RSUD Jombang Gelar Edukasi Kesehatan, Soroti Bahaya Gangguan Pendengaran Tersembunyi pada Anak Sekolah

Dokter Spesialis THT-BKL RSUD Jombang, dr. Kihastanto, Sp. THT-BKL, menegaskan bahwa masalah pendengaran pada anak kerap kali menjadi gangguan tersembunyi.

17 Apr 2026 - 11:00
RSUD Jombang Gelar Edukasi Kesehatan, Soroti Bahaya Gangguan Pendengaran Tersembunyi pada Anak Sekolah
Kegiatan RSUD Jombang memberikan perhatian pada penyakit dan penanganan penyakit pendengaran. (Ist/SJP)

JOMBANG, SJP – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang kembali menggelar program edukasi unggulan "Humas RSUD Jombang Menyapa". Mengambil tema "Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah", kegiatan yang berlangsung di lingkungan RSUD setempat pada Rabu (01/04/2026) ini bertujuan menekankan pentingnya deteksi dini demi mencegah terhambatnya masa depan anak akibat gangguan pendengaran.

Dokter Spesialis THT-BKL RSUD Jombang, dr. Kihastanto, Sp. THT-BKL, menegaskan bahwa masalah pendengaran pada anak kerap kali menjadi "gangguan tersembunyi". Jika diabaikan, kondisi ini dapat merusak fondasi utama perkembangan kognitif, kemampuan bicara, dan interaksi sosial anak di lingkungan sekolah maupun rumah.

Dalam dialog interaktif yang dipandu Ayu Karina, dr. Kihastanto memaparkan tiga jenis gangguan pendengaran yang paling sering menyerang anak usia sekolah. Pertama adalah Gangguan Konduksi, yakni terhambatnya gelombang suara pada telinga luar dan tengah akibat penumpukan kotoran telinga yang keras atau adanya cairan kental di telinga tengah. 

Kedua, Gangguan Sensori Neural, yaitu kerusakan saraf pada organ koklea di telinga dalam. Ketiga, Central Auditory Processing Disorder (CAPD), di mana pendengaran secara fisik normal namun proses pengolahan suara di otak mengalami keterlambatan pematangan.

"Gangguan pendengaran ini sangat mempengaruhi proses belajar. Anak membutuhkan upaya atau effort yang jauh lebih besar untuk sekadar mendengar, sehingga ia lebih cepat lelah dan kehilangan konsentrasi dibanding teman-temannya," jelas dr. Kihastanto dalam pesan diterima, Jumat (17/4/2026).

Lebih lanjut, dr. Kihastanto mengimbau para orang tua dan guru untuk peka terhadap perubahan perilaku anak yang mungkin menjadi indikasi awal. Tanda-tanda yang patut diwaspadai antara lain: anak sering tampak bingung di kelas, kerap bertanya ulang kepada teman mengenai penjelasan guru, sulit memusatkan perhatian dalam waktu lama, hingga perubahan sikap seperti menjadi lebih cuek atau sebaliknya, terlalu aktif karena mencari pelarian dari kebosanan mendengar.

Terkait pencegahan, pihak RSUD Jombang mendorong diadakannya skrining pendengaran berkala di sekolah dasar, terutama bagi siswa yang menunjukkan gejala-gejala mencurigakan. Selain itu, dr. Kihastanto menyoroti fenomena peningkatan kasus gangguan pendengaran akibat penggunaan perangkat audio pribadi (earphone atau headphone).

"Ini termasuk gangguan pendengaran akibat bising. Aturannya jelas, volume maksimal hanya 60 persen dan durasi mendengarkan tidak boleh lebih dari 60 menit. Jika terpaksa lebih lama, harus diistirahatkan setidaknya setengah jam sebelum digunakan lagi," tegasnya.

RSUD Jombang mengajak seluruh masyarakat, khususnya orang tua dan tenaga pendidik, untuk tidak menunda-nunda pemeriksaan jika mencurigai adanya penurunan fungsi pendengaran pada anak. 

"Jangan beranggapan nanti akan normal sendiri. Peran bapak ibu guru dan orang tua sangat vital. Jika diperlukan, kami siap melayani di Poli THT RSUD Jombang," tutup dr. Kihastanto. (***) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow