Saat Dinginnya Kemarau dan Napas Belerang Lemongan Membikin Ribuan Ikan Ranu Klakah 'Mabuk Massal'

Aspek ekologi di balik fenomena mabuk massal ribuan ikan nila dan mujair di Danau Ranu Klakah, Lumajang. Menjelaskan keterkaitan ilmiah antara penurunan suhu ekstrem musim kemarau dan aktivitas kandungan belerang Gunung Lemongan.

12 Jul 2026 - 10:49
Saat Dinginnya Kemarau dan Napas Belerang Lemongan Membikin Ribuan Ikan Ranu Klakah 'Mabuk Massal'
Ribuan ikan di Ranu Klakah Lumajang mengapung. (Foto: beritasatu.com)

LUMAJANG, SJP -  Kabut tipis yang menyelimuti Danau Ranu Klakah di Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, membawa fenomena alam yang mencengangkan. Penurunan suhu udara yang drastis pada puncak musim kemarau telah mengubah air danau menjadi hamparan misteri.

Ribuan ikan tiba-tiba kehilangan tenaganya, mengapung lemas ke permukaan air, dan menciptakan fenomena tahunan yang oleh warga setempat akrab disebut sebagai musim koyo.

Tak hanya ikan liar, ribuan ikan budidaya pembudi daya ikan keramba di Danau Ranu Klakah juga terdampak. Sebagian ikan lemas bahkan mati. Pembudi daya ikan terpaksa menjaring lebih awal guna mengurangi kerugian.

"Terpaksa sayapanen lebih cepat, kalau dibiarkan bisa mati semua," ujar Narwi, pembudi daya ikan keramba.

Melimpahnya ikan yang ditangkap maupun dijaring lebih awal memunculkan pasar dadakan di bahu jalan sekitar danau. Warga menjual hasil tangkapan serta ikan budi daya dengan harga di bawah harga normal, hampir setengahnya.

Kalau biasanya ikan nila dan mujair dijual Rp33 ribu - Rp35 ribu per kilogram, saat ini harganya turun Rp20 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram.

Kondisi ini dimanfaatkan pedagang ikan dadakan yang membeli ikan dengan harga yang lebih murah. "Harga lebih murah memang, nanti bisa dijual lagi," jelas Yulis, seorang warga yang melihat peluang

Menurut warga setempat, fenomena ikan mabuk di Ranu Klakah hampir terjadi setiap tahun saat puncak musim kemarau. Penurunan suhu yang cukup ekstrem menyebabkan kadar oksigen terlarut di dalam air berkurang sehingga ikan naik ke permukaan dalam kondisi lemas dan mudah ditangkap. Fenomena tersebut biasanya berlangsung selama satu hingga dua minggu sebelum kondisi cuaca dan kualitas air kembali normal.

Secara ilmiah, fenomena unik ini dipicu oleh perubahan suhu ekstrem di bawah permukaan air. Saat cuaca dingin melanda kawasan kaki Gunung Lemongan, terjadi penurunan kadar oksigen terlarut secara drastis di dalam danau. Kondisi ini memaksa biota air, mulai dari ikan liar hingga ikan budidaya, naik ke permukaan dalam kondisi lemas demi mencari sisa-sisa oksigen.

Namun, dinginnya malam di Lumajang bukan satu-satunya aktor di balik terjadinya fenomena sesak napas massal ini. Masyarakat sekitar juga meyakini adanya faktor geologis yang kuat dari Gunung Lemongan yang berdiri kokoh di dekat danau. Ketika suhu udara turun tajam, kandungan belerang dari perut gunung berapi tersebut diduga turut keluar dan merembes ke dalam air Ranu Klakah. Kombinasi antara minimnya pasokan oksigen akibat suhu dingin dan naiknya zat belerang ini menciptakan efek racun alami yang langsung membuat metabolisme tubuh ikan lumpuh seketika.

Siklus koyo ini biasanya akan mendominasi ekosistem Danau Ranu Klakah selama satu hingga dua minggu, sebelum akhirnya kondisi cuaca menghangat dan kualitas air kembali normal. Selama masa itu pula, fenomena ekologi ini menjadi panggung tahunan yang memperlihatkan bagaimana dinamika vulkanik tersembunyi dan perubahan iklim lokal mampu memengaruhi rantai kehidupan di atas dan di bawah permukaan air secara instan. (**)

Sumber: beritasatu.com

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow