Transisi ke Padi Organik, Kota Batu Prioritaskan Kualitas dan Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Pemkot Batu menegaskan, transformasi menuju pertanian organik bukan hanya soal beras hari ini, tetapi investasi jangka panjang untuk keberlanjutan pangan, lingkungan, dan kesejahteraan petani di masa depan.
KOTA BATU, SJP - Kota Batu kini mulai menapaki fase baru pembangunan pertanian. Di tengah meningkatnya luas lahan panen padi sepanjang 2025, pemerintah daerah menegaskan bahwa arah kebijakan pertanian tidak lagi semata mengejar lonjakan produksi, melainkan menata sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan melalui transisi ke padi organik.
Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto pada Selasa (3/2/2026) menguraikan berdasarkan data BPS Kota Batu mencatat, luas panen padi pada 2025 mencapai 553,28 hektare atau naik 9,94 persen dibanding tahun sebelumnya.
Meski produksi gabah kering giling (GKG) mengalami penurunan, Pemkot Batu menilai kondisi tersebut sebagai bagian dari proses adaptasi pola tanam petani yang mulai mengurangi ketergantungan pada input kimia.
"Pergeseran ini tampak jelas di Kecamatan Junrejo, khususnya Desa Pendem, yang konsisten mengembangkan varietas padi organik. Apalagi pertanian organik memang tidak didesain untuk hasil instan dalam jumlah besar, tetapi menawarkan nilai tambah jangka panjang dari sisi kesehatan tanah, lingkungan, dan kualitas beras," urainya.
Dari hal tersebut, Pemkot Batu menerapkan perubahan orientasi dimana petani mulai membangun sistem tanam yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sehingga dalam jangka panjang justru memperkuat ketahanan pangan.
Karakteristik Kota Batu yang memiliki keterbatasan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) turut memperkuat arah kebijakan tersebut. Dengan wilayah yang lebih dominan hortikultura, pengembangan padi diarahkan pada efisiensi lahan dan kualitas produksi, bukan ekspansi besar-besaran seperti daerah sentra beras.
"Meski produksi beras 2025 tercatat 1.969,04 ton atau turun dari tahun sebelumnya, Pemkot Batu memastikan stok pangan tetap terjaga dengan memanfaatkan teknologi citra satelit dan data Kerangka Sampel Area (KSA) untuk memantau siklus tanam, memetakan potensi panen, serta mengantisipasi fluktuasi produksi," imbuhnya.
Ditambah pada periode Oktober hingga Desember 2025 saja, tercatat sekitar 145 hektare lahan padi siap panen dengan estimasi produksi gabah mencapai 1.293,27 ton. Angka ini menjadi indikator bahwa potensi pertanian padi di Kota Batu masih cukup solid di tengah proses transisi. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

