Riset Alumni UIN KHAS Jember Tembus Scopus Q1, Soroti Kesenjangan Hak Kerja Difabel

Secara mendalam, penelitian ini mengungkap masih lebarnya jurang pemisah antara jaminan hukum di atas kertas dengan implementasi kebijakan nyata di lapangan, khususnya dalam pemenuhan hak bekerja yang setara bagi kaum difabel.

07 Jul 2026 - 10:53
Riset Alumni UIN KHAS Jember Tembus Scopus Q1, Soroti Kesenjangan Hak Kerja Difabel
Abd Munib, Alumni UIN KHAS Jember yang risetnya tembus Jurnal Internasional Scopus Q1. (Ulum/SJP)

JEMBER, SJP–Riset kolaboratif lintas perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Jawa Timur sukses menembus jurnal internasional bereputasi tinggi terindeks Scopus Q1. Penelitian berskala internasional ini memotret persoalan krusial mengenai ketenagakerjaan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di Indonesia.

Tim peneliti dalam riset ini merupakan kolaborasi para akademisi papan atas, yaitu Himawan Estu Bagijo dari BRIDA Jawa Timur, Frans Sadewo dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Budi Raharjo dari Universitas Airlangga (Unair), Nunuk Nuswardani dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), serta Abd Munib dari STIDKI Al-Hamidiy Pamekasan yang juga merupakan alumni UIN KHAS Jember.

Secara mendalam, penelitian ini mengungkap masih lebarnya jurang pemisah antara jaminan hukum di atas kertas dengan implementasi kebijakan nyata di lapangan, khususnya dalam pemenuhan hak bekerja yang setara bagi kaum difabel.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski pemerintah telah menerbitkan regulasi kuat seperti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2020, pelaksanaannya masih jauh dari optimal.

Tim riset menemukan tiga hambatan utama di lapangan. Pertama rendahnya kepatuhan dunia usaha terhadap pemenuhan kuota tenaga kerja disabilitas. Kedua fasilitas pendukung yang belum memadai di lingkungan kerja dan ketiga stigma negatif yang masih melekat kuat terhadap pekerja disabilitas.

Sebagai solusi, penelitian tersebut menawarkan model rekonstruksi kebijakan baru berbasis maqashid al-syariah. Pendekatan ini menekankan implementasi kebijakan secara substantif dan terukur, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif formalitas, melainkan sistem yang benar-benar menjamin akses kerja yang inklusif dan bermartabat.

"Keberpihakan negara tidak boleh berhenti di atas teks regulasi. Ia harus hadir dalam praktik nyata, mulai dari proses rekrutmen, budaya kerja, hingga pengawasan yang tegas agar hak penyandang disabilitas benar-benar terpenuhi," tegas salah satu penulis riset, Abd Munib, melalui sambungan telepon pada Selasa (7/7/2026).

Riset ini tidak hanya memberikan kontribusi akademik di tingkat global, tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah untuk memperkuat langkah afirmatif, serta meningkatkan kepatuhan dunia usaha terhadap kuota pekerja disabilitas.

"Penelitian ini diharapkan bisa membangun ekosistem ketenagakerjaan yang bersinergi antara pemerintah dan sektor usaha maupun perguruan tinggi," lanjut Munib.

Salah satu sosok sentral dalam penulisan riset ini adalah Abd Munib. Lahir di Desa Sana Laok, Kecamatan Waru, kawasan paling utara Kabupaten Pamekasan pada 11 Februari 1995, Munib memulai perjalanan akademiknya di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.

Ia kemudian menyelesaikan studi magister pada bidang yang sama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini, ia tercatat sebagai akademisi di STIDKI Al-Hamidiy Pamekasan.

Sebagai peneliti, rekam jejak Munib terbilang cemerlang. Karya ilmiahnya telah banyak menghiasi jurnal nasional terakreditasi hingga jurnal internasional bereputasi, mulai dari terindeks SINTA 2, Jurnal University Malaya, hingga Scopus Q1. 

Ia bahkan pernah meraih penghargaan dalam kompetisi penulisan jurnal yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI).

Selain aktif di dunia akademik, pria yang mengidolakan Mahfud MD ini juga dikenal produktif membangun tradisi literasi publik. Tulisan-tulisan populernya kerap menghiasi berbagai media online dan cetak, mengulas isu komunikasi, dakwah, pendidikan, media digital, literasi, demokrasi, hingga dinamika sosial-keagamaan.

Melalui tulisan populer tersebut, ia berupaya menjembatani hasil penelitian akademik agar mudah diakses, dipahami, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas. Sebagai penulis, Munib juga telah menelurkan beberapa buku, di antaranya Sertifikasi Dai: Wacana dan Pro-Kontra Narasi serta Daya Tipu Tampilan Luar.

Bagi pria yang juga dikenal sebagai penggemar klub sepak bola Manchester United (MU) ini, penelitian kolaboratif lintas disiplin dan wilayah adalah instrumen penting untuk memperluas kepakaran, memperkuat jejaring akademik, serta menghasilkan kebijakan publik berbasis bukti (evidence-based policy).

"Saya berkomitmen untuk terus mengembangkan riset pada bidang komunikasi Islam, media digital, dakwah, literasi, demokrasi, disabilitas, dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence) dalam komunikasi," jelas Munib.

Ia meyakini bahwa riset, publikasi ilmiah, literasi publik, dan pengabdian masyarakat merupakan satu kesatuan utuh yang saling menguatkan dalam membangun peradaban manusia.

"Melalui kolaborasi dengan berbagai akademisi dan peneliti, saya berharap bisa melahirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui komitmennya pada ilmu pengetahuan, saya terus berikhtiar menghadirkan karya-karya yang berkontribusi bagi pengembangan peradaban manusia," pungkasnya. (***) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow