Tidak Punya Lokasi Lain, Keluarga di Trenggalek Tinggal di Rumah yang Terancam Ambruk akibat Tanah Gerak
Bahkan, sebagian pondasi sepanjang sekitar 12 meter kini menggantung akibat tanah amblas dan hanya ditopang batu sebagai penanganan darurat.
TRENGGALEK, SJP - Kondisi rumah milik Bari (71), warga Dusun Gading, Desa Jombok, Kecamatan Pule, Trenggalek, kian memprihatinkan. Berdiri di atas tanah yang terus bergerak, lantai dan dinding rumah mengalami retak-retak di hampir semua bagian.
Bahkan, sebagian pondasi sepanjang sekitar 12 meter kini menggantung akibat tanah amblas dan hanya ditopang batu sebagai penanganan darurat. Setiap hujan turun, retakan selalu bertambah parah.
Menurut Bari, tanda-tanda pergerakan tanah di rumahnya terlihat sejak tiga tahun yang lalu. Saat itu hanya muncul retakan kecil dan dianggap tidak sampai merusak bangunan. Namun pada Rabu (19/11/2025), retakan melebar antara 30 hingga 50 sentimeter, dengan kedalaman mencapai 2,5 meter.
Meski kondisinya mengkhawatirkan dan sudah direkomendasikan untuk pindah, Bari dan keluarganya yang berjumlah enam orang tetap memilih bertahan.
“Retak-retak paling parah itu mulai tiga tahun lalu. Yang paling parah itu Selasa malam menjelang Rabu. Pondasi semuanya retak-retak, kedalamannya dua meter setengah,” ujar Bari.
Saat ditanya alasan tetap menghuni rumah rusak tersebut, Bari mengaku tak punya pilihan lain. Ia tidak memiliki lokasi lain selain tanah yang saat ini telah ditempati selama 23 tahun tersebut.
“Masih saya tempati. Tidak takut, Pak. Pokoknya nyisih-nyisih (cari tempat aman). Kalau hujan, retaknya tambah parah,” katanya.
Pemerintah Desa Jombok mengaku sudah melakukan survei lokasi, namun belum bisa berbuat banyak karena Bari tidak memiliki lahan lain untuk relokasi. Kepala Desa Jombok, Nursalim, menyebut rumah tersebut memang mengalami kerusakan berat akibat tanah gerak.
“Kondisinya retak-retak berat. Kami sebenarnya sudah menyarankan pindah ke tempat yang lebih aman, tapi beliau tidak mau karena tidak punya tanah lain,” jelasnya.
Menurut Nursalim, pihak desa hanya bisa memberikan bantuan sebatas kemampuan.
“Kami berikan sembako sekadarnya dan kami selalu siap gotong royong kalau dibutuhkan. Kalau kondisinya terus bertambah parah, pemerintah desa siap membantu semampunya,” ujarnya.
Hingga kini, Bari dan keluarganya masih tinggal di rumah yang berada di bawah ancaman longsor akibat tanah gerak yang terus berkembang. Pemerintah desa berharap kondisi tidak semakin memburuk dan warga tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

