Tembus Ratusan Kasus, Pemkot Mojokerto Tekankan Kewaspadaan Penularan TBC

TBC kini telah menjadi perhatian serius di tingkat nasional. Indonesia, yang semula berada di peringkat kesembilan dunia, kini melonjak ke peringkat kedua untuk jumlah penderita TBC, hanya di bawah India, dalam kurun waktu lima tahun.

22 Oct 2025 - 07:57
Tembus Ratusan Kasus, Pemkot Mojokerto Tekankan Kewaspadaan Penularan TBC
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari (pegang microfon) saat paparkan bahaya TBC kepada masyarakat. (Kominfo for SJP)

KOTA MOJOKERTO, SJP - Kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Mojokerto telah mencapai angka kritis, menembus 606 jiwa. Menanggapi kondisi ini, Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, secara tegas menyerukan peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap penularan penyakit menular tersebut.

Penegasan ini disampaikan Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita tersebut dalam kegiatan Rapat Koordinasi Atasi Tuberkulosis dan Penyakit Menular Lainnya (RADIASI PEMULA) di Kelurahan Sentanan, Kecamatan Kranggan, pada Selasa (21/10/2025). 

Acara ini yang dihadiri oleh Kader Motivator, Prameswari, serta Ketua RT/RW se-Kelurahan Sentanan ini bertujuan menguatkan pemahaman dan peran aktif komunitas dalam pencegahan serta pelaporan dini penyakit menular.

Ning Ita menekankan bahwa TBC kini telah menjadi perhatian serius di tingkat nasional. Indonesia, yang semula berada di peringkat kesembilan dunia, kini melonjak ke peringkat kedua untuk jumlah penderita TBC, hanya di bawah India, dalam kurun waktu lima tahun.

"Ini menjadi atensi nasional. Hanya dalam waktu lima tahun, penularan TBC di Indonesia meningkat sangat pesat," ungkapnya.

Kondisi ini, lanjut dia, telah mendorong perhatian langsung dari Presiden Republik Indonesia untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan TBC di seluruh daerah.

Wali Kota mengingatkan bahwa penularan TBC terjadi melalui udara. Oleh karena itu, tracing atau pelacakan kontak erat menjadi langkah vital.

"Penularan TBC itu lewat udara. Karena itu, kalau ada yang positif, harus segera dilakukan tracking, mulai dari keluarga, tetangga, hingga teman kerja," jelasnya.

Ia juga menyoroti dampak serius TBC pada anak-anak, termasuk risiko menghambat tumbuh kembang dan menyebabkan stunting. 

"Kalau TBC yang menular ke anak-anak, dampaknya bisa sangat mengerikan. Kasus TBC pada balita ketika sudah diobati pun, kadang kerusakan yang ditimbulkan tidak bisa sepenuhnya sembuh," tambahnya.

Ning Ita juga mengingatkan bahwa bakteri TBC mudah berkembang di lingkungan yang lembap dan kotor. Kebersihan lingkungan djsebutnya menjadi kunci utama pencegahan. 

Ia mengajak seluruh warga untuk berperan aktif melaporkan segala tanda-tanda penyakit menular, khususnya TBC, kepada petugas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) terdekat agar penyebaran dapat dicegah sebelum meluas.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Mojokerto berharap dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat, demi terwujudnya kota yang sehat dan bebas TBC.

"Harapan kita Kota Mojokerto menjadi kota yang sehat bebas TBC," pungkasnya. (**) 

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow