Rutin Sikat Gigi, Tapi Masih Sakit? Mungkin Ini Penyebabnya
94 persen masyarakat Indonesia mengaku rutin sikat gigi, tapi hanya 2,8 persen yang melakukannya dengan benar, membuka ironi penyebab utama gigi berlubang masih merajalela di Indonesia.
SURABAYA, SJP - Setiap pagi dan malam, banyak dari kita menyikat gigi dengan harapan menjaga kesehatan mulut. Namun, apakah cara kita sudah benar? Data menunjukkan bahwa meskipun mayoritas masyarakat Indonesia rutin menyikat gigi, hanya sebagian kecil yang melakukannya dengan teknik yang tepat.
Sikat Gigi Bisa Salah?
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), drg. Usman Sumantri mengungkapkan, menurut Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan, dari 94,7 persen penduduk Indonesia yang menyikat gigi setiap harinya, hanya 2,8 persen yang menyikat gigi dengan benar.
"Dari data tersebut kita tahu bahwa kebiasaan menyikat gigi belum diimbangi dengan pengetahuan tentang teknik yang tepat," ujar Usman, Kamis (15/5/2025).
Salah satu kesalahan umum adalah waktu menyikat gigi yang keliru. Banyak orang melakukannya setelah sarapan dan sebelum tidur, padahal yang paling efektif adalah sebelum sarapan dan sebelum tidur malam. Tujuannya untuk membersihkan plak yang terbentuk saat tidur dan sebelum aktivitas malam hari.
Begini Cara Menyikat Gigi yang Benar
Menurut panduan dari Kementerian Kesehatan dan organisasi dokter gigi, berikut cara menyikat gigi yang benar:
- Gunakan sikat gigi berbulu lembut dan pasta gigi berfluoride.
- Sikat selama dua menit, dua kali sehari.
- Gunakan teknik memutar atau vertikal dari gusi ke gigi, hindari gerakan menyikat horizontal karena bisa merusak email gigi.
- Jangkau semua bagian gigi, termasuk bagian dalam, luar, dan permukaan kunyah.
- Ganti sikat gigi setiap 3 bulan atau jika bulu sudah mulai rusak.
Karies: Musuh Utama Kesehatan Gigi
Sementara itu, drg. Sumartono, Ketua Pengurus Wilayah (Pengwil) PDGI Jawa Timur menjelaskan bahwa karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi yang paling umum di Indonesia. Penyebab utamanya adalah penumpukan sisa makanan yang berubah menjadi asam, yang kemudian merusak lapisan email gigi.
"Karies itu tercipta dari adanya penumpukan kotoran sisa makanan pada gigi yang dalam waktu cukup lama akan berubah menjadi asam," jelas Sumartono.
Asam tersebut menyebabkan demineralisasi pada gigi, yang lama-kelamaan akan menjadi lubang pada gigi hingga mencapai lapisan pulpa. Sayangnya, banyak masyarakat yang baru menyadari masalah ini ketika sudah merasakan sakit.
Kebiasaan Buruk dan Konsumsi Makanan Manis
Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis yang lengket juga memperparah kondisi kesehatan gigi, terutama pada anak-anak. Jarang sekali anak-anak usia 4-5 tahun memiliki gigi yang masih utuh.
"Makanan sekarang ini memang sangat memungkinkan terjadinya karies pada anak-anak yang manis-manis yang banyak bisa melengket pada permukaan dan enamel gigi," tambah Sumartono.
Pentingnya Edukasi dan Pemeriksaan Rutin
Edukasi tentang cara menyikat gigi yang benar dan pentingnya pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap enam bulan sekali sangat diperlukan. Sayangnya, banyak masyarakat yang masih menganggap remeh hal tersebut.
Bukan tanpa alasan, Sumartono juga menyoroti temuan Data Riset Kesehatan Daerah (Riskesdas) yang menunjukkan hampir 57 persen penduduk membutuhkan layanan kesehatan gigi, namun hanya sekitar 10 persen yang mendapatkannya.
"Tentu kita berharap edukasi bisa semakin merata dan berlanjut dengan pemberian kesempatan yang sama kepada masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gigi," pungkas Sumartono.
Menyikat gigi adalah langkah awal yang penting dalam menjaga kesehatan mulut. Namun, tanpa teknik yang benar dan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan rutin, risiko terkena karies tetap tinggi. Edukasi yang berkelanjutan dan perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam meningkatkan kesehatan gigi di Indonesia. (*)
Editor : Rizqi Ardian
What's Your Reaction?

