Sambut Ramadan, Wisma Jerman Bagikan Kisah Hidup Muslim di Negeri Seribu Kastil

Di antara semua tantangan, Ramadhan menjadi periode yang paling berat bagi Nayera. Ia mengenang masa kuliahnya di Jerman, ketika harus menjalani ujian tanpa ada penyesuaian jadwal meskipun sedang berpuasa.

19 Feb 2026 - 22:10
Sambut Ramadan, Wisma Jerman Bagikan Kisah Hidup Muslim di Negeri Seribu Kastil
Nayera Ibrahim membagikan pengalaman menjalani kehidupan sebagai Muslim minoritas di Jerman saat menjadi narasumber sharing session di Wisma Jerman, Surabaya (Ryan/SJP)

SURABAYA, SJP - Bulan suci Ramadan telah tiba. Di berbagai penjuru dunia, umat Muslim bersiap menyambut hari-hari puasa dengan suasana yang akrab, mulai dari ngabuburit bersama orang terdekat, mengisi tempat-tempat ibadah dengan antusias, hingga momen kehangatan sembari menanti hari kemenangan. 

Namun, suasana itu tak selalu sama bagi mereka yang menjalani Ramadan di negara dengan populasi Muslim sebagai minoritas. Di tempat-tempat seperti Jerman, menjalankan ibadah bukan sekadar rutinitas spiritual, melainkan juga perjalanan sunyi menjaga keyakinan di tengah lingkungan yang berbeda.

Gambaran itulah yang dibagikan oleh Nayera Ibrahim dalam sharing session bertajuk “Life as a Muslim in Germany” yang digelar di Wisma Jerman, Surabaya. 

Dalam forum hangat itu, Nayera membuka jendela pengalaman pribadinya sebagai seorang Muslim asal Mesir yang telah lebih dari satu dekade hidup di Jerman, sebuah kehidupan yang ia gambarkan penuh tantangan, refleksi, sekaligus peluang.

Menjaga Iman di Tengah Lingkungan yang Berbeda

Bagi Nayera, menjadi Muslim di Jerman berarti hidup di tengah kontras yang nyata. Ia terbiasa melewati kedai makanan non-halal saat berangkat kerja, mendengar lonceng gereja di pagi hari, dan menjalani ibadah di ruang-ruang yang tak selalu tersedia. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya soal fasilitas, tetapi juga soal identitas.

"Menjadi Muslim di Jerman bisa sangat rumit. Tantangannya bukan hanya beradaptasi dengan masyarakat tanpa kehilangan iman dan budaya, tetapi juga memahami diri sendiri sebagai Muslim," ujar Nayera, saat dikonfirmasi pada Kamis (19/2/2026).

Hidup di negara dengan mayoritas non-Muslim membuat praktik keagamaan tidak lagi menjadi sesuatu yang otomatis didukung oleh lingkungan. Tidak ada toleransi khusus untuk waktu salat, tidak banyak ruang ibadah yang mudah ditemukan, bahkan masjid pun sering tidak terlihat seperti masjid dari luar. 

Dalam beberapa situasi, Nayera mengaku harus beradaptasi dengan kondisi yang jauh dari ideal, mulai dari mencari lokasi yang memungkinkan untuk menunaikan ibadah salat, hingga mencari waktu singkat untuk beribadah.

"Kadang ketika saya berada di luar, saya harus salat di tangga karena tidak ada ruang salat yang tersedia," katanya.

Pengalaman-pengalaman kecil seperti itu menjadi pengingat bahwa menjalankan ibadah di Jerman seringkali menjadi perjuangan pribadi, bukan bagian dari sistem sosial yang mendukung secara luas.

Ramadan: Ujian Fisik dan Mental

Di antara semua tantangan, Ramadan menjadi periode yang paling berat bagi Nayera. Ia mengenang masa kuliahnya di Jerman, ketika harus menjalani ujian tanpa ada penyesuaian jadwal meskipun sedang berpuasa.

Tidak ada perubahan ritme kehidupan di luar sana, kelas tetap berjalan, ujian tetap berlangsung, dan aktivitas akademik tidak berhenti. Ia harus mengatur sendiri waktu sahur, belajar, dan menjaga energi, tanpa dukungan lingkungan yang memahami kondisi ibadah tersebut.

Situasi ini berbeda jauh dengan negara-negara mayoritas Muslim, di mana Ramadan menjadi bagian dari kehidupan kolektif masyarakat. Namun justru di situlah, menurutnya, iman diuji secara pribadi.

"Anda harus bertanya pada diri sendiri, seberapa besar Anda percaya pada iman Anda, dan Anda harus berdiri teguh dengan keyakinan itu," ujarnya.

Baginya, hidup sebagai Muslim di Jerman adalah perjalanan refleksi, mulai dari soal keyakinan, keteguhan, dan pilihan sadar untuk tetap memegang iman di tengah tantangan.

Minoritas, Tapi Tidak Sendirian

Meski demikian, Nayera menekankan bahwa Muslim di Jerman tidak sepenuhnya sendiri. Dengan jumlah sekitar 5,5 juta Muslim, komunitas ini tetap memiliki ruang dan dukungan.

Ia menyebut adanya organisasi seperti CLAIM yang memberikan bantuan hukum gratis bagi Muslim yang mengalami diskriminasi, serta Inssan e.V yang menyediakan ruang aman untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan emosional.

Lebih dari itu, ia juga menilai Jerman sebagai negara yang tetap memberikan peluang luas. Ia menegaskan bahwa tindak diskriminasi tudak terjadi secara konsisten, dan mayoritas masyarakat di Jerman sangatlah hangat dan bisa bertoleransi akan kebutuhan Nayera.

"Jerman adalah negara yang sangat terbuka. Ada banyak kesempatan dan peluang di sana," katanya.

Menurutnya, meskipun praktik Islam tidak semudah di negara mayoritas Muslim, tetap ada ruang untuk menjalankan keyakinan dengan cara yang bermakna secara personal.

Dari Mesir ke Jerman, Lalu ke Indonesia

Nayera sendiri datang ke Surabaya sebagai relawan di Wisma Jerman melalui program Kulturweit, sebuah inisiatif pemerintah Jerman yang membuka kesempatan bagi pemuda untuk mendapatkan pengalaman lintas budaya.

Selama enam bulan di Indonesia, ia membantu berbagai program, termasuk mendukung kelas bahasa dan kegiatan peserta kursus.

Direktur Wisma Jerman, Mike Neuber, mengatakan ide menghadirkan Nayera sebagai narasumber muncul secara alami dari percakapan mereka sehari-hari. Nayera sendiri menjadi relawan di bidang program, jadi dia mendukung semua perencanaan dan pelaksanaan bidang program. Tapi selain itu dia juga mendukung di bidang bahasa

"Dia kadang-kadang mengalami krisis identitas, karena dia punya dua budaya. Dia asli Mesir, tapi sudah lebih dari 10 tahun di Jerman," kata Mike.

Menurut Mike, pengalaman Nayera sangat relevan, terutama karena semakin banyak pemuda Indonesia yang tertarik melanjutkan pendidikan atau karier di Jerman.

"Mayoritas masyarakat Indonesia Muslim, jadi penting mereka punya gambaran yang jelas. Supaya mereka siap dan tidak takut," ujarnya.

Kini, menjelang akhir masa relawannya di Indonesia, Nayera membawa pulang pengalaman baru, tentang keramahan, empati, dan kehidupan di negara dengan mayoritas Muslim. Mike merasa Nayera cukup terkesan dengan masyarakat Indonesia.

"Neyera bisa akrab dengan orang-orang disini, dia juga telah melakukan beragam kegiatan. Jelang momen-momen terakhirnya di Indonesia, dia mungkin akan keliling ke beberapa daerah sebelum kembali lagi ke Jerman," katanya.

Mike juga mengutip pesan penting dari Nayera bagi generasi muda Indonesia yang bermimpi menempuh jalan serupa di Jerman, yakni untuk yakit, kuat dan tetap optimis.

"Go for it, be strong, and be optimistic about it," ujar Mike.

Di balik dinginnya salju, keterbatasan ruang ibadah, dan sunyinya Ramadan di negeri Panzer, kisah Nayera menunjukkan bahwa iman bukan sekadar tradisi yang mengikuti lingkungan, melainkan pilihan yang terus diperjuangkan hari demi hari, dalam diam, dan dalam keyakinan yang teguh. (*)

Editor : Rizqi Ardian

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow