Kisah Nano Nagata, Warga Nganjuk yang Berjalan Kaki hingga Mekkah dan Pulang Naik Sepeda

Bermodal tekad dan keyakinan, Mohammad Eka Sandy asal Nganjuk berhasil berjalan kaki menuju Mekkah melintasi 11 negara. Meski sempat kehabisan biaya, ia menyelesaikan perjalanan berkat bantuan banyak orang.

23 Jul 2026 - 21:02
Kisah Nano Nagata, Warga Nganjuk yang Berjalan Kaki hingga Mekkah dan Pulang Naik Sepeda
Muhammad Eka Sandy yang akrab di sosmed dipanggil Nano Nagata asli kelahiran Kauman Nganjuk (foto: Kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP – Langkah kaki Mohammad Eka Sandy tak hanya membawanya melintasi ribuan kilometer, tetapi juga menguji kesabaran, keyakinan, dan keteguhan hatinya. Warga Kelurahan Kauman, Kabupaten Nganjuk, yang akrab disapa Nano Nagata di media sosial itu berhasil mewujudkan tekad berjalan kaki dari Surabaya menuju Mekkah, sebuah perjalanan yang ia mulai pada 8 Maret 2025 dan berakhir di Tanah Suci pada 6 November 2025.

Perjalanan itu tidak selalu mulus. Setelah menunaikan ibadah umrah di Arab Saudi, Eka berencana pulang melalui Surabaya. Namun, mahalnya harga tiket pesawat serta situasi yang tidak memungkinkan membuatnya memilih rute berbeda. Dari Jeddah ia terbang ke Thailand, kemudian melanjutkan perjalanan darat dengan berjalan kaki hingga Malaysia.

Di Malaysia, perjuangannya mendapat perhatian dari banyak orang. Seorang ustaz penghafal Al-Qur'an menghadiahkan sebuah sepeda yang kemudian digunakannya untuk melanjutkan perjalanan hingga kembali ke Indonesia.

"Alhamdulillah, mulai dari Malaysia sampai Indonesia saya mengayuh sepeda hingga akhirnya tiba di Nganjuk," ujar Eka saat ditemui di Masjid Jami' Nganjuk, Kamis (23/7/2026).

Selama perjalanan menuju Mekkah, Eka mengaku tidak pernah benar-benar berjalan sendirian. Meski kerap berpisah dengan rekan seperjalanan, selalu ada orang-orang yang datang membantu, baik memberikan makanan, minuman, tempat singgah, hingga bantuan biaya.

"Alhamdulillah, banyak hamba Allah yang membantu. Ada yang memberi makanan, minuman, sampai bantuan materi. Banyak juga yang mengikuti perjalanan saya melalui media sosial, dari Jawa, Sumatera, Batam, Singapura, Thailand, Malaysia hingga Dubai," tuturnya.

Eka menjelaskan, ia berangkat dari Surabaya bersama dua rekannya. Namun, satu per satu memilih pulang. Setelah sekitar 40 hari perjalanan, seorang rekannya kembali saat tiba di Karawang. Rekan lainnya bertahan hingga Lampung sebelum akhirnya juga memutuskan pulang.

"Awalnya bertiga. Sampai Karawang tinggal berdua, lalu sampai Lampung akhirnya saya melanjutkan perjalanan sendirian," katanya.

Di tengah perjalanan, Eka sempat bertemu beberapa pejalan lain yang memiliki tujuan serupa. Ada yang menemaninya selama beberapa minggu, ada pula yang hanya bertahan beberapa hari sebelum berpisah. Meski demikian, ia terus melangkah hingga akhirnya berhasil mencapai Mekkah.

Ia menyebut telah melintasi sedikitnya 11 negara selama perjalanan tersebut. Ketika ditanya apakah pernah merasa putus asa, Eka mengaku tidak pernah terlintas untuk menyerah, meski kondisi keuangan sempat sangat terbatas.

"Alhamdulillah tidak pernah kepikiran untuk berhenti. Bahkan pernah uang saya tinggal Rp20 ribu, tapi Allah selalu memberi jalan sampai akhirnya bisa tiba di Tanah Suci," ungkapnya.

Menurut Eka, tantangan terbesar justru bukan jarak tempuh, melainkan mencari tempat beristirahat dan makanan halal ketika berada di beberapa negara seperti China, Vietnam, dan Laos.

"Kalau soal makanan, sejak kecil saya sudah terbiasa makan Indomie, jadi tidak terlalu sulit beradaptasi," ujarnya sambil tersenyum.

Eka juga menegaskan bahwa selama berada di Arab Saudi dirinya menunaikan ibadah umrah karena belum memiliki visa haji.

Sementara itu, Lurah Kauman, Ana Chrysdiana, membenarkan bahwa Eka merupakan warga RT 1 RW 3 Kelurahan Kauman. Ia mengaku bangga atas keteguhan dan semangat yang ditunjukkan salah satu warganya tersebut.

"Ini sesuatu yang sangat luar biasa. Saya benar-benar terharu dan bangga. Semoga semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Mas Eka bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya warga Kelurahan Kauman," ujar Ana.

Setibanya di Nganjuk, Eka sempat singgah di halaman Masjid Agung Baitussalam mengenakan pakaian serba putih. Di sana ia menyapa warga yang datang menyambut kepulangannya sekaligus membagikan bunga sebagai simbol kasih sayang, persatuan, dan keharmonisan. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow