Terungkap di 3 Kampus Surabaya, Kasus Joki UTBK Unesa Dilimpahkan ke Polisi
Temuan di tiga kampus ini menunjukkan pola modus yang serupa, yakni penggunaan identitas asli dengan manipulasi foto untuk menggantikan peserta ujian. Memunculkan dugaan adanya jaringan terorganisir dalam praktik joki UTBK.
SURABAYA, SJP – Kasus dugaan praktik joki dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kini memasuki babak baru. Pihak kampus telah melimpahkan kasus tersebut ke kepolisian, dan saat ini tengah dalam proses pendalaman oleh aparat penegak hukum.
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Edy Herwiyanto, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima pelimpahan kasus tersebut dan mulai melakukan penyelidikan lebih lanjut.
"Iya, benar (dugaan joki UTBK Unesa dilimpahkan ke Polrestabes Surabaya)," ujar Edy saat dikonfirmasi pada Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan, hingga saat ini proses masih berjalan dan belum dapat mengungkap secara detail terkait motif maupun pola kejahatan yang digunakan pelaku.
"Mohon waktu, masih kami proses," ucapnya.
Kasus tersebut pertama kali terendus setelah pihak kampus menemukan kejanggalan pada data peserta, khususnya pada penggunaan foto yang diduga digunakan berulang dalam dua periode UTBK berbeda.
Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, menjelaskan bahwa foto yang sama terdeteksi memiliki tingkat kemiripan hingga 95 persen, digunakan dalam UTBK tahun 2025 dan 2026.
"Memang kemudian kita menemukan ada potensi sebuah foto dengan tingkat kemiripan hampir 95 persen. Foto ini digunakan di dua pelaksaan yang berbeda," terang Martadi.
Ia mengungkapkan bahwa pada pelaksanaan tahun sebelumnya, identitas tersebut sempat digunakan di Universitas Airlangga (Unair), namun peserta tidak hadir saat ujian berlangsung.
"Tahun yang lalu dia sudah gunakan untuk tes yang tempatnya di Unair. Tetapi saat itu yang bersangkutan tidak datang," ungkapnya
Pelaku yang diamankan berinisial H, berusia sekitar 23–24 tahun. Ia diduga berperan sebagai joki dengan menggunakan identitas milik orang lain, namun mengganti foto pada dokumen resmi.
Awalnya, pelaku mengaku berasal dari Madura, namun pernyataan tersebut diragukan setelah tidak mampu berkomunikasi menggunakan bahasa setempat.
"Awalnya bilang Madura, sesuai data pengguna joki itu, kemudian kita tes tanya pakai Bahasa Madura tidak bisa menjawab," jelas Martadi
Dari hasil pemeriksaan, diketahui pelaku hanya membawa KTP dan ijazah atas nama orang lain. Pihak kampus kemudian melakukan verifikasi ke sekolah asal dan memastikan bahwa ijazah tersebut asli, tetapi foto di dalamnya telah dimanipulasi.
"Tapi hebatnya ijazah yang dibawa dengan foto yang diganti itu stempel basah," terangnya
Selain itu, temuan lain yang memperkuat dugaan adanya praktik terorganisasi adalah ditemukannya sejumlah blangko KTP siap cetak di kendaraan pelaku.
Berdasarkan pengakuan pelaku, aksi tersebut dilakukan untuk membantu calon mahasiswa asal Madura yang mendaftar ke program studi kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.
Pihak Unesa menegaskan bahwa laporan yang disampaikan ke kepolisian berfokus pada penggunaan data palsu dalam pelaksanaan ujian.
"Yang kami adukan adalah mereka melakukan tes, dan menyalahi ketentuan tes menggunakan data palsu dan seterusnya," ungkap Martadi.
Terkait peserta yang menggunakan jasa joki, pihak kampus menyebut belum dapat melaporkannya secara langsung. Namun, tidak menutup kemungkinan akan ikut terseret jika penyidikan berkembang.
"Kalau kemudian nanti polisi mengembangkan lebih lanjut ya, untuk didalami dan kemudian dua-duanya ditemukan tindak pidana, ya tidak menutup kemungkinan akan berimbas," tandas Martadi.
Meski begitu, Unesa memastikan bahwa peserta yang terlibat tidak akan diterima di perguruan tinggi negeri manapun.
Kasus Serupa Terdeteksi di Dua Kampus Lain
Selain di Unesa, praktik serupa juga terdeteksi di dua kampus negeri lain di Surabaya, yakni Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT) dan Universitas Airlangga (Unair).
Di UPNVJT, dugaan joki terungkap saat pengawas mencurigai salah satu peserta yang terlihat gelisah saat mengikuti ujian sesi pertama. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan ketidaksesuaian identitas antara peserta dan data resmi.
Staf Humas UPNVJT, Nizwan Amin, menyatakan pihak kampus telah melaporkan temuan tersebut ke panitia pusat UTBK.
"Kami sudah mencatat dalam berita acara dan melaporkannya ke pusat. Saat ini masih kami proses secara internal," jelas Amin.
Sementara itu di Unair, panitia menemukan indikasi dari kesamaan foto peserta dengan data tahun sebelumnya. Namun, peserta yang bersangkutan tidak hadir saat pelaksanaan ujian.
Ketua Pusat Humas dan Protokol Unair, Pulung Siswantara, menyebut pihaknya telah mewaspadai potensi tersebut sejak awal.
"Fotonya terindikasi sama dengan peserta tahun 2025 sehingga sudah kami waspadai. Namun, yang bersangkutan tidak hadir di Unair," ujar Pulung.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa secara keseluruhan pelaksanaan UTBK di Unair berjalan lancar tanpa temuan pelanggaran lain.
Pola Modus Serupa, Indikasi Jaringan
Temuan di tiga kampus ini menunjukkan pola modus yang serupa, yakni penggunaan identitas asli dengan manipulasi foto untuk menggantikan peserta ujian. Di Unesa, praktik tersebut bahkan sempat berhasil dijalankan sebelum akhirnya terdeteksi melalui pencocokan data lintas tahun dan verifikasi ke sekolah asal.
Kasus itu kini membuka kemungkinan adanya jaringan terorganisir dalam praktik joki UTBK, terutama dengan ditemukannya dokumen pendukung seperti blangko identitas.
Penyelidikan lebih lanjut oleh kepolisian diharapkan dapat mengungkap aktor-aktor lain yang terlibat, termasuk pihak yang menggunakan jasa joki demi lolos ke program studi favorit. (*)
Editor: Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

