Ritual dan Tradisi Tandai Perayaan Malam Tahun Baru Imlek di Tulungagung
Di bawah cahaya lampion dan aroma dupa yang menguar, malam Imlek di klenteng itu bukan sekadar pergantian angka tahun. Ia menjadi ruang perjumpaan antara doa, tradisi, seni, dan harapan tentang rezeki yang lancar, kesehatan yang terjaga, serta kehidupan yang semakin rukun di tahun yang baru.
TULUNGAGUNG, SJP — Perayaan malam Tahun Baru Imlek di Klenteng Tjoe Tik Kiong Tulungagung, Senin (16/2/2026), berlangsung khidmat dengan rangkaian ibadah dan atraksi budaya. Sejak sore hari, umat Konghucu dan masyarakat Tionghoa mulai memadati area klenteng untuk melakukan prosesi pergantian tahun.
Ratusan umat terpantau hadir sejak pukul 16.00 WIB dengan membawa perlengkapan sembahyang. Mereka mengikuti ritual "melepas tahun" sebagai bentuk penghormatan terhadap tahun yang akan segera berlalu.
Pengurus Klenteng Tjoe Tik Kiong, Tjio Jing Jing, menjelaskan bahwa rangkaian ibadah dibagi dalam dua tahap utama.
"Kami melaksanakan sembahyang pukul 16.00 sore untuk melepas tahun yang lama. Nanti tepat pukul 00.00 WIB, akan dilanjutkan dengan sembahyang pembuka Tahun Baru Imlek," ujar Tjio.
Momen tengah malam tersebut merupakan puncak spiritual bagi umat untuk memanjatkan doa keselamatan dan keberuntungan. Tjio menambahkan, harapan utama pada tahun baru ini adalah kelancaran rezeki, kesehatan, serta usia yang panjang. Ia juga mencatat adanya peningkatan antusiasme umat dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain ritual ibadah, suasana diperiahkan dengan penampilan Barongsai di halaman dan area altar klenteng. Berbeda dengan pertunjukan di ruang publik, atraksi di dalam klenteng memiliki prosedur sakral yang ketat.
Ketua Tim Barongsai TITD Tjoe Tik Kiong, Abdurrahman Fauzi atau Ganang, menegaskan pentingnya tata krama dalam setiap gerakan. "Di dalam klenteng sifatnya lebih sakral. Kami harus melakukan penghormatan di depan altar terlebih dahulu sebagai bentuk izin secara spiritual sebelum memulai atraksi," jelas Ganang.
Tjio Jing Jing membenarkan prosedur tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada "tuan rumah" atau entitas spiritual di klenteng guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Ganang, yang telah bergabung sejak 2014, menyebutkan bahwa penampilan tahun ini cukup istimewa karena timnya sempat vakum pada perayaan sebelumnya. Meski persiapan tergolong singkat, hanya sekitar satu pekan, tim yang beranggotakan 10 hingga 12 personel tersebut tetap tampil maksimal.
Menariknya, tim Barongsai Tulungagung ini mengedepankan nilai inklusivitas. Ganang yang merupakan warga suku Jawa menegaskan bahwa kesenian ini terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis. Saat ini, pihaknya tengah membuka rekrutmen bagi masyarakat yang berminat melestarikan budaya tersebut.
Perayaan Imlek di Klenteng Tjoe Tik Kiong tahun ini menjadi potret harmonisasi lintas budaya di Tulungagung. Di bawah pendar lampion dan aroma dupa, malam pergantian tahun tersebut menjadi ruang pertemuan antara doa, tradisi, dan harapan kolektif akan kehidupan yang lebih baik. (*)
Editor: Syaiful Aries
What's Your Reaction?

