Ubah Dunia, Satu Buku Setiap Waktu: Kembalinya Sang Serigala dan 350 Ribu Buku ke Surabaya dalam BBW 2025
Di tengah dominasi layar, seorang anak membalik halaman buku, pelita kecil yang berusaha bertahan, menandai kembalinya Surabaya sebagai medan perlawanan terhadap krisis literasi.
SURABAYA, SJP - Di ruang sunyi sebuah rumah, seorang anak membalik halaman demi halaman buku bergambar. Tak ada layar biru yang berkedip, tak ada suara notifikasi yang mengganggu. Hanya cerita, imajinasi, dan rasa ingin tahu yang tumbuh perlahan, itu adalah sebuah pemandangan yang kini semakin langka.
Di tengah derasnya arus digital, buku cetak, terutama untuk anak-anak, seperti pelita kecil yang berusaha bertahan di antara angin kencang. Namun, benih perubahan kerap tumbuh dari tempat yang tak terduga qdan Surabaya, sekali lagi, menjadi ladangnya.
Menurut data UNESCO, Indonesia pernah menempati peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Sementara itu, survei Most Literate Nations (2016) yang dikutip oleh Perpusnas RI menempatkan Indonesia di posisi 59 dari 61. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan refleksi dari tantangan budaya yang perlu dihadapi bersama.
Ketika membaca tidak lagi menjadi kebiasaan, masa depan perlahan kehilangan fondasinya. Namun, satu buku bisa mengubah segalanya dan itulah misi yang diusung Big Bad Wolf (BBW) Surabaya 2025 dengan tema “Changing the World One Book At a Time”.
Kembalinya Sang Serigala Besar ke Kota Pahlawan
Setelah dua tahun absen, BBW kembali menjadikan Surabaya sebagai pemberhentian pertama dalam tur literasinya tahun ini. Digelar di Surabaya Convention Center, Pakuwon Mall-PTC, BBW Surabaya akan berlangsung dari 9 hingga 18 Mei 2025, dibuka setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB dengan akses gratis bagi semua pengunjung.
Dalam acara konferensi pers BBW yang digelar di Museum Pendidikan Kota Surabaya, Direktur BBW Indonesia, Marthius Wandi Budianto menjelaskan alasan memilih Surabaya sebagai kota pembuka.
"Orang itu terakhir ada di Surabaya tahun 2023. Kita sadar, ini kayaknya udah lama banget kita nggak balik. Takutnya juga masyarakat di Surabaya juga lupa nih ada Big Bad Wolf," ujar Marthius, Rabu (30/4/2025).
Tahun ini, BBW hadir dengan skala lebih besar menempati area 5.000 meter persegi dan membawa lebih dari 350.000 buku. Bukan hanya buku anak dan fiksi populer, pengunjung akan menemukan berbagai genre dari literatur klasik, desain, bisnis, self-development, hingga kesehatan mental.
Tidak hanya itu, buku-buku internasional dan koleksi berbahasa Indonesia hadir berdampingan, menjangkau beragam kalangan pembaca.
Harga, Harapan, dan Halaman yang Mengubah
Yang membedakan BBW tahun ini tak hanya jumlah buku, tetapi juga keberanian untuk menjadikan buku sebagai alat perubahan sosial. Beberapa buku dijual mulai dari harga Rp 100, dan akan ada program “top spender” yang memberi ruang bagi para pencinta buku untuk berburu lebih giat.
"Kampanye banyak, bukunya banyak, dan juga harapannya tentu biar teman-teman makin banyak yang jadi pembaca. Bisa ngajak keluarga, teman, tetangga ke acara ini," ujar Marthius.
Ia menambahkan bahwa sekitar 70 persen koleksi BBW adalah buku anak-anak. Namun genre self-development, bisnis, dan psikologi juga terus menunjukkan permintaan tinggi.
Narasi dari Para Penjaga Literasi
Pendiri BBW, Andrew Yap, turut hadir di Surabaya dan membagikan kisah bagaimana mimpi BBW bermula dari Malaysia, lalu berkembang ke 49 kota di 17 negara, menunjukan bagaimana perjalanan panjang yang sudah dilalui oleh BBW.
"Kami ingin membuat buku lebih terjangkau dan mudah diakses siapa saja, di mana saja," katanya singkat.
Dari sisi psikologis, Bunda Watiek Ideo, penulis buku anak dan praktisi psikologi asal Surabaya, menekankan pentingnya memperkenalkan buku sejak dini.
"Membaca bukan hanya membuka pintu ilmu, tapi juga membangun karakter anak sejak dini. Perubahan besar berawal dari langkah kecil di rumah," ujarnya.
Bagi Watiek, BBW bukan sekadar bazar buku, tetapi simbol gerakan literasi yang menjangkau anak-anak dari berbagai lapisan.
Investasi Jangka Panjang Bernama Literasi
BBW Surabaya 2025 juga kembali didukung oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA), yang memberikan penawaran khusus untuk nasabah. Namun di balik dukungan itu, ada pesan yang lebih dalam.
"Dukungan BCA terhadap BBW sejalan dengan komitmen kami untuk terus meningkatkan literasi di Indonesia, karena literasi adalah investasi jangka panjang bagi masa depan," ucap I Ketut Alam Wangsawijaya, EVP Transaction Banking Business Development BCA yang juga turut hadir dalam konferensi pers.
Menemukan Dunia dalam Lembaran Buku
Di tengah dominasi layar, BBW Surabaya 2025 menawarkan pelarian yang bermakna: bertemu kembali dengan dunia yang tercetak di atas kertas. Mungkin tak semua anak akan tumbuh menjadi penulis atau ilmuwan, tapi setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk bermimpi dan seringkali, mimpi itu dimulai dari satu buku, satu halaman, satu kata pertama. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

