Minimalisir Kecelakaan, Tim PkM Polinema Pasang Cermin di Tikungan Pemukiman Kota Malang

Langkah ini diambil sebagai solusi konkret untuk mengatasi titik buta atau blind spot pada persimpangan jalan lingkungan yang kerap memicu potensi kecelakaan antarpengguna jalan.

07 Jul 2026 - 09:50
Minimalisir Kecelakaan, Tim PkM Polinema Pasang Cermin di Tikungan Pemukiman Kota Malang
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Program Studi Teknik Sipil Polinema bersama mitra memasang rambu lalu lintas lensa cembung di Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang. (Polinema for SJP)

MALANG, SJP–Keselamatan berlalu lintas tidak hanya menjadi prioritas di jalan raya nasional atau provinsi, melainkan juga di area pemukiman padat penduduk. Menyikapi hal tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengambil langkah nyata dengan memasang rambu lalu lintas lensa cembung (cermin tikungan) di wilayah RT 07 RW 09 Kelurahan Lowokwaru, Kota Malang.

Langkah ini diambil sebagai solusi konkret untuk mengatasi titik buta atau blind spot pada persimpangan jalan lingkungan yang kerap memicu potensi kecelakaan antarpengguna jalan.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Ir. Dwi Ratnaningsih, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa keselamatan di jalan lingkungan merupakan aspek penting karena berkaitan langsung dengan aktivitas harian warga.

"Keselamatan berlalu lintas tidak hanya menjadi perhatian di jalan raya, tetapi juga perlu diwujudkan pada jalan lingkungan yang setiap hari digunakan masyarakat untuk beraktivitas. Persimpangan dengan keterbatasan jarak pandang (blind spot) masih menjadi salah satu penyebab meningkatnya potensi konflik antarpengguna jalan," ujar Dwi Ratnaningsih saat diwawancarai. 

Program pengabdian masyarakat ini berjalan melalui beberapa tahapan sistematis guna memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran dan berdampak jangka panjang.

Sebelum menentukan bentuk solusi, Tim PkM Polinema terlebih dahulu menggelar ruang diskusi bersama Ketua RT dan warga setempat. Pertemuan ini bertujuan untuk menggali data primer mengenai kondisi lalu lintas pemukiman serta memetakan titik-titik rawan yang memiliki risiko kecelakaan tinggi akibat keterbatasan jarak pandang.

Menurut Dwi, pelibatan masyarakat sejak awal adalah kunci keberhasilan program ini. "Masukan dari masyarakat menjadi bahan penting dalam menentukan prioritas penanganan karena mereka merupakan pengguna jalan yang setiap hari melintasi kawasan tersebut. Pendekatan partisipatif ini juga bertujuan agar program yang dilaksanakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat. Kolaborasi sejak tahap awal menjadi fondasi penting dalam keberhasilan kegiatan pengabdian," jelasnya.

Menindaklanjuti hasil diskusi, tim teknis langsung turun ke lapangan untuk melakukan observasi mendalam. Survei ini meliputi analisis kondisi geometrik jalan, arah pergerakan kendaraan, hambatan pandangan (seperti dinding rumah atau pagar warga), serta karakteristik persimpangan.

Dari hasil survei objektif tersebut, tim menetapkan dua titik persimpangan dengan tingkat keterbatasan visibilitas paling parah untuk diprioritaskan sebagai lokasi pemasangan lensa cembung.

Memasuki tahap eksekusi, tim memastikan seluruh material dalam kondisi standar terbaik demi aspek keamanan jangka panjang. Seluruh komponen mulai dari tiang penyangga, dudukan, baut pengikat, hingga unit lensa cembung dipersiapkan secara presisi.

Proses penyiapan lahan dibantu penuh oleh warga setempat, mencerminkan kuatnya semangat gotong royong dalam menyukseskan program fasilitas publik ini.

Proses pemasangan dilakukan secara bertahap pada dua titik kritis yang telah ditentukan. Setelah tiang pancang berdiri kokoh, lensa cembung dipasang dengan penyetelan arah (alignment) yang disesuaikan dengan sudut datangnya kendaraan.

Tim kemudian melakukan pengujian (trial) visual dari berbagai sudut untuk memastikan area yang sebelumnya tertutup (blind spot) kini dapat terlihat jelas oleh pengendara yang akan melintas.

"Tahapan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemasangan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan rambu, tetapi juga oleh ketepatan posisi dan orientasinya terhadap kondisi lapangan. Dengan demikian, fungsi rambu sebagai alat bantu keselamatan dapat bekerja secara optimal," tambah Dwi.

Tidak sekadar menyerahkan bantuan fisik, Tim PkM Teknik Sipil Polinema juga memberikan edukasi singkat mengenai pentingnya budaya tertib lalu lintas di jalan lingkungan. Warga diingatkan bahwa cermin cembung hanyalah alat bantu visual, sementara faktor utama keselamatan tetap berada pada perilaku pengendara itu sendiri.

"Keberadaan lensa cembung bukanlah pengganti kewaspadaan, melainkan alat bantu yang dapat meningkatkan kemampuan pengendara dalam mengantisipasi kendaraan dari arah lain. Kesadaran untuk mengurangi kecepatan saat memasuki persimpangan dan saling menghormati sesama pengguna jalan tetap menjadi faktor utama dalam menciptakan lalu lintas yang aman," pungkasnya.

Pemasangan dua unit rambu lensa cembung ini mendapat apresiasi tinggi dari warga RT 07 RW 09 Kelurahan Lowokwaru. Kehadiran fasilitas keselamatan ini dinilai berhasil menjawab keresahan warga yang selama ini merasa waswas saat melewati persimpangan yang padat dan tertutup.

Melalui keterlibatan aktif dari tahap perencanaan hingga evaluasi, diharapkan muncul rasa kepemilikan yang kuat dari warga untuk bersama-sama merawat fasilitas ini demi kenyamanan dan keselamatan lingkungan secara berkelanjutan. (***) 

Editor: Syaiful Aries

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow