UWKS Hadirkan Kemasan Siap Jual untuk Produk UMKM Olahan Ikan Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya
Kemasan baru yang dirancang UWKS mengubah olahan ikan Kampoeng Oase dari sekadar produk rumahan menjadi komoditas bernilai jual, membuka peluang pemasaran dan identitas baru bagi UMKM setempat.
SURABAYA, SJP — Produk olahan selalu memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan bahan mentah. Daya tahannya lebih lama, pilihan variannya lebih banyak, dan peluang menjangkau pasar lebih luas. Namun agar sebuah produk olahan dapat benar-benar “naik kelas”, diperlukan perencanaan produksi, pemahaman keamanan pangan, branding yang tepat, hingga kemasan yang menarik dan siap jual.
Hal itulah yang kini diupayakan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) melalui program pengabdian kepada masyarakat di Kampoeng Oase Ondomohen. Sejak Juli, tim dari UWKS itu bukan hanya memberikan pelatihan olahan ikan, tetapi juga mempersiapkan kemasan produk sebagai tahap akhir sebelum UMKM setempat terjun ke pasar yang lebih luas.
Tim tersebut terdiri dari dosen lintas bidang, meliputi Fungki Sri Rejeki dari program studi Teknologi Industri Pertanian UWKS, Diana Puspitasari dari program studi Teknologi Industri Pertanian UWKS, dan Shofia Shidada dari program studi Informatika.
Adapun beberapa mahasiswa Teknologi Industri Pertanian yang juga tergabung dalam program PKM tersebut, diantaranya adalah Cindi Aulia Zahrani, Azza Aisac Aryadain Prodi dan Aldino Dwi Arnada.
Dari Pelatihan hingga Kemasan Siap Jual
Program tersebut berjalan melalui skema hibah Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Direktorat Jendral Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Mitra yang dipilih oleh UWKS sendiri adalah Kampoeng Oase Ondomohen, sebuah kampung yang terletak di jantung kota Surabaya yang memiliki budidaya ikan lokal. Melalui program tersebut, warga didorong untuk meningkatkan produk olahan ikan agar memiliki nilai tambah.
Ketua Tim Pelaksana, Fungki Sri Rejeki, menjelaskan bahwa program mencakup sosialisasi, pelatihan pengolahan ikan, penyediaan peralatan, hingga pembuatan kemasan dan kanal pemasaran digital.
"Dalam program ini kita melatih mulai dari pembuatan produk seperti katsu, sumpia, abon, dan stik ikan. kita juga menghibahkan alat-alatnya seperti freezer, showcase, dan hari ini juga kemasannya,” ujar Fungki, Minggu (23/11/2025).
Ia menambahkan bahwa total ada 1.800 kemasan clip-on yang diserahkan kepada mitra, masing-masing untuk empat jenis produk olahan. Tim juga membantu pembuatan akun Instagram serta perencanaan kehadiran di e-commerce, meskipun kanal jual online tersebut masih dalam tahap persiapan.
"Desainnya sudah jadi semua, tinggal nanti kampung ini memproduksi dan mengemasnya," katanya.
Selain dosen, tiga mahasiswa yang tergabung dalam program tersebut juga akan mendapatkan rekognisi MBKM sebagai bagian dari implementasi pembelajaran di luar kelas.
Penyempurnaan dari Pihak Kampoeng
Ketua Kampoeng Oase Ondomohen, Mus Mulyono, menyebut program ini memberi harapan baru bagi UMKM setempat. Pelatihan dasar telah selesai, namun penyempurnaan rasa akan terus dilakukan sebelum produk benar-benar dipasarkan.
"Secara rasa masih perlu penyempurnaan. Tapi kemasannya menurut kami sudah bagus dan layak diterima pasar," ungkapnya.
Saat ini pemasaran masih sebatas melalui WhatsApp Group, digunakan untuk koordinasi warga, informasi kegiatan, hingga menjual produk yang sudah ada. Meski begitu, Mus berharap Kampoeng Oase nantinya memiliki akun e-commerce sendiri.
Ia juga menyiapkan rencana untuk membuka booth penjualan sementara, sembari menunggu penyediaan tempat khusus dari salah satu hotel yang sudah berkomitmen bekerja sama.
"Kami ingin segera memproduksi sesuai kemampuan, lalu terus belajar menyempurnakan rasa," tambahnya.
Penguatan Identitas Wisata Berbasis Olahan Ikan
Pembina Kampoeng Oase Ondomohen, Adi Candra, menilai bahwa keberadaan produk olahan berkemasan khusus ini akan memperkuat daya tarik kampung wisata tersebut. Para pengunjung nantinya dapat membawa pulang produk olahan ikan sebagai oleh-oleh setelah mengikuti paket edukasi.
"Pelatihan dan pendampingan ini semakin melengkapi Kampoeng Oase sebagai kampung wisata dengan produk unggulannya," kata Adi.
Ia juga menekankan bahwa Kampoeng Oase kini berkembang menjadi Life Lab, yaitu ruang belajar bersama lintas kampus dan disiplin ilmu. Melalui program pemberdayaan berbasis pangan dan urban farming, kampung ini diarahkan menjadi model edukasi sirkular ekonomi yang berkelanjutan.
"Semoga Kampoeng Oase semakin siap mendunia dan memberi manfaat berkelanjutan," ujarnya.
Dengan adanya program hibah tahun ini, warga Kampoeng Oase Ondomohen kini memegang peralatan produksi, desain kemasan, dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk mulai memproduksi olahan ikan secara mandiri.
Tantangannya kini tinggal keberlanjutan produksi, konsistensi mutu, dan kesiapan melangkah ke pasar yang lebih luas melalui pemasaran digital dan sertifikasi produk. Produk olahan yang dulu hanya ide, kini telah memiliki identitas dan siap menuju rak-rak penjualan.
Kegiatan tersebut didukung penuh oleh HPAI (Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia) DPW Kota Surabaya, YLBA (Yayasan Lestari Bumi Abadi) Kota Surabaya, Kampoeng Oase Suroboyo Group, PERBANUSA (Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara) DPD I Jawa Timur, Forum GRADASI (Gerakan Sedekah Sampah Indonesia) Jawa Timur dan DPP IFTA (Indonesian Fighter Tourism Association) Jelajah Indonesia. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

