Tokoh Lintas Agama di Surabaya Serukan Perdamaian, Ingatkan Pejabat Tidak Hedon di Tengah Penderitaan Rakyat
Tokoh lintas agama Surabaya menyerukan persatuan, mengingatkan aparat hindari tindakan represif, dan menegur pejabat publik agar tidak pamer kemewahan di tengah gejolak sosial politik dan rakyat yang sedang sulit.
SURABAYA, SJP - Menyusul ketegangan sosial politik yang meluas di berbagai daerah pekan lalu, tokoh lintas agama di Surabaya mengeluarkan pernyataan sikap bersama. Selain menyerukan pesan perdamaian, mereka juga mengingatkan penguasa agar tidak mempertontonkan kemewahan di tengah penderitaan rakyat.
Di Kota Pahlawan sendiri, gelombang konflik yang terjadi bahkan sempat membuat salah satu ikon bangunan Jawa Timur, yakni Gedung Negara Grahadi terbakar. Bahkan aktivitas perekonomian, kesenian hingga olahraga lokal terkena dampak.
Pernyataan Sikap Lintas Agama
Menanggapi gejolak tersebut, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya memprakarsai pernyataan sikap yang diikuti oleh jajaran organisasi lintas agama, diantaranya:
- Muhammadiyah Kota Surabaya
- Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Surabaya
- Gereja Katolik Keuskupan Surabaya
- Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Surabaya
- Yayasan Tempat Ibadah Mbah Ratu Tri Dharma Surabaya
- Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Surabaya
- Majelis Buddhayana Indonesia Surabaya
Ketua PCNU Surabaya Masduki Toha menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan ikhtiar bersama menjaga persatuan. Khususnya agar masyarakat bisa merasa lebih tenang dan aman dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
"Surabaya ini milik kita bersama. Sebagai Kota Pahlawan, harus kita jaga dan rawat bersama. Maka kami menyampaikan sikap ini agar semua pihak merasa memiliki tanggung jawab yang sama," ujar Masduki saat dikonfirmasi pada Senin (1/9/2025).
Masduki juga menekankan pentingnya komitmen bersama dalam merawat kerukunan lintas iman. Baginya, organisasi keagamaan memiliki peranan penting dalam mengingatkan seluruh pihak agar bisa menjaga kenyamanan dan kesejukan.
"Intinya, semua niat baik ini adalah untuk memastikan Surabaya tetap rukun, damai, dan menjadi teladan bagi Indonesia," imbuhnya.
Menurutnya, pesan yang disampaikan dalam pernyataan sikap bukan hanya untuk hari ini saja, melainkan juga pesan masa depan bagi generasi mendatang.
"Kita semua memiliki tanggung jawab, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga demi anak-anak, cucu, dan generasi penerus kita agar mereka mengerti arti sesungguhnya dari Surabaya yang damai dan penuh persaudaraan," pesan Masduki.
Isi Pernyataan Sikap Lintas Agama Surabaya:
- Menyatakan turut berbelasungkawa atas adanya korban jiwa di sejumlah daerah akibat konflik sosial, aksi unjuk rasa, dan kerusuhan. Doa dipanjatkan agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, keteguhan hati, dan kekuatan iman.
- Aparat keamanan dan ketertiban hendaknya mengedepankan sikap persuasif serta menghindari tindakan represif dalam menangani massa aksi.
- Masyarakat diimbau menjaga fasilitas umum sebagai aset rakyat, serta mengutamakan sikap arif demi kepentingan bersama.
- Pejabat publik, baik anggota DPR, DPRD, maupun kepala daerah, hendaknya berkomunikasi dengan masyarakat dan tidak mempertontonkan gaya hidup bermewah-mewahan.
- Pejabat publik dan pemimpin bangsa senantiasa memandang rakyat dengan kehormatan dan kemuliaan. Prinsip vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan) harus dijunjung, sebagaimana konsep kepemimpinan Islam audah istirja’ (suara rakyat adalah kemaslahatan rakyat).
- Seorang pemimpin adalah pemegang amanah untuk mewujudkan kemaslahatan rakyat.
- Semua pejabat dan seluruh komponen masyarakat agar memperkuat silaturahim, demi mewujudkan persaudaraan, persatuan, dan kesantunan.
Pernyataan sikap itu telah ditandatangani oleh seluruh pihak pada Minggu (31/8/2025) di Kantor PCNU Kota Surabaya sebagai bentuk komitmen nyata dari organisasi keagamaan di Surabaya dalam menjaga kota agar tetap aman, damai, dan kondusif. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

