Soal Waktu hingga Penggunaan Wadah Plastik: Komnas PA Soroti Pelaksanaan Awal Program MBG di Surabaya

Waktu pelaksanaan MBG yang dinilai terlalu pagi, sehingga berdekatan dengan jam sarapan siswa, khususnya untuk anak-anak PAUD dan SD. Akibatnya, banyak makanan yang tidak habis dimakan dan terbuang.

16 Jan 2025 - 21:31
Soal Waktu hingga Penggunaan Wadah Plastik: Komnas PA Soroti Pelaksanaan Awal Program MBG di Surabaya
Uji coba hari pertama program MBG di Kota Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran, telah mulai diimplementasikan di Surabaya pada Senin (13/1/2015). 

Tahap awal program ini menyasar lima sekolah perwakilan dari berbagai jenjang pendidikan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekaligus menjadi upaya preventif terhadap masalah stunting.

Namun, pelaksanaan tahap pertama program MBG di Surabaya menuai kritik dari Komnas Perlindungan Anak (PA) Kota Surabaya. Ketua Komnas PA Surabaya, Syaiful Bachri, menyampaikan beberapa catatan penting yang perlu dievaluasi untuk perbaikan program ke depan.

Waktu Pelaksanaan Dinilai Kurang Tepat

Salah satu sorotan utama adalah waktu pelaksanaan MBG yang dinilai terlalu pagi, sehingga berdekatan dengan jam sarapan siswa, khususnya untuk anak-anak PAUD dan SD. Akibatnya, banyak makanan yang tidak habis dimakan dan terbuang.

"Siswa sudah kekenyangan karena sudah sarapan dari rumah. Kemudian, jam delapan sekian sudah makan lagi. Ini kurang efektif. Saya perhatikan banyak makanan yang akhirnya tersisa. Kan sangat disayangkan makanan harus terbuang percuma," ujar Syaiful Bachri, Kamis (16/1/2025).

Ia menyarankan agar waktu distribusi makanan diatur lebih siang atau diimbangi dengan edukasi kepada orang tua mengenai porsi sarapan anak sebelum berangkat sekolah.

Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Selain waktu, penggunaan kotak plastik sekali pakai sebagai wadah makanan juga menjadi perhatian. Menurut Syaiful, hal ini bertentangan dengan deklarasi Surabaya sebagai Kota Ramah Lingkungan.

"Tentu saja penggunaan wadah kotak plastik ini tidak sesuai dengan predikat Surabaya yang katanya kota ramah lingkungan. Penggunaan kotak plastik sekali pakai justru akan menambah permasalahan baru terkait sampah plastik," tegasnya.

Syaiful merekomendasikan pemerintah untuk beralih menggunakan wadah makanan ramah lingkungan, seperti berbahan biodegradable atau reusable, agar program ini tidak menciptakan dampak buruk bagi lingkungan.

Lokasi Pelaksanaan Tidak Tepat Sasaran

Poin ketiga yang dikritisi adalah pemilihan lokasi sekolah yang menjadi sasaran tahap awal program MBG. Syaiful menilai, sekolah di kawasan pinggiran kota yang siswanya berasal dari keluarga kurang mampu seharusnya menjadi prioritas.

"Banyak sekolah di pinggiran kota Surabaya yang siswanya lebih membutuhkan makan bergizi gratis karena mereka berasal dari keluarga kurang mampu. Seharusnya sekolah-sekolah seperti ini yang menjadi prioritas utama pelaksanaan MBG," jelasnya.

Apresiasi dan Harapan untuk Perbaikan

Meski memberikan kritik, Syaiful tetap mengapresiasi tujuan utama program MBG. Ia menilai program ini sebagai langkah positif dalam memperbaiki kualitas gizi anak-anak, khususnya untuk mencegah stunting.

"Kami tetap mengapresiasi program ini karena tujuannya memang baik, untuk perbaikan gizi anak. Semoga ke depannya pelaksanaan program MBG ini lebih baik lagi dan tepat sasaran," pungkas Syaiful.

Program MBG memiliki potensi besar untuk mendukung generasi muda Surabaya menjadi lebih sehat dan berdaya saing. Namun, beberapa aspek pelaksanaan membutuhkan evaluasi, mulai dari penyesuaian waktu, penggunaan wadah makanan ramah lingkungan, hingga pemetaan lokasi sasaran.

Keberhasilan program ini ke depannya sangat bergantung pada keterlibatan aktif semua pihak, termasuk pemerintah, komunitas, dan masyarakat, dalam memperbaiki pelaksanaan serta mendukung tujuan mulia yang ingin dicapai. (*)

Editor: Rizqi Ardian 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow