UMKM Bisa Ekspor! Kemendag Siapkan 46 Perwakilan Perdagangan di 33 Negara
46 perwakilan perdagangan (perwadag) Kementerian Perdagangan RI di 33 negara siap membantu UMKM dalam menggali informasi pasar hingga mempertemukan dengan calon pembeli potensial (buyer) melalui forum penjajakan bisnis (business matching).
KEDIRI, SJP — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong untuk tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga aktif menjalin koneksi internasional dengan memanfaatkan keberadaan 46 perwakilan perdagangan (perwadag) Kementerian Perdagangan RI di 33 negara.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan bahwa perwadag siap membantu UMKM dalam menggali informasi pasar hingga mempertemukan dengan calon pembeli potensial (buyer) melalui forum penjajakan bisnis (business matching).
Pesan ini disampaikan Wamendag Roro saat meninjau langsung kegiatan produksi UMKM Tenun Medali Mas di Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul, Kediri, Jawa Timur, Jumat (18/7). Dalam kunjungan tersebut, Wamendag didampingi Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati dan Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag, Ari Satria.
“Setiap negara memiliki karakteristik pasar yang berbeda. Produk kita, seperti tenun penuh corak, mungkin sangat diminati di Afrika, tetapi kurang cocok untuk pasar Eropa yang cenderung menyukai desain yang lebih polos atau minimalis. Inilah pentingnya pelaku UMKM memahami selera pasar tujuan ekspor,” ujar Wamendag Roro.
Menurutnya, penyesuaian produk berdasarkan preferensi pasar dapat membuka peluang ekspor yang lebih luas dan meningkatkan daya saing UMKM di pasar global. “Dengan memanfaatkan dukungan perwakilan perdagangan di luar negeri, UMKM bisa lebih tepat sasaran dalam melakukan ekspansi pasar,” tambahnya.
Kunjungan ini juga menjadi ajang dialog Wamendag dengan pendiri UMKM Medali Mas, Siti Ruqoyah, yang saat ini mempekerjakan 15 tenaga kerja perempuan. Siti menyampaikan pentingnya regenerasi perajin serta dukungan promosi dan pelatihan dari pemerintah untuk mengembangkan pasar. Ia juga mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kota Kediri yang sejak 2010 telah mewajibkan penggunaan tenun ikat sebagai pakaian kerja, sebagaimana tertuang dalam Instruksi Wali Kota Kediri No 4 Tahun 2010.
Kampung Tenun Ikat Bandar Kidul sendiri merupakan sentra kerajinan tenun yang sudah eksis sejak era Kerajaan Kediri dan berkembang pesat sejak tahun 1950-an. Kini, lebih dari 400 perajin mengoperasikan lebih dari 150 alat tenun bukan mesin (ATBM) dan memproduksi tidak hanya kain, tetapi juga beragam produk fesyen dan aksesori seperti tas, sepatu, syal, dan dompet. Produk mereka telah masuk pasar Timur Tengah dan Singapura, namun membutuhkan perluasan pemasaran ke negara-negara lainnya.
Selain sebagai sentra industri kreatif, kawasan ini juga menjadi desa wisata yang menawarkan edukasi tenun, atraksi budaya, homestay, dan kuliner lokal. Pemerintah Kota Kediri bersama DPMPTSP, Dekranasda, dan akademisi turut mendorong penguatan kualitas, branding, dan strategi pemasaran produk UMKM di kawasan ini.
Wamendag berharap pelaku UMKM seperti Medali Mas dapat makin proaktif mengakses informasi pasar global dan memanfaatkan peran strategis perwadag RI untuk meningkatkan skala usahanya hingga ke pasar internasional. (**)
Editor : Danu S
What's Your Reaction?

