'Hello Effect': Bagaimana Sapaan Pertama membentuk Persepsi dalam suatu Relasi

09 Oct 2023 - 08:45
'Hello Effect': Bagaimana Sapaan Pertama membentuk Persepsi dalam suatu Relasi

DALAM penyampaian informasi dengan menggunakan bahasa atau kata yang memiliki ciri khas atau gaya tertentu. Gaya bahasa ini dapat mencakup pilihan kata, tata bahasa, ritme, dan elemen-elemen kreatif lainnya yang membuat cerita menjadi lebih menarik, menggugah perasaan, atau menciptakan identitas.

Personal identity sebagai bentuk representasi atas identitas, orientasi yang terlihat terhadap individu, maka proses dalam orientasi inilah, yang berfokus terhadap individu seseorang, juga dapat mempelajari dan tidak harus kita melihat dari proses komunikasi saja, tetapi bagaimana cara pribadi orang lain agar mendapatkan koneksi yang baik dan berkelanjutan.

Dengan kemampuan yang kita miliki terhadap individu lain,dalam keterbukaan, empati, dan membuat perspektif yang baik, agar relasi tetap terjaga. Relasi dalam sebuah interaksi, pastinya juga mengalami penyesuaian terhadap lawan berbicara, dengan skala kecil maupun besar.

Juga dengan adanya karakteristik seseorang yang menjadi kualifikasi dalam pemilihan bahasa ini, dapat membangun sebuah “Personal Identity” yang menimbulkan suatu dasar dalam membangun suatu percakapan.

Dimana dengan penyesuaian evaluasai atas timbulnya interaksi,apakah seseorang atau lawan bicara ini paham akan pembicaraan atau tidak. Hubungan interpersonal atau hubungan antar individu yang terbentuk melalui komunikasi. 

Ini menggambarkan cara individu berinteraksi satu sama lain, berkomunikasi, dan membentuk ikatan dalam berbagai konteks, seperti dalam hubungan persahabatan, keluarga, atau hubungan profesional. 

Komunikasi sebagai fondasi dari setiap hubungan. Cara individu berbicara satu sama lain, mendengarkan, dan merespons pesan adalah kunci dalam membentuk, memelihara dan memperkuat relasi. 

Perlu kita ketahui, terkadang “First Look” akan individu seseorang, dilihat bagaimana cara kita berbicara, cara kita mengolah akan pemilihan kata, agar lawan berbicara menimbulkan feedback secara intens.

Namun, lain dengan membangun sebuah karakter di sebuah identitas juga adanya noise dalam berbicara, dimana ada beberapa hal seperti kesalahpahaman dengan gaya bahasa dan gaya berbicara seseorang.

Dan tanpa kita sadari dengan kesalahan tersebut, apabila kita sebagai komunikator, apabila kita tidak menjelaskan maksud dan tujuan kita berbicara, maka visi dalam komunikasi akan gagal. 

Sering kali kita jumpa, struggle dalam komunikasi seseorang, timbul akan ketidaksamaan atas pemahaman dalam memilih suatu kata, dan faktor tersebut bisa dari habit orang tersebut, bagaimana percakapan yang mereka gunakan dalam sehari-hari, dan dengan adanya nada dan logat pun, individu lain perlu mengola atas maksud pesan yang disampaikan.

Dan bagaimana cara personal identitas kita diterima oleh banyak kalangan dalam sebuah relasi ini dengan cara kita melihat partner berbicara, maka tidak jarang seseorang dalam suatu pembicaraan sebagai sebuah citra awal sebuah pertemuan.

Dalam sebuah komunikasi dan bagaimana cara kita membangun value sendiri pun, berbicara juga tidak mudah, untuk menarik sebuah audiens, perlu adanya pendekatan terhadap audiens yang dimana ada beberapa kata yang dapat membangun sebuah personal identity. 

Seperti “Hello Effect” fenomena dalam komunikasi yang menggambarkan cara seseorang menilai atau menafsirkan seseorang atau sesuatu berdasarkan kesan positif atau negatif yang diperoleh dari satu aspek tertentu. 

Dalam konteks komunikasi, efek halo dapat memengaruhi bagaimana seseorang menilai orang lain atau pesan yang mereka sampaikan. Sapaan yang positif dapat meningkatkan mood dan kesejahteraan emosional baik bagi yang memberikan sapaan maupun yang menerimanya. Ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih positif dan bahagia. 

Hello Effect yang positif dapat membawa dampak positif dalam berbagai konteks, penting untuk diingat bahwa penggunaan sapaan yang tulus dan ramah harus bersifat konsisten dan tulus. 

Sapaan yang hanya bersifat formal atau dibuat-buat mungkin tidak memiliki dampak yang sama. Hello Effect yang positif juga harus didukung oleh perilaku dan komunikasi yang ramah dan hormat secara keseluruhan. 

Dengan Fenomena “Hello Effect” dapat membangun personal identity terhadap komunikasi antar individu maupun kelompok, perlu adanya tujuan dalam pembicaraan dan arah yang akan dicapai, dan bagaimana suasana yang akan dibawa ke dalam topik obrolan sebagai cerminan personal.

Maka dengan intonasi pun juga perlu diperhatikan dengan karakter seseorang, apakah dominasi orang tersebut berbicara dengan intonasi tinggi atau intonasi rendah.

Serta penggunaan kata-kata apabila ingin membangun suasana yang efektif,bisa menggunakan beberapa “slang” untuk pemahaman antar individu dan untuk menimbulkan pesan singkat di balik makna tersebut.

Apabila personal identity kita terlihat menarik, maka perlu beberapa aspek dalam pemilihan kata yang baik, seperti menggunakan kata-kata yang bagus, dengan nada yang tidak terlalu keras, juga sebisa mungkin tidak menggunakan kata-kata yang mengandung unsur negatif, seperti kata-kata kasar atau kata-kata yang menyimbolkan arti yang tidak baik. 

Dengan memiliki personal yang baik dalam komunikasi dapat membantu membangun hubungan yang kuat, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menciptakan pengalaman komunikasi yang lebih baik untuk semua orang yang terlibat.

Oleh karena itu Sikap yang baik sebagai penunjang dalam komunikasi melibatkan keterbukaan untuk menerima umpan balik. Terima kritik secara konstruktif dan sebagai peluang untuk belajar dan berkembang. Maka dengan identifikasi bahasa dalam komunikasi inilah dapat membuat pondasi jadi lebih baik. (*)

Oleh : Nabila Brenda A, Mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Negeri Malang

Disclaimer : Segala isi di rubrik OPINI, baik berupa teks, foto, maupun gambar merupakan pendapat pribadi penulis dan segala konsekuensi bukan menjadi tanggung jawab redaksi.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow