UIN Satu Tulungagung Pecahkan Rekor Dunia dengan Ribuan Tempat Sampah Bambu
UIN Satu Tulungagung pecahkan rekor MURI lewat 3.648 tempat sampah bambu. Program ini sekaligus dukung gerakan ekologi, edukasi mahasiswa, dan lestarikan kearifan lokal.
TULUNGAGUNG, SJP — Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN Satu) Tulungagung kembali mencatatkan prestasi di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Kampus itu memecahkan rekor pembuatan tempat sampah bambu terbanyak dengan 3.648 unit.
Perwakilan MURI, Sri Widayati, menyampaikan bahwa pencapaian ini bukan kali pertama diraih UIN Satu Tulungagung. Sebelumnya, kampus tersebut pernah menorehkan rekor buku tertebal karya mahasiswa baru pada Agustus 2022.
Selain itu, pada 2020 UIN Satu juga mencatat rekor kaligrafi Asmaul Husna terpanjang sepanjang 1.500 meter. Rekor terbaru dinilai istimewa karena memanfaatkan kearifan lokal berupa bambu yang banyak tumbuh di Tulungagung.
“Jumlahnya 3.648 unit, sehingga berhasil melampaui rekor sebelumnya yang dibuat Pemkab Bandung dengan 2.399 unit. Dengan demikian, rekor ini kini dipegang UIN Satu Tulungagung,” jelas Sri Widayati, Selasa (26/8/2025).
Rektor UIN Satu Tulungagung, Abdul Aziz, menuturkan bahwa kegiatan ini tidak sekadar pemecahan rekor, tetapi bagian dari program kampus mendukung Gerakan Ekologi Kementerian Agama.
Salah satu wujudnya melalui Rally Green yang melibatkan mahasiswa baru agar sadar kebersihan lingkungan sejak awal kuliah. Kampus ingin generasi Z memiliki kepedulian terhadap bumi.
“Lewat kegiatan ini, mereka belajar bahwa banyak potensi di sekitar yang bisa dimanfaatkan dengan bijak, seperti bambu yang kemudian diolah menjadi tempat sampah,” ungkap Abdul Aziz.
Terkait ribuan tempat sampah bambu yang telah dibuat, pihak kampus berkoordinasi dengan desa, Dinas Sosial, dan Dinas Pariwisata untuk mendistribusikannya ke berbagai lokasi, termasuk kawasan wisata Tulungagung.
“Kita tahu masih ada destinasi wisata yang kebersihannya kurang terjaga. Ini langkah awal sekaligus bentuk edukasi, bukan hanya untuk masyarakat, tetapi juga mahasiswa agar mindset peduli lingkungan tertanam sejak awal,” tambahnya.
Selain rekor MURI, UIN Satu juga menyiapkan program penghijauan dengan penanaman pohon langka di lingkungan kampus. Saat ini sudah tersedia 41 jenis bibit pohon, antara lain kelerak, nogosari, majapait, dan mindi.
Pohon-pohon tersebut nantinya diberi kode barcode berisi informasi manfaat dan filosofi, sehingga bisa menjadi bahan penelitian mahasiswa sekaligus sarana edukasi bagi pelajar sekolah.
“Konsep ini agar lima sampai sepuluh tahun mendatang kampus bisa menjadi pusat edukasi lingkungan. Filosofinya sederhana, bagaimana kita kembali pada alam. Bahkan pohon kelerak bisa dijadikan bahan dasar deterjen alami yang lebih sehat dibanding produk berbahan kimia,” terangnya.
Dengan pemecahan rekor ini, UIN Satu Tulungagung berharap mahasiswa tidak hanya bangga, tetapi juga semakin sadar pentingnya menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, serta mengembangkan kearifan lokal demi keberlanjutan hidup di masa depan. (*)
Editor: Ali Wafa
What's Your Reaction?

