Sentuhan Nurani di Balik Program Nasional, SPPG Buduan Situbondo Salurkan MBG kepada Lansia
Dapur SPPG Buduan Situbondo tak hanya melayani siswa dan kelompok B3, tetapi juga berbagi makan bergizi gratis kepada lansia sebagai wujud kepedulian sosial.
SITUBONDO, SJP – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak selalu berhenti pada angka dan data penerima manfaat. Di Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Buduan, Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo, program nasional ini menjelma menjadi gerakan kepedulian yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Selain menyasar peserta didik dan kelompok prioritas yang tercatat secara resmi, dapur SPPG Buduan juga membuka ruang kepedulian bagi para lanjut usia (lansia) di sekitar wilayah layanan. Mereka ikut menikmati sajian makan bergizi, meski tak tercantum dalam daftar penerima manfaat program.
Pada tahun 2026, Dapur SPPG Buduan melakukan penyesuaian jumlah penerima MBG sebagai bagian dari kebijakan pemerataan layanan. Secara resmi, dapur ini melayani 2.402 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, serta kelompok B3 yang meliputi balita non-PAUD, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Namun di balik angka tersebut, terdapat kepedulian personal yang menggerakkan dapur ini melangkah lebih jauh. Para lansia menjadi penerima manfaat tambahan atas inisiatif pribadi pemilik Dapur MBG SPPG Buduan, H. Rustendi, yang menaruh perhatian besar pada kondisi gizi dan kesejahteraan mereka.
“Lansia juga bagian dari masyarakat yang perlu diperhatikan kesehatannya. Meski tidak masuk dalam data resmi, kami ingin mereka tetap bisa merasakan manfaat makan bergizi,” ujar H Rustendi, dikonfirmasi melalui sambungan telepon, pada Rabu (28/1/2026).
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Dapur SPPG Buduan, Bagas Deo Pradana, yang menjelaskan, penyaluran MBG kepada lansia dilakukan secara terbatas dan proporsional. Langkah tersebut disesuaikan dengan kemampuan dapur tanpa mengurangi hak penerima manfaat utama.
“Secara kebijakan, fokus utama kami tetap melayani 2.402 siswa dan kelompok B3. Namun atas inisiatif owner, kami menyisihkan sebagian untuk lansia agar mereka tidak merasa terpinggirkan,” jelas Bagas.
Bagi para lansia, seporsi makanan bergizi bukan sekadar pemenuhan kebutuhan pangan. Lebih dari itu, perhatian tersebut menjadi penguat semangat hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi fisik yang kian menurun.
"Langkah yang kami lakukan di SPPG Buduan menjadi cerminan bahwa program MBG tidak hanya dijalankan secara administratif, tetapi juga dapat dihidupkan melalui empati dan nurani. Ini sebuah praktik baik yang menunjukkan bahwa pemerataan gizi sejatinya tak hanya berbasis data, melainkan juga berbasis kepedulian sosial," tandasnya. (**)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

