Wali Kota Batu Tegaskan Kesiapsiagaan Kolektif Hadapi Musim Hujan: “Penanganan Bencana Harus Preventif, Bukan Reaktif”
Dengan tema Mewujudkan Mbatu Sae Tangguh Bencana, apel siaga ink menjadi momentum mempertegas arah kebijakan Pemkot Batu dalam memperkuat kesiapsiagaan dan membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.
KOTA BATU, SJP – Pemerintah Kota Batu menunjukkan keseriusannya menghadapi potensi bencana di musim penghujan dengan menggelar Apel Kesiapan Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi di halaman Balai Kota Among Tani, Selasa (11/11/2025).
Apel dipimpin langsung oleh Wali Kota Batu, Nurochman, dengan melibatkan ratusan personel gabungan dari berbagai unsur mulai TNI–Polri, BPBD, Basarnas, PMI, Tagana, hingga jajaran OPD Pemkot Batu.
Dalam arahannya, Nurochman menekankan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya rutinitas tahunan, tetapi langkah konkret untuk memastikan seluruh sistem penanggulangan bencana di Kota Batu berjalan efektif dan siap siaga.
“Apel siaga ini bukan seremoni, ini bukti kesiapan kolektif. Penanganan bencana tidak boleh lagi bersifat reaktif, tetapi harus bergeser menjadi preventif. Semua unsur harus bersinergi agar masyarakat terlindungi,” tegasnya.
Ia menyebutkan, curah hujan diperkirakan meningkat tajam akibat dampak Fenomena La Nina yang berlangsung hingga awal 2026. Karena itu, koordinasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat mutlak dibutuhkan agar penanganan bencana bisa dilakukan secara cepat, efisien, dan terpadu.
Terlebih sepanjang 2024, Kota Batu mencatat 122 kejadian bencana, dengan 86 persen di antaranya tergolong bencana hidrometeorologi.
Tahun ini, hingga Oktober 2025, jumlahnya naik menjadi 149 kejadian, didominasi tanah longsor dan angin kencang. Meski demikian, indeks risiko bencana berhasil ditekan dari 81,0 pada 2023 menjadi 75,21 di 2024 berkat peningkatan mitigasi dan kesiapsiagaan lintas sektor.
Nurochman juga menegaskan pentingnya pentahelix, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media, sebagai pilar dalam membangun sistem ketangguhan bencana yang berkelanjutan.
“Kesiapsiagaan bukan hanya tugas pemerintah. Dunia usaha, media, dan masyarakat harus ikut berperan aktif. Kita ingin Kota Batu menjadi daerah yang tangguh, bukan hanya dalam menghadapi bencana, tapi juga dalam membangun kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan,” imbuhnya.
Pemkot Batu sendiri telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk pemetaan wilayah rawan bencana, revitalisasi saluran air dengan box culvert, hingga program susur sungai di lebih dari 90 titik aliran Sungai Sumberbrantas dan sekitarnya. Pelatihan relawan, satuan pendidikan aman bencana, serta digitalisasi sistem peringatan dini juga terus diperkuat.
“Kalau kita siap, dampak bisa diminimalkan. Ini bukan hanya urusan tanggap darurat, tapi soal bagaimana kita menjaga Kota Batu agar tetap aman dan tangguh,” pungkas Nurochman. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

