Sempat Terkendala Adminduk, Dua Bersaudara di Nganjuk Kini Bisa Akses Bantuan Sosial

Respon cepat Kelurahan Warujayeng, Nganjuk, membantu dua bersaudara prasejahtera mengurus KK setelah terkendala adminduk, membuka akses terhadap bantuan sosial.

27 Apr 2026 - 22:14
Sempat Terkendala Adminduk, Dua Bersaudara di Nganjuk Kini Bisa Akses Bantuan Sosial
Kepala Kelurahan Warujayeng, Okky Rio (foto:kuswanto/SJP)

NGANJUK, SJP – Pemerintah Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, bergerak cepat menindaklanjuti laporan warga kurang mampu yang terkendala administrasi kependudukan (adminduk).

Kepala Kelurahan Warujayeng, Okky Rio, langsung turun tangan memastikan persoalan tersebut segera ditangani. Respons cepat ini muncul setelah pemberitaan media SuaraJatimPost mengenai keluarga prasejahtera di Dusun Pengkol yang kesulitan mengakses bantuan sosial akibat data Kartu Keluarga (KK) yang belum diperbarui.

Okky menyampaikan, pihaknya segera berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari tingkat RT hingga Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil), begitu menerima informasi tersebut.

“Kami berterima kasih kepada rekan-rekan media. Ini bentuk sinergi. Begitu ada laporan warga membutuhkan bantuan pengurusan KK, kami langsung instruksikan staf untuk jemput bola agar prosesnya cepat selesai,” ujar Okky di ruang kerjanya, Senin (27/4/2026).

Hasilnya, pengurusan KK baru bagi Sarno dan Supardi, warga Dusun Pengkol Lingkungan Warujayeng, dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Dengan dokumen yang telah diperbarui, keduanya kini memiliki dasar administrasi untuk mengakses berbagai program bantuan pemerintah, baik daerah maupun pusat.

Okky menegaskan, pihaknya akan terus menyisir warga yang mengalami kendala serupa. Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu melapor jika menghadapi hambatan dalam pelayanan publik.

“Kepuasan warga adalah prioritas kami. Ke depan, pengawasan di tingkat lingkungan akan kami tingkatkan agar tidak ada lagi warga yang terhambat haknya hanya karena persoalan administrasi,” tegasnya.

Sebelumnya, kisah Sarno dan Supardi menyita perhatian publik. Dua bersaudara ini hidup dalam keterbatasan di tengah Dusun Pengkol. Untuk bertahan hidup, mereka mengais barang rongsokan dari tumpukan sampah.

Tanpa dukungan orang tua maupun keluarga dekat, keduanya tinggal di rumah sederhana yang jauh dari kata layak. Kondisi bangunan rapuh dengan fasilitas yang sangat minim.

Situasi semakin berat karena Supardi mengalami keterbatasan fisik. Meski demikian, ia tetap bekerja setiap hari. Untuk keluar masuk rumah, ia harus melewati jalan sempit sepanjang puluhan meter yang hanya bisa dilalui sepeda.

Penghasilan sebagai pencari rongsokan pun tidak menentu, kerap hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Sementara kebutuhan lain seperti kesehatan dan perbaikan rumah belum tersentuh.

“Kami hanya ingin bertahan hidup. Selama masih ada yang bisa dikumpulkan dan dijual, kami jalani,” ujar Sarno lirih.

Untuk memasak, mereka masih menggunakan tungku kayu bakar. Asap sering memenuhi ruangan sempit tempat tinggal mereka. Fasilitas mandi dan sanitasi pun sangat sederhana dan memprihatinkan.

Kondisi ini mengetuk kepedulian tokoh sosial Abah Ridwan, yang akrab disapa Mbah Gondrong. Ia turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi keduanya.

“Saya datang untuk memastikan kondisi riil di lapangan. Kita bisa melihat langsung keterbatasan fasilitas dasar yang mereka alami,” ujarnya saat berkunjung, Sabtu (25/4/2026). (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow