanya menggantungkan lukisannya di dinding. Tapi ia aktif menyapa pengunjung agar mereka tidak hanya untuk selfie tapi juga bisa diskusi.
"Kalau saya gak jemput bola, siapa yang akan tangkap pesan saya? Sekarang lihat pameran hanya buat story Instagram. Saya ingin ada komunikasi, bukan sekadar dokumentasi, karena dialog itu pasti diingat sampai kapanpun," ujarnya.
Kembali Mengembara
Kini, setelah hampir dua dekade, ia kembali membawa napas segar. Tidak untuk mengejar pasar atau pengakuan, tapi untuk memberi tawaran visual yang unik dan menarik. Termasuk daru lukisan "Techno of Spiritualism" yang mengingatkan tentang bagaimana kita, manusia yang terlalu terhubung di dunia maya, ternyata bisa tetap punya ruang batin.
"Mungkin spirit itu sudah tidak tinggal di candi atau tempat sunyi. Tapi dia masuk ke dalam mesin. Dan kita harus cari dia di sana," pungkasnya.
Webeech menyatakan niatnya untuk kembali terjun ke dunia seni dan kembali mengembara dengan ide-idenya. Ia bahkan sudah memantapkan niatnya untuk ikut ke Pameran Hitam Putih berikutnya, entah ide absurd apa lagi yang akan ia bawa, namun visual dan makna lukisannya terbukti menarik untuk dikupas.
"Jadi ya meskipun saya usianya masih muda gini (bercanda), saya juga tidak mau dong kalah dengan anak muda lainnya," tukas Webeech dengan canda. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

