Sketsa Jalanan di Coban Kethak: Di Antara Gemuruh Musik, Puisi, dan Aroma Hutan Basah

Konser musik lintas generasi di Coban Kethak yang menghadirkan Anto Baret dan musisi legendaris, memadukan musik jalanan, puisi, alam, dan persaudaraan.

19 May 2025 - 21:17
Sketsa Jalanan di Coban Kethak: Di Antara Gemuruh Musik, Puisi, dan Aroma Hutan Basah
Anto Baret CS, sukses menggelar musik dengan tajuk 'Sambang Sambung, Sketsa Jalanan' di Coban Kethak, Malang (doc. Hafid/SJP)

MALANG, SJP – Sore, pada Ahad (18/5/2025) di Coban Kethak, langit mulai memerah, aroma tanah basah menyeruak, dan suara air terjun menyatu dengan denting gitar yang tengah dipetik pelan.

Di tengah hutan pinus yang tenang, ribuan orang mulai berdatangan, bukan untuk berkemah atau piknik, tapi untuk menyaksikan sejarah kecil yang tengah ditorehkan, konser Sambang Sambung Sketsa Jalanan.

Di panggung sederhana yang dikelilingi alam, seorang lelaki berambut panjang, mengenakan jaket lusuh dan penuh tambalan, naik perlahan. Ia adalah Anto Baret, ikon musik jalanan Indonesia.

Dengan suara serak dan dalam, ia membuka konser dengan lagu dari album terbarunya 'Sketsa Jalanan'. Seisi hutan bergema, bukan hanya oleh suara, tapi oleh kenangan dan makna yang dibawa setiap bait liriknya.

Meski sudah berlalu, euforia masih terasa usai konser yang bukan sekadar pertunjukan musik bertajuk jalanan.

Konser ini adalah ajang silaturahmi antar generasi, tempat berjumpanya legenda dan talenta baru, antara musisi panggung besar dan seniman jalanan. 

Di barisan panggung berdiri pula Toto Tewel dengan petikan gitarnya yang khas, Yose Kristian, Bob dan Mike dari Marjinal, serta Tege Dreads dari Coconutrezz dengan sentuhan reggae-nya yang membumi.

Di sela konser, Heri Cahyono (Sam HC), inisiator acara sekaligus pengelola Wana Wisata Coban Kethak, membuka cerita panjang perjuangannya membangun kawasan. 

“Hasil dari tempat ini 100 persen kami sumbangkan untuk kemaslahatan,” ujarnya, Senin (19/5/2025).

“Kalau Anda menyewa tempat ini, itu artinya Anda sekaligus beramal. Banyak yang sudah menggunakannya untuk ulang tahun, nikahan, hingga konser musik seperti ini,” imbuhnya.

Kini, Coban Kethak tak hanya menjadi lokasi wisata alam, tetapi juga akan dikembangkan menjadi pusat kegiatan pendidikan dan petualangan. 

“Kita akan bangun peluang kerja melalui manajemen baru. Ada program Adventure School, Green Camp, pelatihan off-road, hingga workshop petualangan untuk anak dan dewasa. Semua sedang kami rancang dengan mitra-mitra strategis,” jelas Sam HC sapaan karibnya.

Pertemuan dengan Anto Baret sendiri bermula dari jejaring para pegiat jalanan dan seni rakyat.

“Saya penggemar Iwan Fals, dan Mas Anto itu sudah seperti bagian dari napas musik jalanan. Saat launching album Sketsa Jalanan di Jakarta, beliau bilang ke saya: ‘Besok di Malang aku diurusin, ya’. Dan beginilah akhirnya, kami gelar konser ini," terangnya.

Ia juga menyebut Coban Kethak sebagai bagian dari ekosistem kreatif yang terus berkembang di Malang Barat, berdampingan dengan inisiatif lain seperti Desapa, proyek idealis pengembangan wisata dan budaya di tengah heningnya sisi barat Kabupaten Malang. 

“Banyak yang dulu ragu berinvestasi di sini. Tapi kami terus bertahan. Silakan mampir ke Desapa, mampir ke sini. Kami punya beberapa objek yang bisa jadi ruang tumbuh bagi siapa saja," tambahnya.

Ketika malam turun dan kabut menggantung di pepohonan, Anto Baret menutup konser dengan lagu kebersamaan Aremania. Penonton terdiam, menyimak, membiarkan lirik dan pesan sosial itu meresap perlahan.

Di Coban Kethak yang berada di Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini menjadi saksi, sketsa-sketsa jalanan telah menemukan kanvasnya. Musik pun pulang ke rumah yang paling layak: alam dan manusia. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow