Sistem Survival of the Fittest di Sekolah Muhammadiyah: Membaca Nasib Lembaga Kecil
MUHAMMADIYAH merupakan sebuah organisasi islam yang dikenal sebagai gerakan Islam modern terbesar di Indonesia. Muhammadiyah juga terkenal dengan kesuksesannya dalam mendirikan banyak lembaga pendidikan dari tingkatan paling rendah (Kelompok Bermain) hingga tingkatan paling atas (Perguruan tinggi).
Pada pendidikan di Indonesia, Muhammadiyah memiliki peran signifikan dalam mengembangkan sistem pendidikan, dengan mengkolaborasikan antara nilai-nilai islam dengan ilmu pengetahuan modern, serta menyediakan akses lendidikan yang luas dan terjangkau. Hal tersebut merupakan Muhammadiyah di kancah nasional.
Memandang hal tersebut, memang Muhammadiyah terkenal dengan kemajuan, kekayaan, kemegahan dan besarnya sebuah amal usaha yang dimiliki. Tapi sedikit kita berjalan ke daerah yang kecil, ada sebuah amal usaha Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan berlabelkan perguruan Muhammadiyah, tempat Lembaga-lembaga Pendidikan Muhammadiyah berdiri satu atap dari berbagai jenjang mulai PAUD hingga SMA. B
erada di lokasi strategis, tepatnya ibu kota sebuah kabupaten yang terkenal dengan kemajuan industri, kekayaan alam yang dimiliki mulai dari lautan hingga ke pegunungan.
Sistem pendidikan di perguruan Muhammadiyah selama ini berjalan dengan baik sesuai dengan kebijakan yang berlaku. Sistem lendidikan yang berjenjang, pembelajaran yang menarik dari setiap jenjangnya, membuat daya pikat yang kuat kepada masyarakat dari berbagai kalangan.
Namun, dari jenjang lendidikan yang ada, terdapat sebuah kesenjangan bagi Pendidikan menengah yang ada disana, sehingga muncul istilah Survival of the Fittest (Lembaga yang besar semakin besar yang kecil semakin kecil). Meskipun berada dalam satu atap yang sama namun nasibnya berbeda, pada Sekolah Dasar dan PAUD menjadi lembaga yang besar sampai overcapasity sehingga harus menggunakan sebagian ruangan yang dimiliki oleh sekolah menengah.
Namun, berbanding terbalik pada sekolah menengah siswanya semakin sedikit, gurunya perlahan menghilang. Guru rela tidak digaji hingga 2 tahun lebih karena tidak ada pemasukan sekolah yang cukup untuk menggaji mereka.
Bertambah tahun jumlah siswa bertambah sedikit, berbagai macam strategi dilakukan oleh sekolah untuk memenuhi persyaratan jumlah minimal siswa di Dapodik, agar lembaganya tidak ditutup.
Berdasarkan keputusun Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asessmen Pendidikan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi No. 071/H/M/2024 tentang Petunjuk Teknis dan Tata Cara Pembentukan Rombongan Belajar Pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Dalam peraturan tersebut dijelaskan jumlah minimal siswa di setiap Rombel untuk SMP 32 siswa dan untuk SMA 36 siswa.
Realita yang terjadi jumlah siswa SMP dalam setiap Rombel belum sampai pada batas minimal hanya 21 siswa. Segala cara dilakukan oleh sekolah ini untuk menambah jumlah siswa mulai dari meniru program yang ada di SD untuk menggaet siswanya sampai menjalin kerja sama dengan pesantren yang belum memiliki sekolah formal atau kesetaraan. Hasilnya belum maksimal, SD yang berdiri satu atap dengan SMP hanya ada 3 siswa yang melanjutkan ke SMP ini.
Begitu juga pada jenjang pendidikan SMA lebih miris melihatnya, masih sangat jauh dari batas minimal jumlah siswa setiap Rombel, tahun 2024 hanya ada 24 siswa 17 dari 24 siswa tidak hadir kesekolah, tidak melakukan infaq pembayaran, mereka mendapatkan seragam, dan hanya datang ketika pelaksanaan assessment akhir saja.
Begitupun di tahun 2025 hampir sama terdapat 31 siswa, namun lebih menyedihkan lagi hanya 8 dari 31 siswa yang hadir ke sekolah dan 4 dari 8 siswa saja yang melaksanakan tertib administrasi pembayaran, sisanya gratis tanpa ada pungutan biaya sama sekali dan hanya titip nama saja untuk mendapatkan ijazah SMA, sangat jauh sekali dari batas minimal Rombel.
Sekolah semakin terpuruk siswa semakin berkurang finansial semakin habis, surat cinta dari Dinas Pendidikan sudah sampai di sekolah sebagai sebuah semangat untuk mendapatkan murid dengan jumlah yang lebih banyak.
Berbagai upaya dilakukan untuk membangkitkan kembali sekolah dengan pergantian kepemimpinan secara otomatis sistem manajemen di dalamnya ikut berganti, namun belum ada perubahan yang signifikan, penguatan finansial sekolah dengan membuka open donasi, penguatan program sekolah, penguatan SDM, renovasi gedung, strategi SPMB door to door, hasilnya masih sama nihil.
Satu pertanyaan untuk perguruan Muhammadiyah ini, segala hal sudah dilakukan mengapa tidak ada perubahan sekolah yang kecil semakin mengecil dan yang besar semakin besar. Apakah sudah ada sinergi dari tiap-tiap Lembaga mulai dari sinergi finansial hingga materi? kalian berdiri satu atap satu komplek kenapa ada kesenjangan yang begitu mencolok.
Perguruan Muhammadiyah ini berdiri di tengah Ibu Kota Kabupaten dengan kepadatan aktivitas masyarakat yang begitu besar. Untuk apa berdiri perguruan Muhammadiyah dalam satu atap kalau setiap lembaganya masih egois dengan kepentingannya masing-masing.
Buatlah sebuah program bersama agar tercipta pendidikan yang berjenjang, tidak sampai siswa berhenti dan pergi meninggalkan perguruan Muhammadiyah. Siswa PAUD melanjutkan ke SD, SD ke SMP, SMP ke SMA yang ada di perguruan ini.
Jalin sebuah sinergi antar lembaga ketika lembaga kecil kekurangan secara finansial dibantu oleh lembaga yang besar melakukan subsidi silang keuangan, SPMB bersama dan berjenjang mulai dari PAUD hingga SMA, manajemen pengelolaan pendidikan bersama baik secara sistem maupun program, pemerataan SDM dan yang paling penting adalah sinergi antar lembaga dengan yayasan baik pimpinan cabang maupun pimpinan daerah.
Kesuksesan sebuah lembaga tidak luput dari campur tangan pimpinan yayasan, perguruan Muhammadiyah ini tidak bisa besar kalau hanya pimpinan lembaga saja yang berjuang, begitu pula sebaliknya apabila pimpinan yayasan saja yang berjuang lembaga juga tidak akan bisa besar.
Sinergi antara lembaga dan yayasan sangat penting, sinergi tiap-tiap lembaga didalam perguruan Muhammadiyah juga tidak kalah penting. Menyatukan visi dan tujuan untuk menciptakan sinergitas dan kolaborasi antar lembaga demi mewujudkan perguruan Muhammadiyah yang penuh dengan solidaritas, menghilangkan istilah Survival of the Fittest, jumlah siswa khususnya di SMP dan SMA minimal memenuhi jumal Rombel, dan kecukupan serta kesejahteraan secara finansial dan materi baik sekolah maupun tenaga kependidikan yang ada di dalam lembaga tersebut. Menciptakan sistem manajemen pendidikan yang satu pintu dan berjenjang dalam sebuah perguruan Muhammadiyah. (**)
Editor: Rizqi Ardian
Nama Penulis : Indra Puspita Sari
Dosen Pengampu : M. Sri Wahyudi Suliswanto, Ph. D Universitas Muhammadiyah Malang
What's Your Reaction?

