Warga Gresik Sulap Sampah Organik Jadi Duit, Penjualan Capai 1,3 Juta Per Bulan

Sampah daun kering dan sisa dapur yang biasanya dianggap tak bernilai, di tangan pria berusia 37 tahun itu justru menjadi ladang rezeki.

08 Nov 2025 - 19:02
Warga Gresik Sulap Sampah Organik Jadi Duit, Penjualan Capai 1,3 Juta Per Bulan
Taufik saat aktivitas mengolah sampah organik. (Foto: Istimewa)

GRESIK, SJP — Achmad Taufik, warga Desa Wringinanom, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, berhasil menyulap tumpukan sampah organik menjadi ladang penghasilan. 

Sampah daun kering dan sisa dapur yang biasanya dianggap tak bernilai, di tangan pria berusia 37 tahun itu justru menjadi ladang rezeki. 

"Lumayan (uangnya) buat tambahan. Sebulannya antara Rp800 ribu hingga Rp1,3 juta," kata Taufik, Sabtu (8/11/2025).

Taufik mengatakan, keahlian mengolah sampah organik itu didapatkan dari pengetahuan saat bekerja di Tempat Pembuangan Sampah 3R (TPS3R).

Setiap harinya, ia sabar mengaduk tumpukan daun kering dan sisa makanan yang telah difermentasi di halaman rumahnya. Alih-alih jijik, ia justru melihat sampah organik sebagai peluang sebagai pupuk organik. 

"Kalau orang lain pusing sama sampah, saya justru seneng lihat daun kering dan kulit pisang. Itu bukan sampah, itu duit," jelasnya. 

Menurut dia, usaha rrumahan yang dimulainya sejak meninggalkan pekerjaannya di TPS3R lima tahun lalu, mulai berkembang pesat.

Dengan memanfaatkan halaman rumah sebagai lokasi pengomposan, Taufik mampu mengolah hingga dua ton sampah organik setiap produksi. 

Ia mengolah hasil kompos berwarna gelap dan bertekstur halus bisa dipanen setiap dua hingga tiga minggu sekali.

"Prosesnya sederhana tapi harus telaten. Kalau benar, hasilnya berkualitas dan banyak yang cari," tuturnya.

Saat ini, Taufik memilih memproduksinya dalam kemasan besar seberat 20 kilogram. Sebab pembeli lebih menyukai paket besar karena ekonomis.

"Dulu sempat jual ukuran kecil tapi yang banyak laku malah yang besar. Jadi sekarang fokus di 20 kilo," jelasnya.

Pembeli kompos racikan Taufik tak hanya datang dari sekitar lingkungannya. Pembelinya ada PKK, sekolah adiwiyata, dan para penghobi tanam-tanaman dari berbagai kecamatan di Wringinanom sendiri, ada pula Benjeng, Balongpanggang, sampai Gresik kota.

Bagi dia, tumpukan karung sak ini bukan sekadar pupuk melainkan hasil kerja keras, ketekunan, dan kepedulian pada bumi. Dari sampah organik, ia menanam harapan baru.

"Setiap karung yang terjual bukan cuma menambah uang di kantong, tapi juga mengurangi beban TPA. Kita cuma perlu melakukan aksi nyata," pungkasnya. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow