Solusi Kurangi Sampah Plastik, PCU Ajak Warga Siwalankerto Surabaya Buat Edible Plastic
Diikuti oleh total 228 mahasiswa, Kampung Binaan Mahasiswa IX yang diselenggarakan BEM Petra Christian University (PCU) di Kelurahan Siwalankerto, Surabaya, mengajak warga membuat edible plastic guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
SURABAYA, SJP - Masalah pencemaran lingkungan terutama sampah plastik, menjadi isu yang mengakar dari dulu untuk diselesaikan. Pasalnya, plastik adalah jenis sampah yang sulit dan membutuhkan waktu lama proses penguraiannya karena pada kenyataannya, kantong plastik sendiri misalnya, membutuhkan waktu 10 hingga 1000 tahun dan botol plastik membutuhkan waktu sekitar 450 tahun.
Untuk memberi solusi akan hal itu, dibutuhkan pengurangan sampah plastik dengan beralih menggunakan alat keseharian yang bermaterial berkelanjutan, seperti botol minum tumbler dan tas kain, sebagai pengganti produk plastik sekali pakai. Namun, untuk produk makanan ataupun minuman yang masih menggunakan kemasan solusi yang tepat adalah menggunakan material edible plastic.
Oleh karenanya sebagai upaya menekan penumpukan sampah plastik, Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya atau yang biasa disebut Petra Christian University (PCU) melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mengajak Kampung Binaan Mahasiswa IX di Kelurahan Siwalankerto, Surabaya, untuk membuat edible plastic.
Bertempat di Kantor Kelurahan Siwalankerto, Surabaya, kegiatan ini dikemas dengan acara Workshop atau Lokakarya yang diikuti total 228 mahasiswa itu dipandu langsung oleh dua dosen Food Technology PCU Renny Indrawati, dan Yosinta Christie Setiabudi.
Kegiatan dibagi menjadi dua sesi, total ada 43 kelompok berisi masing-masing tiga mahasiswa yang berpartisipasi. Dalam setiap tim, satu warga ikut belajar bersama mereka untuk membuat edible plastic.
Ketua Panitia kegiatan, Marcell Nathaniel Julian menyampaikan dalam kegiatan ini mahasiswa dan warga saling belajar langkah demi langkah dalam proses pembuatan edible plastic secara sederhana.
"Pembutannya yaitu dengan mencampurkan bahan-bahan alami seperti tepung tapioka, gliserol, dan air, kemudian dipanaskan hingga membentuk lembaran plastik yang dapat terurai dan bahkan aman untuk dikonsumsi,” jelas Marcell, Minggu (23/11/2025).
Di kegiatan ini, Marcell menuturkan para mahasiswa dan warga, bisa langsung menggunakan edible plastic itu untuk menaruh teh, kopi, dan gula, lalu menyeduhnya.
"Melalui workshop ini, baik warga maupun mahasiswa tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya inovasi dan gaya hidup yang bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan," tutur Marcell.
Selain belajar mengenai edible plastic, Marcell menyebutkan, panitia juga mengajak para mahasiswa untuk memberikan dampak nyata kepada warga, yakni dengan membuat ecobricks pada hari ini Minggu (23/11/2025).
Diterangkannya, sejumlah 33 tim mahasiswa membuat ecobricks dengan mengisi botol plastik bekas menggunakan sampah plastik hingga menjadi padat. Setelah itu disusun menjadi pot atau wadah tanam. Bersama-sama, mereka saling menanam bibit cabai di dalamnya.
“Ecobricks tersebut kemudian diberikan kepada warga di Gang Pisang,” imbuh Marcell.
Gang Pisang yang terletak di wilayah Siwalankerto, Surabaya, adalah kawasan permukiman padat penduduk dengan ruang terbuka hijau yang terbatas. Kondisi ini memberi peluang besar untuk pengembangan penghijauan yang lebih optimal, guna meningkatkan kualitas lingkungan dan kenyamanan warga.
Pada akhir sesi, Marcell selaku Ketua Panitia KBM IX berharap agar acara ini memberikan dampak yang nyata dan signifikan bagi warga.
“Kegiatan ini menjadi wadah bagi warga dan mahasiswa untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian ruang terbuka hijau serta pengelolaan sampah yang baik. Semoga setelah ini mereka juga bisa mempraktikkan pembuatan dan penggunaan edible plastic serta ecobricks dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

